Entertainment

Menebas Stigma Negatif ADHD dengan Menonton Film Anime Totto-Chan

Senin, 06 Mei 2024 - 14:43 | 29.87k
Poster film Totto-Chan (FOTO: Dokumentasi Ig Totto-Chan Movie)
Poster film Totto-Chan (FOTO: Dokumentasi Ig Totto-Chan Movie)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Setelah menunggu sekian lama, akhirnya buku autobiografi berjudul Totto-Chan: The Little Girl at the Window (Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela) karya Tetsuko Kuroyanagi berhasil dianimasikan dengan apik dan rilis pada 1 Mei 2024 lalu.

Novel tersebut dialihwahanakan oleh sutradara Shinnosuke Yakuwa dengan mengambil judul yang sama seperti bukunya.

Novel Totto-Chan berhasil dialihwahanakan dengan baik dan menambah daftar panjang anime-anime berkelas karya Yakuwa. Ia secara piawai mengemas novel Totto Chan seperti tanpa cela, slice of life yang ringan tapi selalu menguras air mata, polos sekaligus menyimpan duka kelam dan bayang-bayang perang.

Film Totto-Chan dibuka tak jauh berbeda dengan bukunya. Diawali dengan mama Totto-Chan yang bingung mencarikan sekolah baru untuk Totto-Chan. Di sekolah lama, Totto-Chan dianggap sebagai anak biang keladi, ia selalu memunculkan masalah, dan membikin gurunya selalu pusing tujuh keliling.  

Memang seperti itulah Totto-Chan. Orang-orang di sekelilingnya menganggap sebagai biang kerusuhan, tapi siapa nyana, Totto Chan hanyalah gadis cilik pemilik ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Gangguan mental pada Totto-Chan akhirnya berhasil diwadahi ketika ia bersekolah di Tomoe Gakeun (Akademi Tomoe) milik Kobayashi. Di sana, ia menjadi  gadis ceria nan penyayang. Di sekolah itu, Totto-Chan dipertemukan dengan anak-anak yang oleh orang normal dianggap sebagai tidak normal, seperti Yasuaki si pengidap polio.

Dengan begitu, film ini secara implisit menyuruh penonton untuk tidak membeda-bedakan manusia-manusia lain di sekelilingnya. Seperti kata Totto-Chan kepada Yasuaki, bahwa kita semua sama. Totto-Chan mengajarkan kepada kita untuk melempar jauh-jauh stigma buruk terhadap orang lain yang justru merugikan diri sendiri.

Tidak hanya itu, Totto-Chan juga mengajak penonton untuk menikmati hidup dengan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang tersaji di depan mata. Bagi Totto-Chan, untuk menikmati hidup tidak perlu memikirkan segala hal yang jauh di angan-angan, tapi cukup lakukan yang ada di depan mata. Itu terlihat dalam adegan Pak Kobayashi yang membolehkan anak-anak Tomoe melihat bagaimana gerbong yang dipakai ruang kelas didatangkan.

Akan tetapi, kebahagiaan anak-anak Tomoe sirna ketika Perang Dunia II menghancurkan bangunan sekolah itu.

Di akhir kisah, Kobayashi, sang pemilik sekolah juga berhasil memukul penonton tentang pentingnya pendidikan. Ketika api akibat bom berkobar di Tomoe Gakeun, Kobayashi bilang, selanjutnya sekolah yang seperti apa yang bisa membuat anak-anak nyaman dan aman.

Sutradara Yakuwa berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton dengan bahasa visual yang memukau, selain dengan iringan musik yang berhasil menggetarkan hati. Yakuwa juga mengajak penonton untuk berpikir, tidak hanya menikmati film belaka. Ia menampilkan unsur-unsur semiotis yang memiliki banyak makna. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES