Advertisement
Ekonomi

OJK: Aset Perbankan di Kabupaten Malang Tembus Rp36,3 Triliun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang mencatat aset perbankan di wilayah tersebut telah mencapai Rp36,3 triliun

TIMES Indonesia,
OJK: Aset Perbankan di Kabupaten Malang Tembus Rp36,3 Triliun
Kepala OJK Malang Farid Faletehan. (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Kinerja sektor jasa keuangan di Kabupaten Malang hingga April 2026 menunjukkan tren yang tetap positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang mencatat aset perbankan di wilayah tersebut telah mencapai Rp36,3 triliun, sekaligus menempatkan Kabupaten Malang sebagai salah satu daerah dengan aktivitas perbankan terbesar di wilayah kerja OJK Malang. 

Data tersebut disampaikan Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, saat kegiatan Sosialisasi Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Selasa (30/6/2026).

Farid menjelaskan, hingga April 2026 aset perbankan di Kabupaten Malang tercatat sebesar Rp36,3 triliun atau tumbuh 55,59 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp22,59 triliun, meningkat 5,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi intermediasi, perbankan di Kabupaten Malang telah menyalurkan kredit sebesar Rp28,84 triliun. Meski demikian, nilai penyaluran kredit tersebut mengalami penurunan 4,23 persen secara tahunan.

Menurut Farid, jika dibandingkan dengan tujuh kabupaten/kota yang menjadi wilayah kerja OJK Malang, Kabupaten Malang menempati peringkat kedua dalam tiga indikator utama, yakni total aset perbankan, penghimpunan dana masyarakat, dan penyaluran kredit.

"Jika dibandingkan dengan tujuh kabupaten/kota di wilayah kerja OJK Malang, Kabupaten Malang berada pada posisi kedua dari sisi aset, penghimpunan dana masyarakat, dan penyaluran kredit perbankan," ujarnya.

Ia menilai, capaian tersebut menunjukkan kondisi industri perbankan di Kabupaten Malang tetap terjaga dengan baik.

"Secara keseluruhan, kinerja perbankan di Kabupaten Malang terjaga dengan fungsi intermediasi yang berjalan baik," kata Farid.

Lebih lanjut, Farid menegaskan bahwa kinerja positif sektor jasa keuangan tidak terlepas dari meningkatnya tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

Menurutnya, semakin baik pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan turut mendorong meningkatnya kepercayaan terhadap industri perbankan.

"Kinerja perbankan yang terjaga itu tidak terjadi begitu saja, melainkan cerminan dari semakin meningkatnya pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan," ujarnya.

Karena itu, OJK terus mendorong berbagai program literasi dan inklusi keuangan agar semakin banyak masyarakat memanfaatkan layanan keuangan formal secara bijak.

"Penguatan literasi dan inklusi keuangan menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan perkembangan sektor jasa keuangan sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi daerah," pungkas Farid. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Achmad Fikyansyah
PenulisAchmad FikyansyahSarjana Sastra Inggris (S.S) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bergabung ke TIMES Indonesia sejak Maret 2023. Meliput berbagai topik, utamanya pendidikan dan ekonomi.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia