Advertisement
Ekonomi

Kementan Kebut Cetak 2.000 Ha Sawah Papua Pegunungan untuk Benteng Pangan

Kementan mempercepat cetak 2.000 ha sawah di Papua Pegunungan untuk memperkuat ketahanan pangan, menggandeng masyarakat adat dan petani sebagai motor sentra produksi pangan baru.

TIMES Indonesia,
Kementan Kebut Cetak 2.000 Ha Sawah Papua Pegunungan untuk Benteng Pangan
Foto Udara - Suasana panen padi menggunakan alat dan mesin pertanian (alsintan) di lahan persawahan.(Foto: ANTARA/HO-Kementan)
A-AA+

JAKARTA Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat program cetak sawah seluas 2.000 hektare di Papua Pegunungan pada 2026. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan kawasan tersebut sekaligus menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional.

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Hermanto, menegaskan bahwa pengembangan sawah di Papua Pegunungan menjadi wujud konkret upaya pemerintah membuka sentra produksi pangan baru, sembari mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Advertisement

“Saya melihat luar biasa semangat mama-mama dan kakak-kakak semua dalam mengelola sawah. Program cetak sawah yang dijalankan pemerintah saat ini sejatinya lahir dari masyarakat dan kembali untuk masyarakat,” ujar Hermanto saat menghadiri kegiatan tanam perdana di Wamena, sebagaimana disampaikan dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (27/6/2026)

Kementan terus memperluas pengembangan lahan pertanian melalui program cetak sawah di Papua Pegunungan yang ditargetkan mencapai total 2.000 ha pada 2026.

"Upaya ini menjadi langkah strategis memperkuat ketahanan pangan nasional," ujarnya.

Komitmen tersebut ditandai dengan pelaksanaan tanam padi perdana di Kampung Perabaga, Distrik Piramid, Kabupaten Jayawijaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari percepatan program cetak sawah yang dilaksanakan Kementerian Pertanian di Provinsi Papua Pegunungan seluas 1.910 ha.

Ia menegaskan seluruh tahapan pelaksanaan program dilakukan melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat adat dan menghormati hak ulayat yang berlaku.

Advertisement

“Tidak ada perampasan atau pengambilalihan hak ulayat. Semua yang kita kerjakan sudah disepakati bersama oleh tokoh adat, masyarakat adat, dan petani semua,” katanya menegaskan.

Menurut Hermanto, program cetak sawah di Papua Pegunungan merupakan kelanjutan dari keberhasilan pengembangan lahan sawah seluas 90 ha yang telah diselesaikan sebelumnya. Capaian tersebut menjadi fondasi penting untuk memperluas areal sawah hingga total 2.000 ha pada tahun ini.

“Sekarang baru 90 hektare yang sudah selesai. Tahun ini kita lanjutkan cetak sawah di Papua Pegunungan seluas 1.910 hektare. Jadi 90 tambah 1.910, menjadi 2.000 hektare kita selesaikan tahun 2026 ini,” katanya pula.

Untuk memastikan keberlanjutan usaha tani, Kementan juga menyiapkan berbagai dukungan produksi mulai dari benih padi unggul, pupuk dolomit, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga subsidi bahan bakar minyak (BBM) bagi petani penggarap.

“Khusus untuk Papua Pegunungan ini, kita berikan prioritas untuk bisa membangun pertaniannya, terutama pangannya. Makanya saya sampai dua kali datang ke sini dalam waktu sebulan. Mungkin nanti saya akan sering datang ke sini,” ujarnya lagi.

Hermanto berharap lahan sawah yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh kelompok tani dan masyarakat, sehingga mampu meningkatkan produksi pangan sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.

“Tolong dijaga sawahnya supaya sawah ini terus dimanfaatkan. Jangan ditinggalkan. Dengan punya sawah, ini bisa memperbaiki kehidupan kita saat ini maupun ke depan dan memberikan masa depan kepada anak cucu kita semua,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pengembangan sawah baru di Papua merupakan visi besar pemerintah untuk mewujudkan kemandirian pangan di seluruh wilayah Indonesia.

Menurutnya, Papua memiliki potensi besar untuk menjadi sentra produksi pangan baru yang mampu memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri.

“Mimpi kita adalah seluruh pulau di Indonesia swasembada pangan. Dengan begitu, tidak perlu lagi pengangkutan pangan antarpulau. Ini adalah solusi permanen untuk mengatasi persoalan inflasi,” kata Amran. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Antara
PenulisAntaraANTARA adalah kantor berita nasional Indonesia yang menyebarluaskan informasi tentang berbagai peristiwa penting di dalam dan luar negeri.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia