Advertisement
Entertainment

Gombloh Sumber Inspirasi, Pameran Foto Sang Maestro Jadi Momen Pelepas Rindu

Memperingati hari lahir maestro balada Gombloh, Komunitas Mogers menggelar pameran foto di Balai Pemuda Surabaya. Sang anak, Remi Wicaksono, bagikan kisah kesederhanaan sang ayah.

TIMES Indonesia,
Gombloh Sumber Inspirasi, Pameran Foto Sang Maestro Jadi Momen Pelepas Rindu
Foto : Remi Wicaksono, anak mending musisi legendaris Gombloh. Remi menampilkan foto masa kecil keluarga dalam pameran di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya, Jumat (10/7/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
A-AA+

SURABAYA Gombloh adalah seorang maestro balada. Musisi legendaris dari Kota Surabaya ini dikenal cerdas dalam mengolah lirik dan nada. 

Lagu-lagunya yang penuh pesan positif banyak menginspirasi orang untuk semangat mencintai negeri dan menjalani kehidupan. Meskipun sudah tiada, Gombloh tetap dikenang.

Advertisement

Sosok bersahaja bernama asli Soedjarwoto Soemarsono ini tentu saja juga menjadi inspirasi bagi keluarga semasa hidupnya.

Remi Wicaksono, anak mendiang Gombloh bercerita bahwa ia mendengar figur ayahnya dari orang-orang terdekat dan penggemar.

"Karena pada waktu almarhum meninggal tahun 1988, saya masih usia empat tahun," kata Remi, Jumat (10/7/2026).

Remi kembali mengungkapkan, almarhum Gombloh dikenal sebagai figur penyayang, perhatian terhadap keluarga, sekaligus seorang seniman kreatif dan jenius.

Setelah berpulang ke Rahmatullah, penggemarnya pun mengabadikan dan merawat koleksi album, poster, hingga foto. 

Advertisement

Dalam rangkaian peringatan hari kelahiran Gombloh pada 12 Juli 2026, Komunitas Memories of Gombloh (Mogers) menggelar acara bertajuk "Gombloh Bukan Hanya di Radio" di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya sebagai bentuk penghormatan terhadap karya dan warisan nilai-nilai yang ditinggalkan.

Remi mengapresiasi aksi tersebut. Ia juga menampilkan foto-foto repro masa kecilnya bersama sang ayah dan ibu dalam pameran bertajuk "Sasana Shanti Antropologi".

Seperti foto saat di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Foto keluarga kecil bahagia. Gombloh tidak memakai topi ala Mexico andalan. Ada kisah unik di balik foto tersebut.

"Waktu itu ceritanya katanya banyak orang yang nggak tahun kalau itu ayah saking sederhananya tampilannya, padahal ayah sudah terkenal," ungkapnya.

Berangkat dari kisah sang ayah, ia berharap pemerintah memberikan perhatian dan mendukung seniman dalam berkarya. Karena terkadang musisi juga berjasa dalam membangun karakter bangsa. Sebagaimana lagu Gombloh berjudul Kebyar-kebyar, Merah Putih, dan masih banyak lainnya.

"Ayah adalah seorang yang berjiwa sosial tinggi, tidak memandang orang sebelah mata," ucapnya.

Ketua panitia acara, Esthi Susanti Hudiono mengatakan, kegiatan pameran foto dan aksi panggung seniman tersebut menjadi bagian dari reuni band Lemon Trees anno '69 yang telah vakum selama 38 tahun sejak kehilangan Gombloh. 

Menurutnya, lagu-lagu Gombloh mempunyai kekuatan membangun karakter sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada Tanah Air.

"Sebagai idola, ia patut terus dikenang. Lagu-lagu Gombloh memiliki satu garis yang konsisten. Tidak hanya berbicara tentang individu, tetapi juga bangsa, lingkungan, sosial, hingga hubungan manusia dengan Tuhan," ucapnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia