Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Wali Kota Hasto Ajak Warga Yogyakarta Beri Data Jujur
Pemkot Yogyakarta ajak warga sukseskan Sensus Ekonomi 2026. Data akurat dari usaha besar hingga rumah tangga jadi dasar kebijakan, didukung ribuan petugas dan teknologi AI.
YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta mengajak seluruh masyarakat untuk berperan aktif menyukseskan pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo meminta warga memberikan data yang akurat, lengkap, dan sesuai kondisi sebenarnya kepada petugas sensus agar menghasilkan gambaran ekonomi yang valid.
Ajakan tersebut disampaikan Hasto saat menghadiri pencanangan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 secara serentak yang digelar di kawasan Teras Malioboro. Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X serta Wakil Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia Sonny Harry Budiutomo Harmadi.
Menurut Hasto, Sensus Ekonomi merupakan agenda nasional yang memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan ekonomi Indonesia. Pendataan besar ini hanya dilakukan setiap 10 tahun sekali sehingga menjadi momentum penting bagi seluruh masyarakat untuk ikut berkontribusi.
“Sensus Ekonomi ini sangat penting karena hanya dilakukan satu kali dalam 10 tahun. Jika ada yang tidak tercatat, maka kesempatan berikutnya harus menunggu satu dekade lagi,” ujar Hasto, Sabtu (20/6/2026).
Ia menjelaskan, data yang dihimpun dalam Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar angka statistik, melainkan potret nyata aktivitas ekonomi masyarakat. Data tersebut akan digunakan sebagai dasar pemerintah dalam menyusun berbagai kebijakan, mulai dari pengembangan sektor usaha, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga perencanaan pembangunan daerah.
Hasto menilai kelengkapan data menjadi faktor utama dalam menentukan kualitas kebijakan yang akan dibuat. Menurutnya, semakin banyak aktivitas ekonomi masyarakat yang berhasil dicatat, semakin tepat pula pemerintah memahami kondisi ekonomi yang sebenarnya.
“Data yang tidak lengkap tentu akan membuat gambaran ekonomi menjadi kurang akurat. Karena itu kami mengajak masyarakat menerima petugas sensus dengan baik dan memberikan informasi sesuai kondisi yang ada,” katanya.
Tidak Hanya Usaha Besar, Aktivitas Ekonomi Rumah Tangga Juga Didata
Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Kali ini, pendataan tidak hanya menyasar pelaku usaha formal, tetapi juga berbagai aktivitas ekonomi yang berlangsung di tingkat keluarga.
Wakil Kepala BPS RI Sonny Harry Budiutomo Harmadi menjelaskan, banyak kegiatan ekonomi masyarakat yang selama ini belum masuk dalam pendataan karena tidak memiliki papan nama usaha, tempat usaha khusus, maupun promosi secara terbuka.
Padahal, aktivitas tersebut tetap memiliki kontribusi terhadap roda perekonomian daerah.
“Banyak usaha yang belum terdata sebelumnya karena tidak memiliki label atau promosi. Namun aktivitas ekonominya tetap berjalan dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian,” jelas Sonny.
Karena itu, Sensus Ekonomi 2026 akan mencatat lebih luas berbagai aktivitas ekonomi yang ada di masyarakat, termasuk yang dilakukan dari lingkungan rumah tangga.
Untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 melibatkan ribuan petugas lapangan. Sebanyak 4.082 petugas disiapkan untuk melakukan pendataan terhadap sekitar 606 ribu pelaku usaha di seluruh wilayah DIY.
Pendataan berlangsung mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026 dengan metode kunjungan langsung atau door to door. Petugas akan mendatangi rumah warga dan lokasi aktivitas ekonomi untuk memastikan seluruh data dapat tercatat dengan baik.
Sonny menegaskan, keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan sensus. Ia meminta warga tidak ragu memberikan informasi karena seluruh data yang dikumpulkan akan dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan statistik.
Sensus Ekonomi 2026 Manfaatkan Teknologi AI
Salah satu inovasi dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 adalah penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut digunakan untuk membantu meningkatkan kualitas data dan mendeteksi kemungkinan adanya kesalahan atau ketidaksesuaian informasi.
Menurut Sonny, pemanfaatan AI memungkinkan proses pemeriksaan data menjadi lebih cepat dan akurat sehingga potensi kesalahan dapat diminimalkan sejak awal.
“Sistem akan membantu mendeteksi anomali sehingga kualitas data menjadi lebih baik dan lebih akurat,” ujarnya.
Penggunaan teknologi ini menjadi bagian dari upaya modernisasi pendataan nasional agar hasil sensus mampu memberikan informasi yang lebih terpercaya bagi pemerintah maupun masyarakat.
Ekonomi DIY Tumbuh Kuat, Data Detail Dibutuhkan
Sonny menyebut Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu wilayah menarik dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Berdasarkan catatan pertumbuhan ekonomi tahun 2025, DIY mencatat pertumbuhan sebesar 5,49 persen dan menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di DIY berkembang cukup dinamis dengan berbagai sektor yang terus bergerak. Karena itu, dibutuhkan data yang lebih detail untuk mengetahui struktur ekonomi masyarakat secara menyeluruh.
Dengan adanya Sensus Ekonomi 2026, pemerintah berharap mampu mendapatkan gambaran lebih lengkap mengenai kondisi pelaku usaha, pola ekonomi masyarakat, hingga potensi pengembangan ekonomi ke depan.
Wali Kota Yogyakarta kembali mengingatkan bahwa keberhasilan sensus bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas lapangan. Dukungan masyarakat menjadi bagian penting agar hasil pendataan benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi Kota Yogyakarta.
“Semakin akurat data yang diberikan masyarakat, semakin tepat kebijakan yang dapat disusun pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan warga,” jelas Hasto. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


