Advertisement
Ekonomi

Bangun Bisnis dari Bangku Kuliah, Manawa Festival BINUS Jadi Jembatan Menuju Pasar Nyata

Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menguji ide bisnis, membangun jaringan, sekaligus mendapatkan masukan langsung dari masyarakat sebagai calon konsumen.

TIMES Indonesia,
Bangun Bisnis dari Bangku Kuliah, Manawa Festival BINUS Jadi Jembatan Menuju Pasar Nyata
Alif memberikan pemaparan kepada media perihal kegiatan Manawa Fest. 2026 yang telah menjadi ajang kreatif teman-teman mahasiswa berbisnis (FOTO: Djarot/TIMES Indonesia)
A-AA+

BANDUNG Di tengah meningkatnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia usaha, perguruan tinggi kini tidak hanya berperan sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi ruang lahirnya calon-calon pengusaha baru mengembangkan bisnis.

Salah satu upaya tersebut terlihat melalui penyelenggaraan Manawa Festival 2026 yang digelar BINUS University.

Advertisement

Memasuki tahun ke-9 penyelenggaraan, Manawa Festival berkembang menjadi lebih dari sekadar pameran produk mahasiswa.

Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menguji ide bisnis, membangun jaringan, sekaligus mendapatkan masukan langsung dari masyarakat sebagai calon konsumen.

Ketua Panitia Manawa Festival 2026, Alif, menjelaskan bahwa acara tersebut terbuka untuk umum dan dirancang sebagai sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa yang tengah mengembangkan usaha, Senin (22/06/2026).

Menurut dia, seluruh tenant yang hadir merupakan bisnis mahasiswa yang telah melalui proses kurasi dan dinyatakan layak untuk diperkenalkan kepada publik.

Sebelum tampil dalam festival, setiap usaha terlebih dahulu melewati tahapan penilaian kelayakan bisnis atau business readiness level yang diterapkan kampus.

Advertisement

“Tujuan utama kami sebenarnya agar mahasiswa mendapatkan feedback langsung dari masyarakat. Dari masukan itulah mereka bisa terus berinovasi dan menyempurnakan produk yang dimiliki,” ujar Alif.

Ia menilai kehadiran masyarakat memiliki peran penting dalam proses tersebut. Kritik, saran, maupun apresiasi dari pengunjung menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan pasar yang sesungguhnya.

Karena itu, Manawa Festival sengaja dibuka untuk publik agar terjadi interaksi langsung antara pelaku usaha muda dengan konsumen. Selain menjadi ajang promosi, kegiatan ini juga menjadi sarana membangun jejaring dan kolaborasi bisnis.

“Manawa adalah ruang silaturahmi dan membangun koneksi, khususnya di bidang bisnis. Kami berharap masyarakat dapat terus mendukung dan hadir pada penyelenggaraan berikutnya,” kata Alif.

Salah satu peserta yang menarik perhatian pengunjung adalah Lamonce Coffee, usaha kopi specialty asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang dirintis oleh mahasiswa BINUS, Evelina Loken.

Lamonce Coffee mengangkat kopi lokal Karo sebagai produk unggulan dengan kualitas specialty grade.

Nama 'Lamonce' sendiri berasal dari bahasa Karo yang berarti 'tidak goyah', sebuah filosofi yang mencerminkan semangat untuk terus bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri kopi yang semakin ketat.

Evelyna mengungkapkan usaha tersebut telah dirintis sejak 2018. Awalnya bisnis hanya menjual kopi dalam bentuk gabah, sebelum kemudian berkembang dengan memiliki fasilitas roasting sendiri dan melakukan rebranding pada 2021.

Saat ini Lamonce Coffee mampu memproduksi sekitar 100 kilogram kopi setiap bulan. Produk yang dipasarkan meliputi roasted beans maupun kopi bubuk yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Selain melayani konsumen individu, Lamonce juga memasok kebutuhan sejumlah resort dan coffee shop di kawasan Danau Toba.

Meski memiliki kualitas premium, perjalanan bisnis tersebut tidak selalu mudah. Evelyna mengaku tantangan terbesar justru berada pada aspek pemasaran dan edukasi pasar.

Menurut dia, masih banyak konsumen yang belum memahami perbedaan antara kopi specialty dengan kopi komersial pada umumnya. Akibatnya, nilai lebih yang dimiliki kopi specialty sering kali belum sepenuhnya diapresiasi.

“Yang paling sulit adalah menemukan pelanggan yang cocok dan memahami karakter specialty coffee. Saya merasa tantangan terbesar ada di marketing,” ujarnya.

Namun di balik tantangan tersebut, Lamonce Coffee membawa misi yang lebih besar. Evelyna berharap meningkatnya apresiasi terhadap kopi specialty Karo dapat berdampak langsung pada kesejahteraan petani kopi di daerah asalnya.

Ia menuturkan bahwa selama masa pandemi Covid-19, pihaknya bersama mitra usaha sempat menyalurkan bantuan sembako dan pupuk kepada sekitar 800 hingga 1.000 petani kopi di Kabupaten Karo sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan sektor pertanian kopi.

Tidak hanya Lamonce Coffee, berbagai tenant lain juga menampilkan beragam model usaha yang lahir dari kreativitas mahasiswa. Salah satunya bisnis jual beli dan servis telepon genggam yang dijalankan Michael Satyo.

Mahasiswa Creativepreneur BINUS tersebut mengembangkan usaha dengan mengombinasikan strategi pemasaran dari mulut ke mulut dan digital marketing melalui platform media sosial seperti Instagram dan TikTok.

Saat ini bisnisnya telah memiliki tiga toko fisik di Bandung dan mulai menjangkau pasar di luar kota.

Michael mengaku berbagai materi yang dipelajarinya di kampus, mulai dari digital marketing hingga kepemimpinan, memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan usaha yang dijalankannya.

Kisah para peserta tersebut menunjukkan bahwa kewirausahaan mahasiswa kini tidak lagi sebatas tugas akademik atau simulasi bisnis di ruang kelas.

Melalui Manawa Festival 2026, ide usaha diuji langsung di hadapan pasar dan mendapatkan kesempatan berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan.

Setelah sembilan tahun berjalan, Manawa Festival telah menjadi salah satu contoh bagaimana perguruan tinggi dapat membangun ekosistem kewirausahaan yang mempertemukan pendidikan, inovasi, dan kebutuhan pasar.

Di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah, langkah tersebut menjadi investasi penting dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Djarot Mediandoko
PenulisDjarot MediandokoSarjana Muda Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran (1994). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2022. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, , ekonomi bisnis, UMKM, sains, seni, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia