Advertisement
Ekonomi

Ekspor Produk Ikan Banyuwangi Tetap Moncer Meski Konflik Timur Tengah Berlangsung

Direktur Pemasaran salah satu perusahaan eksportir ikan kaleng di Kabupaten Banyuwangi, PT Pasifik Harvest Indonesia, Sherly Indrawati Aminoto, usai melepas ekspor 10 kontainer produk ikan bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

TIMES Indonesia,
Ekspor Produk Ikan Banyuwangi Tetap Moncer Meski Konflik Timur Tengah Berlangsung
Foto bersama saat pelepasan ekspor 10 kontainer produk ikan Banyuwangi. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)
A-AA+

BANYUWANGI Konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah tidak menyurutkan laju ekspor produk ikan kaleng dari Kabupaten Banyuwangi.

Meski jalur logistik ke sejumlah negara terdampak dan biaya pengiriman melonjak tajam, aktivitas ekspor tetap berjalan berkat strategi diversifikasi pasar yang dilakukan pelaku usaha.

Advertisement

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pemasaran salah satu perusahaan eksportir ikan kaleng di Kabupaten Banyuwangi, PT Pasifik Harvest Indonesia, Sherly Indrawati Aminoto, usai melepas ekspor 10 kontainer produk ikan bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, tujuan Eropa, Afrika, Uni Emirat Arab (UAE), Tanzania, Lebanon, dan Kamboja, Jumat (3/7/2026).

Sherly mengatakan, konflik di Timur Tengah memang memberikan dampak terhadap distribusi barang, terutama ke kawasan Teluk. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan aktivitas ekspor perusahaannya.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah lonjakan biaya pengiriman ke kawasan Timur Tengah. Jika sebelumnya ongkos pengiriman kontainer ke Dubai atau Arab Saudi berada di kisaran 700 dolar AS per kontainer, kini biayanya melonjak hingga sekitar 5.000 dolar AS per kontainer.

"Namanya pengusaha pasti itu bagian dari risiko. Kerugian pasti ada," kata Sherly, Jumat (3/7/2026).

Sherly mengungkapkan, konflik yang pecah pada awal tahun membuat sejumlah pelabuhan di kawasan tersebut sempat ditutup.

Advertisement

Akibatnya, beberapa kontainer ekspor milik perusahaan tertahan di pelabuhan dan belum dapat didistribusikan ke negara tujuan.

Meski demikian, Sherly menegaskan dampak tersebut tidak terlalu memengaruhi kinerja ekspor secara keseluruhan.

PT Pasifik Harvest Indonesia tidak hanya bergantung pada pasar Timur Tengah, tetapi telah melakukan diversifikasi ke berbagai negara.

"Pasar kami bukan hanya Timur Tengah. Kami sudah diversifikasi, sehingga dampaknya tidak terlalu besar," ungkapnya.

Saat ini, produk ikan kaleng asal Banyuwangi telah dipasarkan ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah seperti Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Turki. Selain itu, ekspor juga menjangkau negara-negara Afrika Utara, di antaranya Mesir, Maroko, dan Aljazair.

Untuk mengantisipasi gangguan jalur pelayaran akibat penutupan Selat Hormuz, perusahaan juga menyesuaikan rute distribusi dengan memanfaatkan pelabuhan alternatif yang masih beroperasi sebelum barang dikirim ke negara tujuan.

Tak hanya mempertahankan pasar yang sudah ada, PT Pasifik Harvest Indonesia juga terus memperluas jangkauan ekspornya.

Sejumlah negara baru mulai dibidik, di antaranya Tanzania, Meksiko, Korea Selatan, Portugal, dan Spanyol sebagai bagian dari upaya memperkuat pasar internasional.

Sherly optimistis perluasan pasar tersebut akan menjaga kinerja ekspor perusahaan tetap positif, sekaligus memperkuat posisi produk ikan kaleng asal Bumi Blambangan di pasar global meski dihadapkan pada tantangan geopolitik dunia.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menilai konflik yang terjadi di sejumlah negara justru membuka peluang bagi industri pengolahan ikan di Jawa Timur, termasuk di Banyuwangi. 

Menurutnya, di tengah situasi tersebut kebutuhan akan produk ikan siap saji cenderung meningkat sehingga menjadi kesempatan untuk memperluas pasar ekspor.

"Ketika terjadi konflik di berbagai negara, ternyata kebutuhan ikan siap saji justru semakin tinggi. Ini menjadi peluang besar, terutama bagi Pasifik Harvest," cetus Khofifah.

Khofifah berharap perusahaan dapat terus memperluas jangkauan pasar sehingga kinerja ekspor semakin meningkat. Dengan demikian, pengembangan industri pengolahan ikan yang telah terintegrasi melalui hilirisasi dapat terus diperkuat.

"Semoga pasarnya semakin luas, semakin besar, sehingga industri hilirisasi ini terus berkembang. Dampaknya tentu akan dirasakan masyarakat Banyuwangi melalui meningkatnya perekonomian dan kesejahteraan," ujarnya.

Dengan dukungan hilirisasi industri, perluasan pasar ekspor, serta kemampuan pelaku usaha beradaptasi terhadap dinamika global, produk ikan olahan asal Banyuwangi diharapkan semakin mampu bersaing di pasar internasional. 

Kondisi tersebut sekaligus memperkuat posisi kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa ini sebagai salah satu sentra industri pengolahan dan ekspor hasil perikanan nasional. (*)

Pewarta: Muhamad Ikromil Aufa

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Syamsul Arifin
PenulisSyamsul ArifinPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2016. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia