IHSG Melonjak 1,1 Persen, Rupiah Kembali Tinggalkan Level Rp18.000 per Dolar AS
IHSG ditutup menguat 1,1 persen ke level 6.108,2 pada perdagangan Kamis (16/7/2026), didukung penguatan mayoritas saham dan pulihnya rupiah yang kembali meninggalkan level Rp18.000 per dolar AS.
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada penutupan perdagangan Kamis (16/7/2026). Indeks ditutup menguat 66,2 poin atau 1,1 persen ke level 6.108,2, seiring menguatnya mayoritas saham dan pulihnya nilai tukar rupiah yang kembali meninggalkan level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Penguatan ini menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan domestik setelah dalam beberapa waktu terakhir investor dihadapkan pada tekanan eksternal, mulai dari ketidakpastian ekonomi global hingga meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan penguatan IHSG ditopang dominasi saham yang bergerak di zona hijau. Sebanyak 385 saham ditutup menguat, 254 saham melemah, sedangkan 326 saham lainnya stagnan. Aktivitas perdagangan juga tergolong ramai dengan nilai transaksi di pasar reguler mencapai sekitar Rp13,2 triliun.
Tak hanya pasar saham, sentimen positif juga tercermin dari pergerakan rupiah. Mata uang Garuda terapresiasi sekitar 0,69 persen menjadi Rp17.981 per dolar AS di pasar spot. Berdasarkan Bloomberg Dollar Index, rupiah juga menguat ke kisaran Rp17.986 per dolar AS. Penguatan tersebut membuat rupiah kembali berada di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Kinerja positif IHSG terjadi secara merata di hampir seluruh sektor. Sektor teknologi menjadi motor utama kenaikan dengan penguatan sekitar 1,9 persen. Disusul sektor barang baku yang naik 1,57 persen, sektor properti 1,3 persen, infrastruktur 1,19 persen, sektor keuangan 0,92 persen, hingga sektor energi yang turut menguat 0,2 persen.
Sementara itu, sektor kesehatan, barang konsumsi primer, transportasi, industri, dan barang konsumsi nonprimer juga kompak berakhir di zona hijau, menandakan optimisme investor menyebar ke berbagai kelompok saham.
Pada kelompok saham unggulan, sejumlah emiten menjadi penopang kenaikan indeks. Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melesat lebih dari 10 persen, sedangkan saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) naik hampir 7 persen.
Di luar saham-saham berkapitalisasi besar, beberapa emiten bahkan mencatat lonjakan signifikan. Saham PT First Media Tbk (KBLV) memimpin daftar top gainers setelah melesat sekitar 27 persen. Kenaikan juga terjadi pada saham PT Citatah Tbk (CTTH), PT Aracord Nusantara Group Tbk (RONY), PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR), hingga PT Multipolar Technology Tbk (MLPT).
Meski demikian, pelaku pasar masih diminta mencermati berbagai sentimen global yang berpotensi memengaruhi arah perdagangan berikutnya.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai bursa saham Asia sebenarnya masih bergerak hati-hati karena investor terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah. Serangan lanjutan Amerika Serikat terhadap target di Iran kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap kenaikan harga minyak dunia.
Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, yang selama ini menjadi salah satu faktor utama pergerakan arus modal di pasar negara berkembang.
Di sisi lain, pasar memperoleh sedikit sentimen positif setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Iran memberikan sinyal kesiapan untuk kembali melanjutkan proses negosiasi. Harapan meredanya konflik membuat tekanan terhadap aset berisiko mulai berkurang sehingga investor kembali masuk ke pasar saham.
Penguatan IHSG dan rupiah pada perdagangan kali ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap aset domestik mulai pulih. Namun, analis memperkirakan volatilitas masih akan tinggi mengingat pasar global masih dipenuhi ketidakpastian, terutama terkait dinamika geopolitik, arah suku bunga, serta pergerakan harga komoditas dunia.
Bagi investor, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa momentum penguatan pasar masih perlu diimbangi dengan kewaspadaan. Perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter internasional diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah IHSG dan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


