Advertisement
Ekonomi

Kisah Dede Redi: Bawa Baso Gejrot dari Emperan Pasar Lama Tasikmalaya Hingga ke Arab Saudi

Dalam waktu lebih dari satu dekade, Baso Gejrot berkembang pesat. Kini sedikitnya enam gerai telah beroperasi di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya termasuk di Arab Saudi.

TIMES Indonesia,
Kisah Dede Redi: Bawa Baso Gejrot dari Emperan Pasar Lama Tasikmalaya Hingga ke Arab Saudi
Seorang penikmat baso saat memperlihatkan semangkok baso gejrot di Kedai Baso Gejrot Jalan RAA Wiratanuningrat, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat. Kamis (9/7/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
A-AA+

TASIKMALAYA Berawal dari kehidupan sederhana di Pasar Lama Kota Tasikmalaya, Dede Redi membangun Baso Gejrot menjadi salah satu merek kuliner yang dikenal masyarakat.

Kisah perjuangan, inovasi, hingga kepeduliannya terhadap pekerja disabilitas menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM

Advertisement

Suara hiruk-pikuk Pasar Lama Kota Tasikmalaya menjadi bagian dari masa kecil Dede Redi.

Aroma mi basah yang baru diproduksi, bumbu bakso yang diracik sejak dini hari, hingga riuh pedagang dan pembeli adalah ruang kelas pertama yang membentuk naluri bisnisnya.

Lahir di Tasikmalaya pada 1974, Dede berasal dari keluarga sederhana. Ia merupakan anak dari pasangan Oleh Suhendar dan Oon Rohaniah, pasangan pedagang mie basah yang telah menggeluti usaha keluarga sejak dekade 1950-an. 

Di tengah keluarga besar anak ke 2 dari 12 bersaudara, kehidupan berjalan sederhana. Semua anak ikut membantu orang tua berjualan.

Namun, masa kecil Dede jauh dari gambaran anak yang selalu berada di rumah. Ia mengakui dirinya lebih sering menghabiskan waktu siang-malam bermain di emperan Pasar Lama daripada tidur di rumah.

Advertisement

Kehidupan keras di pasar justru mengajarkan arti bertahan hidup, bekerja keras, dan menghargai setiap rupiah hasil usaha.

"Saya bukan anak yang baik seperti kebanyakan anak seusia saya waktu itu. Saya lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah daripada berkumpul sama keluarga," ujar Dede saat ditemui TIMES Indonesia di Kedai Baso Jalan RAA Wiratanuningrat, Kamis (9/7/2026)

Pengalaman itulah yang perlahan menempa mental seorang anak pasar menjadi calon pengusaha, warisan bergelut di bidamg kuliner yang bertahan bebih dari tujuh dekade menjadi modal suksesnya.

Usaha keluarga Dede bukan sekadar berjualan mi basah. Orang tuanya telah menjadi bagian dari denyut ekonomi tradisional Tasikmalaya sejak tahun 1950-an.

Setiap hari mereka memproduksi mi basah dan menjual bumbu bakso kepada para pedagang. Aktivitas itu berlangsung puluhan tahun dan menjadi sumber penghidupan keluarga.

Dede tumbuh sambil menyaksikan bagaimana pelanggan datang silih berganti. Dari sana ia belajar bahwa kepercayaan pelanggan adalah modal paling berharga dalam bisnis.

Baginya, usaha keluarga bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga menjaga tradisi kuliner yang telah diwariskan lintas generasi. Setelah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia bakso, Dede melihat ada sesuatu yang mulai hilang dari kuliner modern.

Bakso kampung dengan cita rasa khas masa lalu semakin sulit ditemukan. Ingatannya melayang pada masa kecil ketika di kampung sering digelar samenan atau imtihan di sekolah agama.

Saat acara perpisahan atau kenaikan kelas berlangsung, masyarakat bergotong royong menyiapkan hidangan sederhana. Salah satu makanan yang selalu ditunggu adalah bakso.

Kala itu, bakso termasuk makanan mewah, yang paling diingat Dede adalah sensasi ketika menggigit bakso yang masih menggunakan lemak sapi.

Begitu digigit, cairan gurih di dalamnya menyembur keluar atau dalam bahasa Sunda, sensasi itu dikenal dengan istilah "ngagejrot." Kenangan itulah yang kemudian melahirkan sebuah merek Baso Gejrot.

"Saya ingin mengangkat kembali rasa bakso kampung yang dulu pernah menjadi bagian dari kenangan masyarakat," ujarnya.

Pada 2014, Dede memberanikan diri membuka kedai pertama Baso Gejrot. Ia tidak sekadar menjual bakso, tetapi ia menjual nostalgia.

Nama 'Gejrot' membuat orang penasaran. Banyak pelanggan datang bukan hanya ingin menikmati bakso, tetapi juga ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan sensasi 'gejrot'.

Rasa penasaran itu berubah menjadi pengalaman kuliner yang berbeda.Sebagian pelanggan mengaku kembali teringat masa kecil. Sebagian lainnya merasa menemukan cita rasa bakso yang mulai jarang dijumpai.

"Katanya enak, katanya berkesan, katanya membuat orang kembali mengingat masa lalu," kata Dede.

Perlahan, Baso Gejrot berkembang menjadi salah satu usaha kuliner yang dikenal di Tasikmalaya.

Dalam waktu lebih dari satu dekade, Baso Gejrot berkembang pesat. Kini sedikitnya enam gerai telah beroperasi di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya termasuk di Arab Saudi.

Pertumbuhan itu, menurut Dede, merupakan hasil kerja keras seluruh tim, doa keluarga, dan kepercayaan pelanggan. "Alhamdulillah Allah memberikan kelancaran sejak pertama membuka kedai hingga sekarang."ujarnya.

Mayoritas pelanggan Baso Gejrot berasal dari kalangan keluarga muda, terutama ibu-ibu yang menjadikan tempat makan tersebut sebagai lokasi berkumpul bersama keluarga.

Selain rasa, nama Baso Gejrot juga menjadi daya tarik tersendiri karena mampu membangun rasa ingin tahu masyarakat. Kesuksesan di Tasikmalaya tidak membuat Dede berhenti.

Ia memilih mengambil langkah yang tidak banyak dilakukan pelaku UMKM daerah yakni membuka cabang di luar negeri.

Arab Saudi menjadi tujuan pertama, bukan semata-mata mengejar pasar baru, tetapi juga menghadirkan rasa kampung bagi ribuan warga Indonesia yang tinggal dan bekerja di negara tersebut.

"Saya ingin mengobati rasa rindu masyarakat Indonesia terhadap makanan kampung halaman," katanya.

Seluruh operasional cabang di Arab Saudi tetap mematuhi regulasi pemerintah setempat. Menariknya, Dede memilih menggunakan tenaga kerja asal Indonesia dibanding merekrut pekerja lokal.

Baginya, langkah itu menjadi bagian dari upaya membuka kesempatan kerja sekaligus menjaga cita rasa dan standar pelayanan yang selama ini dibangun.

Di mata Dede, Tasikmalaya memiliki identitas kuliner yang kuat. Jika Yogyakarta dikenal dengan gudeg dan Garut dengan dodol, maka Tasikmalaya identik dengan bakso.

Menurutnya, identitas tersebut harus dimanfaatkan sebagai kekuatan ekonomi daerah. Banyak pelaku UMKM dapat memperoleh penghidupan melalui usaha bakso.

Karena itu ia berharap pemerintah, pelaku usaha, tokoh masyarakat hingga figur publik dapat berkolaborasi mempromosikan produk-produk lokal.

Ia mencontohkan kuliner seperti seblak maupun tutug oncom yang sedang berkembang seharusnya mendapat dukungan bersama agar mampu naik kelas hingga dikenal secara nasional bahkan internasional.

"Kalau semua saling mendukung, UMKM Tasikmalaya bisa berkembang bersama."harapnya.

Di balik perkembangan usahanya, Dede memiliki prinsip sederhana. Menurutnya, keuntungan bukan tujuan utama. Yang paling penting adalah memperbanyak ikhtiar. "Soal rezeki sudah ada yang mengatur."katanya

Baginya, semakin besar ikhtiar maka tantangan juga akan semakin besar. Namun setelah melewati berbagai ujian tersebut, seseorang akan memiliki energi positif yang membuatnya lebih ringan menghadapi persoalan berikutnya.

Filosofi itu diterapkan dalam mengelola usaha sehari-hari. Ia percaya pelayanan terbaik kepada pelanggan lahir dari suasana kerja yang positif.

Di balik ramainya gerai Baso Gejrot, terdapat kisah yang jarang diketahui pelanggan. Sebagian tenaga kerjanya merupakan penyandang disabilitas. Keputusan itu bukan strategi pemasaran. Melainkan panggilan hati.

Dede melihat masih banyak masyarakat yang memandang penyandang disabilitas sebagai kelompok yang penuh keterbatasan. "Ya, Pandangan itu tidak saya sepakati."tuturnya.

Menurutnya, Tuhan menciptakan setiap manusia dengan kelebihan masing-masing. Walaupun ada yang tidak dapat mendengar atau berbicara, bukan berarti mereka tidak mampu bekerja secara profesional.

"Mereka bisa berkomunikasi. Mereka mampu menjalankan pekerjaan dengan baik. Yang paling penting adalah bagaimana kita memanusiakan manusia."tandasnya.

Baginya, keberhasilan Baso Gejrot bukan semata karena dirinya sebagai pemilik usaha. Kesuksesan itu lahir dari kerja keras seluruh tim, termasuk para karyawan penyandang disabilitas yang setiap hari bekerja dengan penuh dedikasi dan doa.

Perjalanan Dede Redi belum selesai. Dari seorang anak yang pernah tidur di emperan Pasar Lama, kini ia menjadi pengusaha yang membawa cita rasa bakso kampung melintasi batas negara.

Namun baginya, ukuran keberhasilan bukan hanya jumlah gerai atau besarnya omzet. Keberhasilan adalah ketika usaha mampu membuka lapangan pekerjaan, menjaga warisan kuliner, dan mengangkat martabat pelaku UMKM lokal.

Baso Gejrot lahir dari sebuah kenangan sederhana tentang bakso kampung yang "ngagejrot" ketika digigit.

Kini, kenangan itu berubah menjadi identitas kuliner yang tidak hanya menghidupkan nostalgia masyarakat Tasikmalaya, tetapi juga menjadi pengingat bahwa mimpi besar sering kali berawal dari ruang-ruang sederhana bahkan dari selembar kardus di emperan pasar. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Harniwan Obech
PenulisHarniwan ObechSarjana Administrasi Negara, STIA YPPT Priatim, (Angkatan tahun 1994). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 18-04-2021, Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia