Kisah Petani Milenial Rudy Saputra Asal Magetan, Putar Modal Rp200 Ribu Jadi Omset Jutaan
Kisah sukses Rudy dimulai sejak awal Mei 2025 lalu. Ketertarikannya pada dunia urban farming ini muncul secara tidak sengaja saat ia berselancar di media sosial Facebook.
MAGETAN – Kreativitas dan kejelian melihat peluang di media sosial mampu membawa berkah finansial.
Hal inilah yang dibuktikan Rudy Saputra (27), pemuda asal Desa Sumberagung, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, yang sukses mengembangkan bisnis budidaya sayur hidroponik hingga meraup omset jutaan rupiah per bulan.
Kisah sukses Rudy dimulai sejak awal Mei 2025 lalu. Ketertarikannya pada dunia urban farming ini muncul secara tidak sengaja saat ia berselancar di media sosial Facebook.
"Waktu itu lihat postingan di Facebook, kok kelihatannya hijau, segar, dan pangsa pasarnya lumayan menjanjikan. Akhirnya saya tertarik untuk mencoba," ujar Rudy saat ditemui di kebun hidroponiknya, Kamis (2/7/2026).
Memulai dari nol, Rudy mengaku hanya bermodal uang Rp200 ribu.
Modal minim tersebut ia gunakan untuk membeli perlengkapan bekas, mulai dari 3 batang paralon ukuran 2,5 inci, satu pompa akuarium, serta tandon nutrisi berkapasitas 100 liter.
Dari 3 paralon awal tersebut, kini usaha hidroponik Rudy telah berkembang pesat.
Ia kini memiliki instalasi meja produksi yang menampung hingga 1.400 lubang tanam, dengan kapasitas 200 lubang tanam per meja instalasi.
Namun, perjalanan Rudy tidak selalu mulus. Di awal usahanya, ia sempat mengalami kerugian dan gagal panen selama tiga bulan berturut-turut akibat salah memilih benih.
"Awalnya pernah rugi karena benih tidak cocok dengan iklim sini. Daerah Plaosan ini kan cenderung dingin, sementara benih yang saya gunakan saat itu tidak sesuai," kenangnya.
"Ternyata memang ada jenis biji yang khusus untuk dataran tinggi (dingin) dan dataran rendah (panas)," lanjut Rudy.
Tak menyerah, Rudy terus belajar secara otodidak melalui tayangan YouTube dan komunitas di Facebook, lalu langsung mempraktikkannya di kebun.
Kini, kerja keras pemuda berusia 27 tahun ini membuahkan hasil manis.
Dengan menerapkan sistem rotasi tanam, di mana setiap pekan ia melakukan penyemaian sekaligus pemanenan, Rudy memastikan pasokan sayurnya selalu tersedia tanpa putus.
Dalam kurun waktu dua bulan, kebun hidroponik Rudy mampu menghasilkan sekitar 100 kilogram sayur segar.
Omset yang dikantongi pun terbilang menggiurkan, berkisar antara Rp3 juta hingga Rp4 juta per dua bulan, dengan keuntungan bersih berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta sekali panen.
"Untuk penjualan sangat mudah. Biasanya langsung diambil oleh pengepul dan pihak restoran. Alhamdulillah, selalu laku dan habis terus," kata Rudy dengan nada optimis.
Bagi masyarakat atau pemuda lain yang ingin memulai, Rudy membagikan beberapa tips penting dalam budidaya sayur daun hijau.
Menurutnya, kuncinya ada pada ketelatenan menjaga nutrisi dan kelembapan media tanam. Ia menjelaskan, media utama yang digunakan adalah rockwool.
Saat penyemaian biji, pastikan kondisi media tidak terlalu basah melainkan cukup lembab, lalu simpan di tempat yang benar-benar gelap.
Setelah dua hari disemai dan benih mulai pecah, tanaman harus segera dikenalkan pada sinar matahari.
Menurutnya, yang paling penting adalah sering-sering mengecek kadar nutrisi dan pH air.
"Untuk konsumsi pupuk khusus sayuran daun, saat usia 1 hingga 21 hari biasanya butuh sekitar 1 liter per minggu untuk 1.400 lubang tanam," bebernya secara detail.
"Begitu masuk fase dewasa di atas 21 hari sampai panen, kebutuhannya naik jadi 10 liter per minggu," imbuhnya.
Di akhir perbincangan, Rudy memberikan pesan motivasi bagi generasi muda di Magetan yang ingin terjun ke dunia usaha.
"Tipsnya, mulai aja dulu. Pasar itu pasti ada karena sayuran ini memang selalu dibutuhkan masyarakat. Teruslah belajar, menanam, dan berkembang. Rezeki pasti akan datang kalau kita mau berusaha," ungkap Rudy. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


