Advertisement
Ekonomi

Harga Kopi Arabika Temanggung Tembus Rp22 Ribu per Kilogram

Produksi kopi arabika di Temanggung tahun 2026 diprediksi turun hingga 60% akibat cuaca ekstrem. Namun, harga jual di tingkat petani justru melonjak hingga Rp22.000 per kilogram.

TIMES Indonesia,
Harga Kopi Arabika Temanggung Tembus Rp22 Ribu per Kilogram
Petani memanen kopi di perkebunan Desa Wonoboyo, Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (27/6/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
A-AA+

temanggung – Pemerintah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, memperkirakan produksi kopi pada tahun 2026 ini bakal mengalami penurunan akibat faktor cuaca. Kendati demikian, penurunan volume panen tersebut justru mendongkrak harga kopi arabika di tingkat petani dari yang semula Rp15.000 menjadi Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram.

"Harga cherry arabika saat ini berkisar Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram, meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya sekitar Rp15.000 per kilogram. Kenaikan harga bahan baku tersebut diperkirakan berdampak pada naiknya harga kopi olahan," kata Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung, Sumarno di Temanggung, Senin (29/6/2026).

Advertisement

Sumarno menjelaskan bahwa tingginya curah hujan saat tanaman kopi memasuki fase pembungaan menjadi pemicu utama. Kondisi tersebut menyebabkan banyak bunga kopi rontok dan gagal berkembang menjadi buah.

"Informasi dari petani memang terjadi penurunan hasil panen, berkisar antara 40 sampai 60 persen. Penyebab utamanya karena cuaca ekstrem saat proses pembungaan. Waktu itu hujan terus sehingga banyak bunga yang gagal menjadi buah," katanya.

Berbeda dengan arabika yang masa panennya berlangsung lebih awal pada Mei hingga Juli, panen untuk jenis kopi robusta di Temanggung diperkirakan baru akan dimulai pada Juli hingga Agustus mendatang.

Saat ini, luas lahan kopi arabika produktif (Tanaman Menghasilkan) di Kabupaten Temanggung tercatat mencapai 1.700 hektare. Tahun ini, pemerintah daerah sebenarnya telah menambah perluasan lahan baru sekitar 500 hektare, namun seluruhnya masih berstatus Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).

"Kopi arabika dikembangkan di wilayah dengan ketinggian di atas 800 meter di atas permukaan laut. Penyebarannya berada di lereng Gunung Sumbing, Sindoro, hingga Prahu, meliputi Kecamatan Selopampang, Tembarak, Tlogomulyo, Bulu, Parakan, Kledung, Bansari, Ngadirejo, Candiroto, Wonoboyo, Tretep, hingga Kaloran," katanya.

Advertisement

Dari pemetaan wilayah tersebut, Sumarno menambahkan bahwa Kecamatan Kaloran kini mulai menunjukkan potensi besar bagi pengembangan kopi arabika, khususnya di kawasan dataran tinggi seperti Desa Kalimanggis dan Getas.

Pasar Ekspor dan Serapan Industri Tetap Kuat

Meski kapasitas produksi musiman kali ini terganggu, daya saing kopi Temanggung di pasar global maupun domestik terpantau tetap tinggi. Di lini ekspor, komoditas lokal ini konsisten menembus pasar internasional. Salah satu eksportir asal Kwadungan Gunung, Kecamatan Kledung yang dikelola oleh Zainal, dilaporkan rutin mengirimkan kopi Temanggung ke sejumlah negara di Afrika, kawasan Arab, hingga Eropa.

Tak hanya pasar mancanegara, korporasi luar daerah juga terus mengandalkan pasokan dari Temanggung. PT Sukasina yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, tercatat rutin menyerap sekitar 300 ton kopi robusta asal Temanggung setiap tahunnya.

Langkah serupa juga dilakukan oleh CV Natalia. Perusahaan asal Bandung ini bahkan menempatkan perwakilannya di Dusun Kemulung, Desa Kalimanggis, Kecamatan Kaloran, untuk melakukan pembelian kopi secara berkelanjutan langsung dari para petani setempat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Antara
PenulisAntaraANTARA adalah kantor berita nasional Indonesia yang menyebarluaskan informasi tentang berbagai peristiwa penting di dalam dan luar negeri.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia