Advertisement
Entertainment

Di Tangan Mahasiswa UC Surabaya, Pagelaran Busana Bisa Bicara Soal Skizofrenia dan Pemberdayaan UMKM

Fashionology 2026 UC Surabaya hadirkan koleksi "Interior" (skizofrenia paranoid) karya Jocelin Clementine, dan streetwear limbah batik dari skena hip hop lokal. Jadi jembatan ke industri.

TIMES Indonesia,
Di Tangan Mahasiswa UC Surabaya, Pagelaran Busana Bisa Bicara Soal Skizofrenia dan Pemberdayaan UMKM
Streetwear konseptual bertajuk "Interior" karya Jocelin Clementine yang mengangkat isu kesehatan mental. (FOTO: Siti Nur Faizah/TIMES Indonesia)
A-AA+

SURABAYA Pernahkah anda mengira gelaran fashion show tak hanya menampilkan keindahan dan estetika gaun semata? Melainkan sarat akan makna dan isu yang berkembang di masyarakat. ​Melalui pagelaran busana, Fashionology 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Fashion Product Design and Business, Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) Surabaya, menafsirkan berbagai isu sosial, budaya, teknologi, hingga keberlanjutan dalam perspektif fashion yang segar dan relevan.

Salah satu karya yang paling mencuri perhatian adalah koleksi streetwear konseptual bertajuk "Interior" karya Jocelin Clementine. Di saat banyak orang membicarakan kesehatan mental sebatas awareness, Jocelin melangkah lebih jauh. Ia menjadikan fashion sebagai medium ekspresi murni untuk menerjemahkan kompleksitas psikologis penderita Skizofrenia Paranoid.

Advertisement

​"Aku mengangkat tema skizofrenia paranoid karena penderitanya sering merasa selalu diawasi, mendengar suara, atau melihat penampakan yang sebenarnya tidak ada," ungkap Jocelin, Sabtu (6/6/2026). 

"Secara saintifik, otak mereka memang sudah terprogram berpikir begitu. Jadi, ini penyakit yang benar-benar nyata," tambahnya. 

​Dipicu oleh keresahan bahwa isu mental health masih jarang dieksplorasi di dunia mode, Jocelin melakukan wawancara langsung dengan penyintas. Hasilnya? Sebuah koleksi dari bahan denim dan katun yang terasa personal, gelap, namun indah.

​Mahasiswa semester delapan itu menerjemahkan paranoid tersebut lewat detail-detail garmen yang genius. Siluet oversized yang melebar melambangkan mekanisme pertahanan diri. Konstruksi asimetris mencerminkan batin yang tidak stabil. 

Paling menyolok, motif mata yang tersebar di permukaan kain menggambarkan rasa diawasi secara konstan. Tak lupa, aksen slashing (potongan robek) mengekspresikan luka batin, sementara lilitan tali merah dan rantai (chain) mengunci rasa terkekang para penderita.

Advertisement

Fashionology 2026 2
Lima karya mahasiswa UC yang dipamerkan dalam Fashionology 2026. (FOTO: Siti Nur Faizah/TIMES Indonesia)

​"Mereka (para penderita) sebenarnya ingin ceritanya tersampaikan, tapi tidak dalam bentuk yang negatif atau memicu trauma (triggering). Jadi, aku mengekspresikannya lewat seni fashion yang indah, sehingga nyaman dipakai dan juga nyaman dilihat," ungkap Jocelin. 

Skena Hip Hop Lokal, Limbah Batik, dan Pemberdayaan UMKM

​Bergeser dari sudut ruang psikologis Jocelin, riuh dinamika urban anak muda tersaji lewat karya Muhammad Atho’illah. Ia membawa energi jalanan lewat koleksi streetwear yang terinspirasi dari Budaya Skena Hip Hop Lokal.

​Atho’illah menangkap keberagaman gaya berpakaian komunitas hip hop, mulai dari tren celana sagging (melorot), celana denim gombrong, pakaian berlapis-lapis (layering), hingga aksesori yang mencolok. 

"Namun, nilai utama dari koleksinya terletak pada jembatan budaya yang ia bangun," katanya. 

​Alih-alih menggunakan kain baru, Atho’illah memilih berkolaborasi dengan pengrajin batik lokal asal Mojokerto, Omah Batik Pina Pinu. Ia memanfaatkan limbah kain batik sisa (deadstock) dan menyatukannya lewat teknik patchwork dan applique. Hasilnya adalah pakaian streetwear bertekstur unik, berpenampilan global, namun tetap mengakar pada identitas lokal.

"Budaya skena bukan sekadar baju longgar. Ini adalah ruang negosiasi identitas anak muda urban sekaligus penggerak roda ekonomi kreatif. Koleksi ini juga berdampak kepada pertumbuhan ekonomi UMKM dalam mendukung pegiat usaha Dan pengerajin batik lokal," terang Atho’illah.

Lebih lanjut, menurut Ketua Program Studi Yoanita Kartika Sari Tahalele, karya tugas akhir dari 47 mahasiswa ini ditantang tidak hanya menciptakan pakaian yang estetis, tetapi juga menjawab problematik di masyarakat secara holistik.

​"Ini adalah wujud dari kreativitas, inovasi, dan bagaimana mereka mencoba menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat dalam desain dan produk fashion," ujarnya yang juga Ketua Fashionology 2026.

Fashionology 2026 juga dirancang sebagai jembatan langsung ke industri. "Jadi mereka juga diperkenalkan kepada mitra desainer maupun mitra industri. Ini juga sekaligus ajang untuk wawancara gitu ya. Jadi kalau mereka ada yang menyukai, bisa langsung ke mahasiswa, bahkan ada beberapa yang sudah mendapat pekerjaan dari melihat karya-karya mereka," pungkas Yoanita. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Siti Nur Faizah
PenulisSiti Nur FaizahSarjana Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Jurnalis TIMES Indonesia di Surabaya sejak 2021. Aktif menulis di Pemerintahan, Politik, Hukum, Pendidikan, Seni, Budaya dan Isu Nasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia