Advertisement
Ekonomi

Dolar Terus Menguat, Perajin Tahu Tempe di Beji Putar Otak Pertahankan Usaha

Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha pangan rumahan di Kota Batu.

TIMES Indonesia,
Dolar Terus Menguat, Perajin Tahu Tempe di Beji Putar Otak Pertahankan Usaha
Tempe produksi warga Desa Beji Kota Batu Foto : Omah Tempe Beji for TIMES Indonesia
A-AA+

BATU Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha pangan rumahan di Kota Batu. Kenaikan harga kedelai impor membuat perajin tahu dan tempe di Desa Beji, Kecamatan Junrejo harus mengambil langkah penyesuaian agar produksi tetap berjalan.

Kepala Desa Beji, Deny Cahyono, mengatakan sebagian besar pelaku usaha di wilayahnya masih mengandalkan kedelai impor sebagai bahan baku utama. Ketika nilai tukar dolar menguat hingga menyentuh kisaran Rp 18 ribu, harga kedelai ikut terdongkrak dari sekitar Rp 9-10 ribu menjadi Rp 12 ribu per kilogram.

Advertisement

"Karena bahan baku yang digunakan merupakan kedelai impor, otomatis harga mengikuti pergerakan kurs dolar. Dampaknya langsung dirasakan para perajin," ujarnya, Jumat (24/7/1026).

Menurutnya, penggunaan kedelai lokal belum dapat menggantikan kebutuhan industri di Desa Beji. Selain kualitas yang dianggap belum sepenuhnya sesuai untuk produksi tempe, ketersediaan pasokannya juga masih terbatas.

"Sebab, setiap hari, sentra produksi tahu dan tempe di Desa Beji membutuhkan sekitar 6 hingga 7 ton kedelai. Jumlah tersebut hingga kini belum mampu dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri," urainya.

Akibat kenaikan biaya bahan baku, perajin akhirnya menyesuaikan harga jual produknya. Harga tempe per alir yang sebelumnya berkisar Rp 20 ribu kini naik menjadi sekitar Rp 30 ribu. Kenaikan tersebut juga dipengaruhi meningkatnya biaya operasional lain, seperti bahan bakar dan kemasan.

"Di tengah tekanan biaya produksi, para pelaku usaha menerapkan berbagai strategi agar pelanggan tetap bertahan. Sebagian memilih mengurangi ukuran produk, sementara lainnya menaikkan harga secara bertahap untuk menjaga keseimbangan biaya produksi dan daya beli konsumen," tegasnya.

Advertisement

Meski menghadapi tekanan tersebut, permintaan tempe di pasaran dinilai belum mengalami penurunan yang signifikan. Produk olahan kedelai itu masih menjadi salah satu sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat.

"Permintaan masih relatif stabil. Perajin hanya menyesuaikan ukuran atau harga supaya usaha tetap bisa bertahan di tengah kenaikan biaya produksi," tutupnya.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Galih Rakasiwi
PenulisGalih RakasiwiBergabung dengan TIMES Indonesia sejak Februari 2026 dan bertugas di Malang Raya dan sekitarnya. Meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia