Advertisement
Ekonomi

Produksi Gula Nasional Diproyeksi Tembus 2,8 Juta Ton pada 2026

Indonesia berpeluang tidak lagi mengimpor gula konsumsi pada 2026. Optimisme itu muncul setelah produksi gula nasional tahun ini diproyeksikan mencapai 2,8 juta ton.

TIMES Indonesia,
Produksi Gula Nasional Diproyeksi Tembus 2,8 Juta Ton pada 2026
Pemberian bantuan alat pertanian dalam acara Panen dan Tanam Tebu Serentak Program Bongkar Ratoon Tebu bersama Gubernur Jawa Timur di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis (18/6/2026). (FOTO: Achmad Fikyansyah/TI)
A-AA+

MALANG Indonesia berpeluang tidak lagi mengimpor gula konsumsi pada 2026. Optimisme itu muncul setelah produksi gula nasional tahun ini diproyeksikan mencapai 2,8 juta ton. Hal tersebut disampaikan Direktur Operasional PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Kuntoro Boga Andri, saat menghadiri Panen dan Tanam Tebu Serentak Program Bongkar Ratoon Tebu bersama Gubernur Jawa Timur di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis (18/6/2026).

"Kami tentu ingin mengawal program swasembada gula. Tahun ini kami melakukan taksasi, jadi tahun ini produksi gula kita di angka sekitar 2,8 juta ton," ujar Kuntoro.

Advertisement

Menurut dia, capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi upaya pemerintah mewujudkan swasembada gula konsumsi yang selama ini menjadi salah satu agenda strategis nasional.

"Jadi 2,8 juta ton gula itu, ditambah carryover tahun lalu sekitar 200 ribu ton, insya Allah kita bisa memenuhi kebutuhan nasional untuk gula konsumsi sekitar 3 juta ton," katanya.

Jika target tersebut tercapai, Indonesia berpeluang besar menghentikan impor gula konsumsi yang selama ini masih dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Berarti kita tidak perlu impor gula konsumsi lagi. Itu yang akan kita kawal semua dan mudah-mudahan kita semua bisa mengawal, melakukan yang terbaik untuk para petani kita dan industri gula nasional kita," tegasnya.

Upaya mencapai swasembada gula tidak lepas dari peran Jawa Timur sebagai salah satu sentra tebu dan gula terbesar di Indonesia. Berbagai program peningkatan produksi terus digencarkan, salah satunya melalui Program Bongkar Ratoon atau peremajaan tanaman tebu dengan bibit unggul yang saat ini tengah dijalankan secara masif.

Advertisement

Kabupaten Malang menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus. Kecamatan Gondanglegi bahkan dikenal sebagai kawasan premium untuk budidaya tebu karena memiliki produktivitas yang tinggi.

Kuntoro menilai, keberhasilan swasembada gula bukan hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian di berbagai sektor.

Sebab, hasil panen petani akan masuk ke pabrik gula, diproses menjadi produk jadi, lalu menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak pihak.

"Karena apa pun juga produksi dari petani nanti akan menggerakkan ekonomi melalui pabrik gula, melalui industri gula yang ada di Jawa Timur dan secara keseluruhan," ujarnya.

Menurut Kuntoro, target swasembada gula tidak bisa dicapai oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara petani, pabrik gula, pemerintah daerah, pemerintah pusat, hingga lembaga pendukung lainnya.

Dengan kolaborasi yang kuat, ia optimistis Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan gula konsumsi secara mandiri, tetapi juga memperkuat daya saing industri gula nasional.

"Yang akan kita kawal adalah bagaimana seluruh proses ini berjalan baik, sehingga petani sejahtera dan industri gula nasional semakin kuat," pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Achmad Fikyansyah
PenulisAchmad FikyansyahSarjana Sastra Inggris (S.S) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bergabung ke TIMES Indonesia sejak Maret 2023. Meliput berbagai topik, utamanya pendidikan dan ekonomi.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia