Entertainment

ALMI dan Aktivis Perempuan Minta Film Vina: Sebelum 7 Hari Turun Layar

Kamis, 30 Mei 2024 - 08:38 | 23.44k
Poster film Vina: Sebelum 7 Hari.
Poster film Vina: Sebelum 7 Hari.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Asosiasi Lawyer Muslim Indonesia atau ALMI meminta film Vina: Sebelum 7 Hari segera turun layar atau disetop penanyangannya. ALMI menilai film itu sudah bikin gaduh sekaligus menimbulkan spekulasi publik. 

"Kami meminta kalau bisa peredaran film ini segera ditarik dari dunia perfilman di Indonesia," kata Andra Bani Sagalane, pengacara ALMI. 

Dia mengatakan kasus Vina yang terjadi pada 2016 lalu masih dalam penyelidikan, jadi ia menilai tak pantas jika film ini tayang, terlebih dari film itu makin banyak spekulasi publik yang berkembang. 

Bahkan Andra menyebut film Vina bisa jadi pemicu bagi aparat kepolisian untuk mengambil doktrin yang tayang, padahal fakta kasus ini tengah diselediki. 

Selain ALMI, kritikus film, aktivis perempuan dan banyak pengguna media sosial juga menuntut film ini berhenti tayang. Mereka menganggap film Vina: Sebelum 7 Hari menampilkan kekerasan seksual yang terlalu vulgar. 

Aktivis perempuan, Tunggal Pawestri, menilai pembuat film tidak mempertimbangkan sensivitas korban dan keluarga korban termasuk penyintas kekerasan seksual.  

Menanggapi soal sensor, Ketua Lembaga Sensor Film Fibri Hardiyanto mengatakan tayangan itu masih dalam batas wajar untuk kategori film dewasa. "Sesuai pedoman sensor yang tertera dalam Permendikbud Nomor 14 tahun 2019, adegan kekerasan yang sudah diluluskan itu dinilai LSF masih proporsional dan bisa diterima orang 17 tahun ke atas," kata Rommy dikutip BBC News Indonesia. 

Sementara CEO Dee Company, Dheeraj Kalwani menyebut adegan tersebut dibuat secara apa adanya supaya penonton dapat mengerti apa yang terjadi. 

Film Vina: Sebelum 7 Hari menjadi film horor yang paling banyak diperbincangkan saat ini. Sejak tayang pada 8 Mei 2024 lalu, film ini sukses dengan menggiring 5,5 juta penonton. Film itu turut membuat Kepolisian mengusut kasus Vina.

Meski demikian banyak penggguna internet yang mengajak untuk memboikot film ini. Kebanyakan warganet mengatakan film ini tidak ada empati pada korban dan keluarganya. "Gausah ditonton ya temen temen, ini film beneran gila gak ada empatinya samsek, semoga vina beneran nerror lu siapapun yang ngide bikin film ini also some of you might be triggered," tulis salah satu pengguna X. 

Vina merupakan korban pelecehan seksual dan pembunuhan yang terjadi di Cirebon tahun 2016 lalu. Kini kasusnya tengah diproses oleh pihak kepolisian. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES