Harga Cabai Rawit di Pacitan Anjlok: Konsumen Senang, Petani Waswas
Harga cabai rawit di Pacitan anjlok dari hampir Rp100 ribu jadi Rp40 ribu/kg. Konsumen diuntungkan, namun petani resah karena harga panen ikut turun.
PACITAN – PACITAN – Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Pacitan anjlok dalam beberapa hari terakhir.
Jika sebelumnya sempat menyentuh hampir Rp100 ribu per kilogram, kini harga komoditas tersebut turun menjadi sekitar Rp40 ribu per kilogram.
Penurunan harga terpantau di Pasar Minulyo Pacitan pada Selasa (23/6/2026).
Kondisi ini disambut baik oleh konsumen karena dapat menekan pengeluaran rumah tangga. Namun di sisi lain, petani mulai khawatir karena harga jual hasil panen ikut merosot.
Pedagang Pasar Minulyo, Senok (43), mengatakan harga cabai rawit turun lebih dari 50 persen dibanding beberapa waktu lalu.
"Anjlok harganya. Kalau belinya sedikit ecerannya seperempat Rp10 ribu, tapi kalau beli skala besar bisa dikasih Rp8 ribu. Hari ini mulai turun," kata Senok.
Menurut dia, penurunan juga terjadi pada cabai keriting. Selain dipengaruhi daya beli masyarakat, melimpahnya pasokan dari petani membuat harga di tingkat pasar ikut tertekan.
Sementara itu, sejumlah komoditas sayuran justru mengalami kenaikan harga. Pedagang menyebut kondisi tersebut dipengaruhi mulai berkurangnya pasokan seiring masuknya musim kemarau.
"Keluarga sayur mayur terjadi pergerakan beragam. Wortel naik 0,39 persen," ujarnya.
Di sisi konsumen, turunnya harga cabai membawa angin segar. Salah seorang pembeli, Choirun Nisa (27), mengaku pengeluaran kebutuhan dapur menjadi lebih ringan dibanding saat harga cabai berada di level tinggi.
"Nah, kalau gini kan kebutuhan dapur sehari-hari menjadi lebih murah," katanya.
Berbeda dengan konsumen, petani cabai justru merasakan dampak sebaliknya. Salah seorang petani cabai di Pacitan, Aripianto (27), mengaku harga panen yang diterima petani ikut turun mengikuti kondisi pasar.
Menurutnya, petani tidak berharap harga cabai terlalu tinggi. Namun harga yang terlalu rendah juga membuat keuntungan petani berkurang.
"Harga jual panen ikut terdampak. Harapannya harga tetap stabil, biar sama-sama untung," katanya.
Ia menilai stabilitas harga menjadi kondisi yang paling ideal karena menguntungkan kedua belah pihak. Konsumen masih mampu membeli dengan harga terjangkau, sementara petani tetap memperoleh keuntungan yang layak dari hasil panen mereka.
Melimpahnya pasokan cabai pada musim panen saat ini diperkirakan menjadi salah satu penyebab utama turunnya harga.
Jika pasokan terus meningkat tanpa diimbangi permintaan yang cukup, harga cabai berpotensi tetap berada pada level rendah dalam beberapa waktu ke depan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


