Advertisement
Ekonomi

Riset BRIN: Tanaman Aren Berpotensi Besar Jadi Sumber Bioetanol Nasional

Peneliti BRIN menilai tanaman aren berpotensi besar menjadi sumber bioetanol nasional karena produktivitasnya tinggi, minim proses kompleks, dan memiliki angka oktan 108.

TIMES Indonesia,
Riset BRIN: Tanaman Aren Berpotensi Besar Jadi Sumber Bioetanol Nasional
Warga memanen air nira (Arenga pinnata) yang tumbuh liar di Ulee Kareng, Banda Aceh, Aceh, Jumat (15/5/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/kye)
A-AA+

JAKARTA Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai tanaman aren (Arenga pinnata) memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sumber bioetanol nasional. Selain produktivitasnya yang berkelanjutan, tanaman ini relatif mudah diolah dan mampu tumbuh dengan baik di lahan marginal.

Peneliti Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Saptadi Darmawan, menjelaskan bahwa nira aren merupakan bahan baku bioetanol yang sangat potensial karena memiliki kandungan sukrosa, glukosa, dan fruktosa yang tinggi.

Advertisement

Berbeda dengan bioetanol berbahan dasar pati atau biomassa kayu yang membutuhkan proses pengolahan kompleks, bioetanol dari nira aren jauh lebih sederhana. Proses produksinya hanya memerlukan tahapan fermentasi dan penyulingan langsung.

Selain kemudahan proses, bioetanol berbasis aren ini diklaim memiliki angka oktan sekitar 108, lebih tinggi daripada bahan bakar bensin beroktan tinggi yang ada di pasaran saat ini. Pohon aren juga memiliki masa produktif yang panjang karena mampu menghasilkan nira hingga kurun waktu 20 tahun.

"Nilai ekonominya cukup bagus. Sifatnya juga terbarukan,” ujar Saptadi dalam diskusi bersama wartawan di Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan, Bogor, Jawa Barat, Jumat (26/6/2026).

Kelebihan Ekologis dan Tantangan Pengembangan

Saptadi menambahkan, aren sangat ideal dikembangkan di lahan marginal atau lahan yang kurang produktif untuk sektor pertanian. Dengan demikian, pembudidayaannya tidak akan merebut lahan komoditas pangan utama.

Dari sisi ekologis, tanaman aren berkontribusi nyata terhadap konservasi lingkungan. Sistem perakarannya yang kokoh mampu mengikat tanah dan air secara efektif, sehingga dapat mengurangi risiko erosi di lahan miring sekaligus menghasilkan nektar yang menjadi sumber pakan koloni lebah.

Advertisement

Meski potensinya menjanjikan, Saptadi tidak menampik adanya sejumlah tantangan dalam pengembangan bioetanol aren. Saat ini, standardisasi kualitas bahan baku dan proses produksi dinilai masih perlu ditingkatkan. Di beberapa wilayah, pemanfaatan nira aren sebagai bahan baku bioetanol juga harus bersaing dengan produksi minuman beralkohol tradisional yang memiliki nilai ekonomi lokal lebih tinggi.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pemisahan regulasi pemanfaatan komoditas ini. Pengelolaan aren untuk kebutuhan pangan tetap dapat dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Sementara itu, pemanfaatan aren untuk sektor energi memerlukan kawasan budidaya khusus dalam skala ekonomi yang besar agar pasokan nira tetap terjaga.

"Untuk pengembangannya kita harus membuat dua klaster, yaitu aren untuk pangan dan aren untuk energi. Kalau tidak dipisahkan, pengembangannya tidak akan berjalan dengan lancar," tegasnya.

Analisis Keekonomian dan Tren Penurunan Lahan

Berdasarkan hasil kajian tim riset BRIN, usaha pembuatan bioetanol aren sangat layak dikembangkan dalam skala koperasi maupun industri kecil dan menengah (IKM). Hasil hitung-hitungan menunjukkan Harga Pokok Produksi (HPP) bioetanol aren berkisar antara Rp8.500 hingga Rp10.000 per liter. Dengan estimasi harga jual di angka Rp14.000 hingga Rp16.000 per liter, margin kotor yang didapat pelaku usaha diperkirakan bisa mencapai 35–45 persen.

Nilai tambah industri ini juga dapat didongkrak melalui pemanfaatan seluruh bagian pohon aren secara terintegrasi (zero waste). Selain nira, buahnya dapat dijual menjadi kolang-kaling, ijuknya diserap oleh sektor industri, dan limbah produksinya dapat diolah kembali menjadi biopelet atau biobriket aren.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebaran tanaman aren di Indonesia berpusat di Jawa Barat sebagai provinsi dengan areal terluas, disusul oleh Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.

Namun, Saptadi memberikan catatan kritis mengenai tren penyusutan lahan aren di tanah air. Data BPS merekam luas areal tanaman aren menyusut dari 64.544 hektare pada tahun 2019 menjadi 60.557 hektare pada tahun 2023.

Dampaknya, angka produksi nasional ikut merosot dari puncaknya sebesar 107.415 ton pada tahun 2021 menjadi 100.273 ton pada tahun 2023. Pada periode yang sama, angka produktivitas lahan juga turun tipis dari 2,8 ton per hektare menjadi 2,7 ton per hektare. Kondisi penurunan ini dinilai memerlukan perhatian serius dari pemerintah jika ingin menyeriusi aren sebagai pilar bioetanol nasional.

Proyek Percontohan di Garut

Sebagai langkah konkret pengembangan bioenergi nasional berbasis komoditas ini, Kementerian Kehutanan sebenarnya telah meresmikan proyek percontohan (Pilot Project) Bioethanol Aren di kawasan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Kamojang, Garut, Jawa Barat, pada Desember 2025 lalu.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat peresmian menyampaikan bahwa proyek tersebut menjadi tonggak penting dalam mempercepat pemenuhan pasokan bioenergi hijau, sejalan dengan agenda transisi energi bersih yang diusung pemerintah. Menurutnya, karakteristik aren yang adaptif di kawasan hutan dan lahan berlereng menjadikannya penopang energi yang ideal.

Fasilitas percontohan di Garut tersebut memanfaatkan pasokan nira aren dari Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Baru Bojong di Desa Bojong. Saat ini, kapasitas produksinya dirancang mencapai 300 liter bioetanol per hari, dengan kebutuhan bahan baku sekitar 300–500 kilogram nira aren setiap harinya. Kementerian Kehutanan memperkirakan, satu hektare lahan tanaman aren yang dikelola optimal mampu memproduksi sekitar 24.000 liter bioetanol per tahun. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Antara
PenulisAntaraANTARA adalah kantor berita nasional Indonesia yang menyebarluaskan informasi tentang berbagai peristiwa penting di dalam dan luar negeri.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia