Pakar: Pemadaman Bergilir di Jawa Dipicu Defisit Pasokan Batu Bara PLTU
Pemadaman listrik bergilir yang terjadi beberapa hari ini di Pulau Jawa dinilai mengganggu aktivitas masyarakat.
MALANG – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi beberapa hari ini di Pulau Jawa dinilai mengganggu aktivitas masyarakat. Selain itu, pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia yang mengatakan bahwa stok batu bara sebagai bahan baku listrik yang digunakan oleh PLN menurun, menyebabkan kekhawatiran masyarakat apabila aktivitas sehari-harinya terus terhambat.
Pakar Sistem Kelistrikan Politeknik Negeri Malang (Polinema), Irwan Heryanto Eryk menjelaskan bahwa pemadaman bergilir terjadi siang hari karena pemasok utama adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbasis batu bara. Lanjutnya, PLTU dalam melayani beban dasar (baseload) terjadi pada pukul 22.00 atau 00.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.
“Nah itu semuanya rata satu Indonesia disuplai oleh batubara melalui PLTU, jadi pemadaman bergilir terjadi siang karena memang base loadnya pukul segitu,” ujarnya kepada TIMES Indonesia, Selasa (23/6/2026).
Saat ini, kata dia, Indonesia sedang mengalami defisit energi sejak pertengahan Juni 2026. Hal itu terjadi karena pihak operator pembangkit yang dibawahi oleh PLN ataupun swasta mengaku cadangan batubara hanya mampu meng-cover 10 hingga 12 hari saja. Seharusnya, cadangan tersebut mampu untuk 20 hari.
“Jadi ini sudah defisit energi ya, contohnya di Malang sekarang ada 800 megawatt, nah yang tersedia hanya 700 megawatt, dan semuanya bersumber dari batu bara,” ujarnya.
Akibat keterbatasan pasokan tersebut, operator pembangkit membatasi beban tersebut melalui pemadaman bergilir di beberapa wilayah. Secara sengaja, mereka harus melakukan pemadaman demi menjaga stabilitas kelistrikan nasional. Eryk melanjutkan apabila hal ini tidak dilakukan, maka dikhawatirkan akan terjadi blackout (mati total) di Pulau Jawa.
“Dari beban itu, terpaksa harus ada yang dimatikan untuk mengurangi beban (load shedding), jika tidak maka pembangkit akan padam dan Jawa akan mengalami blackout seperti Sumatera kemarin,” ucapnya.
Selanjutnya, ia juga menyoroti statement Bahlil terkait “stok batu bara aman hingga akhir tahun 2026”. Menurutnya, perkataan tersebut ada benarnya karena Indonesia memiliki kekayaan alam batubara yang sangat melimpah. Namun, ketersediaan batubara di tingkat produsen belum tentu menjamin pasokan ke pembangkit apabila terdapat kendala dalam mekanisme pengadaan.
Ia pun mendorong adanya evaluasi terhadap regulasi pengadaan batu bara untuk sektor kelistrikan agar mampu menjamin keberlanjutan pasokan energi nasional.
“Kalau dibilang stoknya aman sih ya emang aman, karena batubara kita sangat melimpah, tetapi pak Bahlil bisa menyerap itu semua ga?, karena banyak produsen yang harus menjual murah batubara mereka ke pemerintah,” ujarnya.
Eryk menjelaskan, meskipun Malang Raya memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di bendungan Karangkates, nyatanya hal tersebut tidak mampu untuk membackup pasokan listrik penduduk Malang.
PLTA, kata dia, hanya bisa memasok sekitar 5 hingga 6 jam dan tidak dapat lebih dari itu. Sehingga, kekuatan paling aman dan menjamin terletak pada batubara. Selain itu, pasokan energi di Malang juga masih mendapat pasokan dari PLTU Paiton. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


