Advertisement
Ekonomi

Harga Minyak Dunia Turun, Mengapa Pertamax Belum Melandai?

Harga minyak dunia mulai turun pascameredanya konflik Iran-AS, namun harga Pertamax masih bertahan tinggi. Kementerian ESDM dan ekonom menjelaskan faktor-faktor yang membuat penurunan harga BBM non-subsidi tidak bisa terjadi secara instan.

TIMES Indonesia,
Harga Minyak Dunia Turun, Mengapa Pertamax Belum Melandai?
Antrean pengendara motor di SPBU kawasan Brantas, Kota Malang. (Foto: Rizky Kurniawan Pratama/TIMES Indonesia)
A-AA+

JAKARTA Turunnya harga minyak mentah dunia setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Iran versus Amerika Serikat-Israel memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: mengapa harga pertamax masih bertahan tinggi?

Pertanyaan tersebut semakin mengemuka karena pemerintah sendiri melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyatakan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada prinsipnya akan mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Namun, realitas di lapangan menunjukkan harga Pertamax belum mengalami koreksi signifikan meski harga energi global mulai bergerak turun.

Advertisement

Di sinilah muncul kesenjangan persepsi antara harapan konsumen dan mekanisme pembentukan harga BBM yang sesungguhnya.

ESDM: Jika Minyak Dunia Turun, Pertamax Pasti Menyesuaikan

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menegaskan bahwa harga BBM non-subsidi, termasuk Pertamax, ditetapkan berdasarkan harga keekonomian dan mengikuti perkembangan pasar energi global.

Menurutnya, ketika harga minyak mentah dunia mengalami penurunan, maka harga BBM non-subsidi juga memiliki peluang besar untuk turun.

"Nah apakah bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun," ujar Anggia di Auditorium Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (17/6/2026), mengutip Antaranews.com.

Pernyataan tersebut sebenarnya konsisten dengan mekanisme yang selama ini diterapkan pemerintah. Saat harga minyak dunia naik, badan usaha harus menyesuaikan harga jual agar tetap sesuai dengan biaya produksi dan pengadaan energi. Sebaliknya, ketika harga minyak turun, ruang untuk melakukan penyesuaian ke bawah juga terbuka.

Advertisement

Meski demikian, ESDM juga mengingatkan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara BBM subsidi dan non-subsidi. Pertalite dan Solar subsidi dijaga pemerintah melalui intervensi fiskal untuk melindungi daya beli masyarakat, sedangkan Pertamax, Dex Series, dan BBM non-subsidi lainnya lebih mengikuti mekanisme pasar.

Harga BBM Tidak Hanya Ditentukan Harga Minyak Mentah

Meski terdengar sederhana, hubungan antara harga minyak dunia dan harga Pertamax sebenarnya tidak bersifat langsung.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa harga yang dibayar konsumen di SPBU merupakan akumulasi dari berbagai komponen biaya, bukan hanya harga minyak mentah.

“Harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung, karena harga yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah semata, melainkan merupakan hasil gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar kawasan, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak,” kata Josua Pardede, Rabu (17/6/2026), mengutip Beritasatu.com.

Dengan kata lain, ketika harga minyak mentah turun dalam beberapa hari terakhir, dampaknya belum tentu langsung tercermin pada harga jual Pertamax.

Josua menjelaskan, perhitungan harga BBM di Indonesia menggunakan rata-rata periode tertentu, bukan berdasarkan fluktuasi harian. Karena itu, penurunan harga minyak dalam jangka pendek biasanya membutuhkan waktu sebelum benar-benar masuk ke dalam formula harga BBM.

Mengapa Pertamax Masih Terlihat Mahal?

Dari perspektif ekonomi energi, harga Pertamax saat ini justru belum sepenuhnya mencerminkan harga pasar yang sebenarnya.

Berdasarkan perhitungan Bank Permata, harga keekonomian Pertamax saat ini berada di kisaran Rp16.500 per liter. Sementara harga jual yang berlaku berada di level Rp16.250 per liter.

Artinya, Pertamax masih dijual sekitar Rp250 per liter di bawah harga keekonomian.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa meski harga minyak dunia mulai turun, dampak kenaikan yang terjadi beberapa bulan sebelumnya masih membekas dalam struktur biaya energi nasional.

Lonjakan harga minyak yang sempat melampaui asumsi APBN sebesar US$70 per barel, ditambah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, membuat biaya impor energi meningkat cukup tajam.

Dalam kondisi tersebut, kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dipandang sebagai langkah koreksi untuk mengurangi tekanan keuangan yang selama ini ditanggung Pertamina akibat penahanan harga.

"Jika harga Pertamax tetap ditahan di  Rp 12.300 terlalu lama, beban harus ditanggung Pertamina," ucap Josua.

Turun, Tapi Tidak Akan Kembali ke Rp12.300

Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyaki, menilai perdamaian Iran dan Amerika Serikat memang menjadi kabar baik bagi pasar energi global. Berkurangnya risiko gangguan pasokan minyak dunia berpotensi menekan harga minyak mentah dalam beberapa bulan ke depan.

Namun, menurutnya, masyarakat tidak seharusnya berharap harga Pertamax segera kembali ke level Rp12.300 per liter seperti beberapa waktu lalu.

"Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp 12.300 lagi tidak akan secepat itu," kata Yayan, masih dikutip dari Beritasatu.com.

Penurunan harga energi cenderung berlangsung bertahap. Dalam skenario normal, harga minyak dunia bisa terkoreksi sekitar 1 hingga 3 persen per hari dan bergerak turun selama beberapa bulan.

Selain itu, pasar masih menghadapi berbagai faktor ketidakpastian, mulai dari perkembangan geopolitik global hingga kebijakan produksi negara-negara penghasil minyak utama.

Yayan juga mengingatkan bahwa harga minyak Brent masih menjadi indikator penting yang harus dicermati. Jika tren pelemahan berlanjut hingga awal Juli 2026, ruang penurunan harga BBM non-subsidi akan semakin besar. Namun kondisi tersebut dapat berubah apabila permintaan energi kembali meningkat pada paruh kedua tahun ini.

Prospek Harga Pertamax ke Depan

Jika tren penurunan harga minyak dunia terus berlanjut dan stabilitas geopolitik global terjaga, peluang koreksi harga Pertamax terbuka lebar dalam beberapa bulan mendatang.

Kementerian ESDM telah memastikan bahwa mekanisme pasar memungkinkan penyesuaian harga BBM non-subsidi ke bawah ketika harga minyak mentah dunia turun. Namun, besaran dan waktu penurunannya akan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak global, nilai tukar rupiah, biaya distribusi, serta evaluasi harga keekonomian yang dilakukan secara berkala.

Bagi konsumen, kabar baiknya adalah ruang penurunan harga memang ada. Namun bagi pemerintah dan pelaku usaha energi, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara harga yang terjangkau bagi masyarakat dan keberlanjutan bisnis sektor energi di tengah volatilitas pasar global yang masih tinggi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ferry Agusta Satrio
PenulisFerry Agusta SatrioLulusan Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Bergabung dengan TIMES Indonesia pada 2015.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia