Mengenang Sang Maestro Balada, Lagu Gombloh Bergema Bukan Hanya di Radio
Pameran foto dan panggung musik tribute untuk mengenang maestro balada Gombloh digelar di Balai Pemuda Surabaya, dihadiri para penggemar setia dari berbagai daerah.
SURABAYA – Di radio aku dengar lagu kesayanganmu...
Hanya sebait lirik lagu, tapi langsung secara otomatis membuka kenangan pada sosok musisi berkacamata hitam, rambut gondrong, topi "Mexico", dan jaket kulit ikonik. Dia adalah Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh.
Tapi kali ini bukan hanya di radio, para penggemarnya bisa mengenang ulang memori lewat pameran foto dan penampilan aksi panggung musisi Surabaya yang membawakan ulang lagu-lagunya.
Pameran Foto Gombloh Sasana Shanti Antropologi" dan Lemon Trees anno 69 Reunion di Galeri Merah Putih Balai Pemuda selama tiga hari menjadi saksi betapa karyanya tetap abadi.
Acara ini turut diwarnai penampilan aksi panggung para musisi Surabaya. Pada puncak acara antara lain ada seniman nyentrik Seket Astakula, sajak apresiasi kepada Gombloh yang diciptakan oleh Yoyok Apri, Sekaring Jagad, Laily & Family, Yuli Zedeng, Ludruk Luntas, Esthi Susanti Hadiono, Arul Lamandanu, dan masih banyak penampil lainnya.
Menariknya, Yoyok Apri membawakan sebuah sajak bertajuk "Balada Anak Negeri". Sajak yang merangkum semua lagu karya Gombloh.
Balada Anak Negeri
38 tahun kau telah pergi, semua karyamu Tetap dikenang sepanjang hari
Di sini, tempat ini menjadi saksi
Lirik dan lagumu membumi abadi
Menggema sampai ke pelosok negeri
Berkibarlah bendera negeriku (Merah putih)
Kebyar kebyar
Kami anak negeri ini
Pesan buat negeriku
Berita cuaca
Meski zaman telah berganti
Karyamu tetap merasuk di hati
Jiwa nasionalismemu sangat tinggi
Kau telah menjadi inspirasi generasi anak cucu kami
Karismamu sungguh luar biasa
Senandung jawamu sangatlah kental penuh makna
Kau ramu dengan penuh penjiwaan
Kau sajikan penuh rasa ketulusan
Sekar mayang (hong wila hing sekaring bawono)
Kidung Nuswantoro
Lindri-lindri
Mitra becakan
Sabdho wejangan
Karya-karyamu sungguh sangat relevan
Ingatkan kita agar tak lupa tradisi dan kebudayaan
Kau memang tak pernah bisa diam
Tiap hari menyatu dengan orang-orang jalanan
Bertemankan gitar kayu kesayangan
Tubuhnya sangat peka melihat kenyataan jadikan puisi tuk dilagukan
Selamat pagi kotaku
Doa seorang pelacur
Nyanyian seorang anak pencuri
Kilang-kilang
Poligami-poligami
Kau sangat peduli denga kaum orang-orang kecil
Saat gelap merayap sunyi
Kau duduk di warung pinggir kali
Ngobrol nyantai sambil merokok dan ngopi
Lagi-lagi tentang syair cinta
Gombloh memang jago mengarangnya
Lirik-liriknya sungguh sangat jenaka
Semua orang dibuatnya tertawa
Konsumsi cinta
1/2 gila
Kugadaikan Cintaku
Apel
Lepen
Percayalah cintaku tetap hangat
Soedjarwoto Soemarsono Gombloh sang maestro balada Indonesia
Hidupnya sederhana apa adanya
Dulu Gombloh rekaman di studio nirwana
Sekarang Gombloh damai berada di nirwana-Nya
Sejenakku ku pejamkan mata
Di sini auramu benar-benar nyata
Aroma semerbak harum sekar mewangi
Kami di sini mendoakanmu dengan tulus suci
Matur Suwon Cak Gombloh
Kami Cinta Padamu
Dari kami
Anak negeri ini
Demikian isi bait sajak yang menggugah memori. Gombloh memang sudah tiada, namun setiap geraknya tetap membekas di dada.
Penggemarnya pun berasal dari berbagai kota di Indonesia. Salah satunya Cep Ocim alias Abah Ocim.
Cep Ocim rela datang langsung ke Surabaya untuk menapaki jejak idolanya, sumber inspirasinya dalam melangkah.
"Saya sejak kecil dari kelas 1 SMP udah suka beliau. Pertama mendengarkan lagu Berita Cuaca, Ujung Kulon Baluran, sampai ke sini pertama kali dari kecil hanya ingin ketemu Gombloh, tapi nggak sempat karena Gombloh meninggal tahun 1988," ungkapnya, Jumat (10/7/2026).
Dia adalah salah satu penggemar sejati yang memuja keindahan jiwa sang maestro. Bagi Cep Ocim, Gombloh merupakan figur yang penuh kesederhanaan, sangat menghargai seorang wanita, dia selalu ingin mengentaskan prostitusi dari Dolly, cinta sama anak-anak jalanan.
"Gombloh bagi saya itu adalah sosok yang saya kagumi di antara semua musisi di bumi galaksi, Gombloh yang saya kagumi. Baru setelah itu John Lennon," ujarnya seraya mengusap air mata.
Saking cintanya pada Gombloh, kedua putranya ia beri nama dari lirik-lirik lagunya. Yaitu Lazuardi Gilang Gemilang dan Deka Sekar Mayang.
Tak bisa dibayangkan, bagaimana Ocim benar-benar terobsesi atas figur Gombloh yang bersahaja. Maka tak heran jika keinginannya datang ke Surabaya sangat besar.
Ocim yang seorang musisi solo baru sempat datang setelah menghadiri konser di Malang pada tahun 2011.
Dari Malang, ia langsung ke makam Gombloh di Surabaya, sebagaimana impian masa kecilnya bertemu sang idola meskipun untuk pertama kalinya perjumpaan itu hanya menatap nisan.
Di sana ia mendoakan, meneteskan air mata. Bahkan saat bercerita tentang Gombloh, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sejak saya bisa tiga chord gitar, saya mulai memainkan lagu-lagu Gombloh," kata Cep Ocim.
Selanjutnya, ia kembali berziarah pada 2013 setelah memenuhi undangan Sekaring Jagad, band yang khusus membawakan lagu-lagu Gombloh, untuk featuring tribute dalam sebuah konser di parkir timur Delta Plaza. Dilanjut pada tahun 2016.
Kemudian 9 Januari 2020, Cep Ocim hadir lagi dalam rangka peringatan haul ke-34 Gombloh. Hari ini hingga 13 Juli 2026, Cep Ocim kembali datang ke Surabaya khusus merayakan kenangan bersama para komunitas Memories of Gombloh (Mogers) dan Lemon Trees.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


