IHSG Diuji Awal Semester II, Data Ekonomi dan Sinyal Global Jadi Penentu Arah Bursa
IHSG diproyeksikan bergerak fluktuatif pada awal semester II 2026. Investor mencermati data inflasi, PMI, neraca dagang, serta arah suku bunga global.
JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Pelaku pasar memilih bersikap wait and see sambil menanti sederet data ekonomi domestik yang dinilai akan menentukan arah pasar pada awal semester II tahun ini.
Saat pembukaan perdagangan, IHSG terkoreksi 2,58 poin atau 0,05 persen ke level 5.640,61. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 ikut melemah 0,62 poin atau 0,11 persen ke posisi 552,49.
Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menilai volatilitas pasar masih berpotensi berlanjut. Investor masih menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga global, perkembangan isu potensi penurunan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI, serta kekuatan indikator ekonomi domestik dalam menjaga momentum pertumbuhan.
"Ke depan, pergerakan IHSG masih berpotensi volatil karena pasar menunggu kepastian arah suku bunga global, perkembangan isu potensi penurunan klasifikasi pasar oleh MSCI, serta kemampuan data domestik menunjukkan ketahanan ekonomi," tulis Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada tiga indikator utama, yakni inflasi Juni 2026, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia, dan neraca perdagangan Mei 2026.
Apabila inflasi dan surplus neraca perdagangan mampu melampaui ekspektasi, ditambah sentimen global tetap kondusif, peluang penguatan IHSG pada awal semester II 2026 masih terbuka.
Konsensus pasar memperkirakan inflasi tahunan (year on year/yoy) meningkat menjadi sekitar 3,2 persen akibat kenaikan harga pangan dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Sementara itu, surplus neraca perdagangan diproyeksikan kembali melebar hingga sekitar 4 miliar dolar AS.
Sentimen positif lainnya datang dari implementasi bertahap program B50 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut diperkirakan memberi dorongan bagi sektor energi dan industri Crude Palm Oil (CPO).
Dari pasar global, indeks dolar Amerika Serikat (DXY) menguat ke level 101,26 setelah data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan mencapai 7,594 juta. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Di sisi lain, investor juga terus mencermati perkembangan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan kepastian, meski harga minyak dunia masih bergerak melemah.
Fokus pasar internasional berikutnya mengarah pada rilis Caixin Manufacturing PMI China, ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat, serta pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam forum European Central Bank (ECB) di Sintra, Portugal. Ketiga agenda tersebut diperkirakan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter global.
Data manufaktur dan pernyataan pejabat The Fed diyakini akan menjadi katalis utama bagi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, hingga arus modal global.
Pada perdagangan Selasa (30/6/2026), mayoritas bursa saham Eropa ditutup menguat. Euro Stoxx 50 naik 1,51 persen, DAX Jerman menguat 1,50 persen, dan CAC 40 Prancis bertambah 0,44 persen. Sementara FTSE 100 Inggris menjadi satu-satunya yang melemah tipis 0,12 persen.
Sentimen positif juga terlihat di Wall Street. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,26 persen, S&P 500 menguat 0,79 persen, sedangkan Nasdaq Composite melesat 1,68 persen.
Adapun pada perdagangan pagi ini, bursa saham Asia bergerak bervariasi. Nikkei menguat 0,69 persen, Shanghai Composite naik 0,23 persen, sedangkan Hang Seng terkoreksi 1,39 persen dan Straits Times melemah tipis 0,06 persen.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


