Bupati Malang Ingin Gondanglegi Kembali Jadi Pusat Tebu Indonesia
Bupati Malang HM Sanusi mengungkapkan keinginannya untuk menjadikan Kabupaten Malang sebagai Pusat Tebu di Indonesia.
MALANG – Bupati Malang HM Sanusi mengungkapkan keinginannya untuk menjadikan Kabupaten Malang sebagai Pusat Tebu di Indonesia. Hal itu disampaikan di tengah upaya pemerintah mendorong peningkatan produktivitas dan rendemen tebu melalui Program Bongkar Ratoon yang digelar di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kamis (18/6/2026).
Menurut Sanusi, Kabupaten Malang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu daerah penghasil tebu terbaik di Indonesia. Dia mengklaim, sejak zaman kolonial Belanda, wilayah Gondanglegi dikenal sebagai kawasan unggulan untuk budidaya tebu karena tingkat kemanisannya yang tinggi.
Saya merindukan Kabupaten Malang jadi ikonnya tebu. Karena dulu Belanda milih untuk tanaman tebu itu terbaik adalah di Kabupaten Malang, khususnya Gondanglegi," ujar Sanusi.
a menuturkan, nama Gondanglegi sendiri memiliki filosofi yang erat kaitannya dengan kejayaan komoditas tebu di masa lalu
"Makanya namanya Gondanglegi yang artinya pusatnya kemanisan. Tapi sekarang sudah agak kecut karena harganya murah," katanya disambut tawa peserta yang hadir.
Sanusi mengungkapkan, luas areal tebu di Kabupaten Malang saat ini mencapai 48.168 hektare dengan total produksi sekitar 4,29 juta ton. Angka tersebut sebenarnya masih cukup besar, namun belum mampu mengembalikan kejayaan tebu seperti beberapa dekade lalu.
"Kalau zaman dulu saya jadi pengurus KUD itu 60 ribu hektare. Sekarang tinggal sekitar 48 ribu hektare," ujarnya.
Dengan luas wilayah Kabupaten Malang yang mencapai sekitar 350 ribu hektare, menurut Sanusi, masih terdapat peluang besar untuk meningkatkan luas tanam maupun produktivitas tebu.
Saat ini, rata-rata produksi tebu di Kabupaten Malang berada di angka 89,153 ton per hektare. Namun, Sanusi mengaku pernah merasakan masa ketika produktivitas tebu jauh lebih tinggi.
"Dulu tahun 70-an saya masih jadi petani. Itu rata-rata 250 ton per hektare di Panggungrejo. Tebunya tebu katesan sama biset," kenangnya.
Menurutnya, setelah varietas tebu berganti, produktivitas perlahan mengalami penurunan. Ia pun mengaku tidak mengetahui apakah varietas tebu legendaris tersebut masih dibudidayakan hingga sekarang.
Setelah ganti ini menurun. Tidak tahu sekarang biset sama katesan itu masih ada apa tidak," ujarnya.
elain produktivitas, Sanusi juga menyoroti penurunan rendemen tebu yang menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keuntungan petani.
Ia mengaku masih mengingat momen ketika rendemen tebu Kabupaten Malang mencapai angka yang sangat tinggi pada 2015 lalu
"Saya merindukan tahun 2015, waktu tebang tebu, rendemennya 12,8. Tapi tidak pernah terulang lagi, hanya sekali semasa hidup saya," katanya.
Saat ini, kata Sanusi, rendemen tebu di Kabupaten Malang masih berkisar di angka 7. Padahal beberapa daerah lain sudah mampu mencapai angka yang lebih tinggi.
"Tadi saya ngomong sama Ibu Gubernur, di Lampung sudah 13," ujarnya.
Karena itu, Sanusi berharap seluruh pihak mulai dari pemerintah, petani, pabrik gula hingga kalangan akademisi dapat berkolaborasi meningkatkan kualitas bibit, teknik budidaya, hingga efisiensi pengolahan di pabrik gula.
a optimistis Kabupaten Malang masih memiliki modal besar untuk kembali menjadi daerah penghasil tebu terbaik di Indonesia.
Potensi kita besar. Tinggal bagaimana semuanya bergerak bersama supaya kejayaan tebu Kabupaten Malang bisa kembali seperti dulu," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


