BNI dan Transformasi Keuangan Digital di Jantung Pasar Tradisional
Digitalisasi Pasar Sawojajar Kota Malang melalui QRIS BNI menghadirkan wajah baru pasar tradisional yang lebih modern, bersih, nyaman, dan semakin ramah bagi generasi cashless.
MALANG – Barcode QRIS BNI terlihat mencolok di hampir setiap sudut Pasar Sawojajar, Kota Malang. Ada yang ditempel di dinding dengan pelindung plastik bening, ada yang digantung di bagian depan lapak, dan sebagian lainnya berdiri di atas meja menggunakan penyangga akrilik agar mudah dijangkau pembeli.
Pemandangan tersebut menjadi hal pertama yang menarik perhatian ketika memasuki pasar yang berada di Kecamatan Kedungkandang itu. Sebab, tidak banyak pasar tradisional yang seluruh kiosnya telah menyediakan layanan pembayaran non-tunai.
Di Pasar Sawojajar, seluruh pedagang telah akrab dengan transaksi digital. Padahal, mayoritas pedagang di pasar ini bukanlah generasi yang tumbuh bersama internet atau telepon pintar.
Mereka adalah ibu-ibu dan bapak-bapak yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari aktivitas jual beli di pasar. Dari total 172 bedak yang tersedia, tak lebih dari seperlimanya ditempati pedagang berusia di bawah 40 tahun. Selebihnya merupakan generasi yang terbiasa dengan tradisi tawar-menawar, menghitung uang dengan jemari yang lincah, hingga menyimpan hasil dagangan di laci kayu atau kaleng kecil di bawah meja.
Suasana pasar pun masih terasa sangat tradisional. Obrolan antara pedagang dan pembeli terdengar di hampir setiap lorong. Tawar-menawar harga tetap menjadi bagian dari keseharian. Aneka bumbu dapur, sayuran segar, ikan, daging, hingga jajanan pasar berjajar memenuhi kios-kios yang ada.
Di situlah letak menariknya. Transformasi digital di Pasar Sawojajar berlangsung secara alami.
Tidak ada tradisi yang dihilangkan. Tidak ada identitas pasar rakyat yang ditinggalkan. Justru sebaliknya, tradisi lama dan teknologi modern berjalan berdampingan.
Pengunjung masih dapat menikmati suasana pasar tradisional yang hangat dan akrab, namun dengan kemudahan transaksi yang lebih modern.
Perubahan itu juga tampak dari wajah fisik pasar. Tak ada lantai becek yang membuat pengunjung harus melangkah hati-hati. Tak terlihat tumpukan sampah di sudut lorong. Aroma menyengat yang selama bertahun-tahun identik dengan pasar rakyat pun nyaris tak terasa.
Lorong-lorong pasar tampak lega dan tertata rapi. Lantai berwarna hitam mengilap memantulkan cahaya matahari yang masuk dari sela-sela atap. Kios-kios berdiri berjejer dengan papan nama yang seragam sehingga memudahkan pengunjung menemukan toko yang dicari.
Di salah satu sudut, seorang ibu paruh baya sibuk menimbang jeruk. Di sisi lain, seorang bapak berambut memutih melayani pembeli daging ayam sambil sesekali berbincang santai. Semuanya terlihat sederhana. Namun bagi pasar tradisional, perubahan tersebut sesungguhnya sangat besar.
Selama puluhan tahun, uang tunai menjadi denyut utama perdagangan pasar rakyat. Pedagang terbiasa menghitung lembar demi lembar uang, menyiapkan uang kembalian, hingga mencatat utang pelanggan di secarik kertas.
Kini kebiasaan itu perlahan berubah. Di Pasar Sawojajar, pembeli dapat membeli ayam, cabai, buah, hingga berbagai kebutuhan dapur hanya dengan memindai kode QR melalui telepon genggam.
Tidak ada lagi kekhawatiran kekurangan uang tunai. Tidak ada pula pedagang yang sibuk mencari uang kembalian karena nominal pembayaran tidak pas.
Dari Keraguan Menjadi Kebiasaan
Salah satu yang merasakan perubahan tersebut adalah Tutik (59). Di samping deretan pepaya, melon, semangka, pisang, dan aneka buah segar yang dipajang di depan kiosnya, sebuah barcode QRIS menempel di sisi kanan dinding. Letaknya sengaja dibuat mencolok agar mudah terlihat pembeli.
Beberapa tahun lalu, pemandangan seperti itu tak pernah ia bayangkan.
"Kalau sekarang sudah biasa yang bayar pakai QRIS. Kebanyakan memang anak muda," ujarnya.
Saat transaksi digital mulai diperkenalkan, banyak pedagang yang masih ragu. Sebagian takut salah menggunakan aplikasi, khawatir uang tidak masuk, bahkan menganggap teknologi terlalu rumit untuk dipelajari.
Tutik yang telah belasan tahun berjualan di Pasar Sawojajar mengaku pernah merasakan kekhawatiran serupa.
"Banyak yang belum paham. Takut uangnya hilang atau tidak masuk. Saya juga begitu," katanya.
Namun perlahan, keraguan itu berubah menjadi kebiasaan.
Perubahan tersebut tidak lepas dari dorongan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. Melalui program digitalisasi pasar, BNI menghadirkan layanan QRIS di seluruh kios Pasar Sawojajar. Tidak hanya menyediakan sarana pembayaran non-tunai, BNI juga melakukan edukasi dan pendampingan kepada para pedagang agar lebih percaya diri memanfaatkan teknologi tersebut.
Kini, sekitar separuh transaksi di kios buah milik Tutik dilakukan secara non-tunai.
"Sekarang sangat terbantu dengan adanya QRIS ini," ujarnya.
Menarik Generasi Muda Kembali ke Pasar
Bagi para pedagang, QRIS bukan sekadar alat pembayaran. Kehadirannya menjadi jembatan yang mempertemukan pasar tradisional dengan generasi baru.
Hal itu diakui Ilmi Ariyanti (29), warga Kota Malang yang menjadi salah satu pelanggan Pasar Sawojajar.
Menurutnya, pasar tradisional selalu menjadi pilihan karena harga lebih murah, bahan pangan lebih segar, dan pilihan barang lebih beragam.
Namun kebiasaan tidak membawa banyak uang tunai sempat menjadi kekhawatiran tersendiri ketika berbelanja di pasar.
"Kalau dulu ke pasar itu takut uang cash yang dibawa kurang. Karena jarang ada yang bisa transaksi non-tunai," katanya.
Kini kekhawatiran itu hilang. Ia bisa membeli ayam, buah, hingga berbagai kebutuhan dapur hanya dengan memindai barcode dari telepon genggamnya.
"Belum banyak pasar yang seperti Sawojajar ini. Menurut saya adanya QRIS di setiap toko sangat membantu dan memudahkan," ujarnya.
Membangun Ekosistem Pasar Modern
Transformasi yang terjadi di Pasar Sawojajar merupakan bagian dari perubahan besar di Indonesia.
Data Bank Indonesia menunjukkan, hingga Semester I 2025 QRIS telah digunakan oleh 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant. Lebih dari 93 persen merchant berasal dari sektor UMKM, dengan nilai transaksi mencapai Rp579 triliun.
Regional CEO BNI Wilayah 18, Soesetyo Priharjanto, mengatakan pasar tradisional memiliki peran penting dalam perekonomian daerah. Karena itu, BNI berkomitmen menghadirkan berbagai inovasi untuk mendukung kemajuan pasar rakyat melalui digitalisasi transaksi.
"Pasar tradisional memiliki potensi besar. Melalui program ini, kami ingin menghadirkan kemudahan transaksi, meningkatkan transparansi, serta mendorong penggunaan sistem pembayaran non-tunai melalui QRIS," ujarnya.
Namun yang sebenarnya dibangun BNI bukan sekadar sistem pembayaran.
BNI juga membantu pembaruan papan nama kios agar lebih rapi dan mudah dikenali. Sejumlah fasilitas pendukung seperti troli, keranjang belanja, hingga stasiun pengisian air minum turut disediakan untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat.
Langkah tersebut sekaligus mendukung terciptanya lingkungan pasar yang lebih bersih dan sehat.
Pasar yang nyaman membuat pengunjung lebih betah. Semakin banyak pengunjung, semakin besar peluang transaksi. Dan ketika transaksi menjadi lebih mudah dilakukan, peluang peningkatan omzet bagi pedagang pun ikut terbuka.
Di usia ke-80 tahun, BNI memahami bahwa transformasi digital tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit.
"Ini salah satu peran kami agar lebih bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus mendukung proses digitalisasi yang digaungkan oleh Bank Indonesia," kata Soesetyo.
Di Pasar Sawojajar, transformasi itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana, yakni selembar barcode QRIS yang tergantung di depan lapak sayur, kios buah, hingga penjual ayam potong.
Namun di balik kesederhanaan tersebut, tersimpan perubahan perilaku yang jauh lebih besar.
Para pedagang yang dahulu takut menyentuh teknologi kini terbiasa menerima pembayaran digital. Para pembeli yang telah hidup secara cashless pun tidak lagi ragu berbelanja di pasar tradisional.
"Tujuan kami adalah mendorong penggunaan transaksi cashless, tidak hanya di pasar, tetapi juga di seluruh pelaku UMKM di Kota Malang," pungkasnya.
Dari lorong-lorong pasar yang bersih, tertata, dan semakin modern itu, transformasi digital Indonesia ternyata tidak hanya tumbuh dari gedung-gedung tinggi atau pusat bisnis perkotaan.
Ia tumbuh dari pasar rakyat. Dari tempat para ibu membeli cabai. Dari kios buah milik Tutik. Dari tangan-tangan sederhana yang memilih terus belajar agar tidak tertinggal oleh perubahan zaman. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


