Entertainment

Lagu 'Gelap Terlupakan', Dedikasi Kingkong Milkshake untuk Tragedi Kanjuruhan

Senin, 26 Desember 2022 - 14:04 | 61.11k
Band Asal Malang, Kingkong Milkshake. (Foto: Dok. Kingkong Milkshake for TIMES Indonesia)
Band Asal Malang, Kingkong Milkshake. (Foto: Dok. Kingkong Milkshake for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Band asal Malang, Kingkong Milkshake merilis lagu 'Gelap Terlupakan' versi akustik sebagai dedikasi terhadap korban dan pengusutan Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu.

Lagu yang telah dirilis dalam format band di tahun 2017 ini, kembali dirilis versi akustik di tanggal 22 Desember 2022 lalu.

Advertisement

Lirik video yang rilis secara komersial melalui kanal YouTube Kingkong Milkshake ini memperlihatkan sebuah tulisan dan penggalan video-video amatir Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu.

Drummer Kingkong Milkshake, Edo Rachmad mengatakan, lagu tersebut dibuat secara emosional pasca sepeninggalan almarhum ibu dari sang vokalis,  yakni Sadat.

"Lagu ini secara luas didedikasikan untuk orang-orang yang kita sayangi yang sudah pergi meninggalkan kita. Lagu ini awalnya tercipta setelah vokalis kami ditinggalkan oleh ibunda tercintanya," ujar Edo, Senin (26/12/2022).

Ia juga menyebutkan, lagu yang dirilis ulang dengan versi akustik dan penggalan video amatir Tragedi Kanjuruhan di lyric video lagu, sebagai alarm atau respon atas proses hukum Tragedi Kanjuruhan yang belum memberikan keadilan bagi korban maupun keluarga korban.

Di sisi lain, peluncuran lagu ini juga sebagai respons atas dibebaskannya seorang tersangka Tragedi Kanjuruhan, yakni Eks Dirut PT LIB Akhmad Hadian Lukita dari tahanan setelah masa tahan selesai dan berkas perkara dinyatakan belum lengkap atau P19.

"Kita memberi alarm atau respon terhadap pembebasan satu tersangka Tragedi Kanjuruhan yang muncul di berita. Itu membuat hati kami terkejut dan terluka," ungkapnya.

Dalam rilis lagu 'Gelap Terlupakan', Kingkong Milkshake juga memberikan pesan yang cukup menyayat atas proses keadilan Tragedi Kanjuruhan yang masih abu-abu.

Lagu itu sebagai bentuk empati serta duka mendalam atas tragedi dalam sejarah persepakbolaan Indonesia dan dunia, lebih tepatnya tragedi kemanusiaan.

"Banyak hati yang terluka, banyak ibu yang kehilangan anaknya, tetapi hingga detik ini belum terlihat titik terang atas apa yang terjadi di malam kelam itu," katanya.

Ia pun berharap melalui lagu ini, siapapun yang mendengarkam bisa menjadi pengingat teman, sahabat dan saudaranya yang telah berpulang di malam peristiwa itu.

"Kami sangat berharap keadilan segera terwujud untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan," ujarnya berharap.

"Tidak ada kaleidoskop yang berarti bagi kami di tahun ini," tandasnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES