Perkuat Edukasi Fintech, AFPI Lakukan Kunjungan ke TIMES Indonesia
Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) melakukan media visit ke TIMES Indonesia pada Kamis, (25/6/2926) di Kantor Redaksi TIMES Indonesia.
MALANG – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) melakukan media visit ke TIMES Indonesia pada Kamis, (25/6/2926) di Kantor Redaksi TIMES Indonesia. Kegiatan kolaboratif ini dilakukan untuk memperluas jejaring sekaligus ruang edukasi terkait fintech kepada masyarakat.
Wakil Pimpinan Redaksi Times Indonesia, Wahyu Nurdiyanto menyambut hangat kedatangan tim AFPI. Ia menjelaskan bahwa sebagai masyarakat awam, memang penting untuk mendapatkan edukasi terkait literasi keuangan, terutama dalam hal financial technology (Fintech).
“Sebagai masyarakat kami masih awam terkait fintech, memang dibutuhkan edukasi dan insight baru terkait hal ini, saya harap kegiatan ini bisa menjadi pertemuan yang hangat dan membawa informatif,” jelasnya.
Sementara itu, perwakilan AFPI, Laila, menyampaikan terima kasihnya atas kesempatan dan sambutan dari TIMES Indonesia. Ia menjelaskan bahwa kedatangan tim AFPI kepada media lokal melalui program “Pindar Mengajar” sebagai bentuk edukasi literasi finansial kepada masyarakat.
“Jadi media visit kami kali ini memang ingin berkenalan dengan teman-teman daerah, dan kegiatan ini kami rutin laksanakan untuk memberikan edukasi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa media menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Sehingga, perlu dilakukan kunjungan khusus terhadap media terkait hal ini. Selain media visit, Laila menambahkan pihaknya juga berkunjung ke universitas.
“Media sebagai sumber informasi utama masyarakat, sehingga kita juga perlu menyampaikan pesan ini,” tambahnya.
Ketua I Bidang Advokasi dan Eksternal Affair AFPI, Cyntia menjelaskan bahwa 94 platform yang dibawahi oleh AFPI dibagi menjadi tiga kluster, yaitu klaster multiguna, profuktif, dan syariah.
Klaster multiguna, jelasnya, yaitu platform pinjaman untuk kebutuhan dana darurat dimana dana akan cair lebih cepat.
“Multiguna ini biasanya untuk dana darurat, jadi lebih cepat, contohnya kayak cash loan, payday loan,” jelasnya.
Selanjutnya, klaster produktif yaitu untuk pembiayaan usaha dan pengrmbangan bisnis. Dan untuk klaster syariah memiliki konsep yang sama dengan kluster produktif, hanya saja skemanya berbasis syariah.
Cyntia juga menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar industri fintech lending saat ini adalah maraknya pinjaman online ilegal yang kerap disamakan dengan platform berizin. Untuk itu, AFPI bersama OJK melakukan rebranding istilah dari “pinjol” menjadi Pindar (Pinjaman Daring) sejak 2025.
Dalam sesi diskusi, Sementara itu, Pimpinan Redaksi TIMES Indonesia, Yatimul Ainun menyoroti pentingnya edukasi terkait pengelolaan keuangan, terutama di kalangan generasi muda. Menurutnya, persoalan keuangan kerap menjadi salah satu pemicu masalah psikologis, termasuk di lingkungan mahasiswa.
“Banyak persoalan mahasiswa itu terkendala dana, akhirnya mereka melakukan pinjol, lalu gabisa bayar, stress dan berpengaruh ke kesehatan mentalnya,” tambahnya.
Ia pun menegaskan bahwa media berperan penting dalam literasi masyarakat. Sehingga melalui kolaborasi ini, ia berharap dapat memberikan edukasi publik mengenai keuangan digital.
Melalui kolaborasi dengan media, AFPI berharap pemahaman masyarakat terhadap layanan pinjaman daring yang legal dapat semakin meningkat, sekaligus mendorong terciptanya ekosistem fintech yang sehat, aman, dan bertanggung jawab di Indonesia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


