Advertisement
Gaya Hidup

Nyeruput Kopi Jaran Goyang Banyuwangi, Ada Aroma Asmara Disetiap Cangkirnya

Sensasi saat menyeruput Kopi Jaran Goyang dengan aroma dan citarasa khas kopi Arabica pegunungan Kawah Ijen ini membuat penikmat kopi terbuai asmara pada seruputan kopi di cangkir pertamanya. Jaran Goyang merupakan kopi lokal Banyuwangi yang diproduksi di

TIMES Indonesia,
Nyeruput Kopi Jaran Goyang Banyuwangi, Ada Aroma Asmara Disetiap Cangkirnya
Dapur pengolahan Kopi Arabica dan Robusta, Kopi Jaran Goyang desa Kemiren Banyuwangi. (FOTO: Agung Sedana/ TIMES Indonesia)
A-AA+

BANYUWANGI Sensasi saat menyeruput Kopi Jaran Goyang dengan aroma dan citarasa khas kopi Arabica pegunungan Kawah Ijen ini membuat penikmat kopi terbuai asmara pada seruputan kopi di cangkir pertamanya. Jaran Goyang merupakan kopi lokal Banyuwangi yang diproduksi di desa Osing Kemiren, Banyuwangi Senin (8/4/2019).

Nama itu sendiri diambil dari salah satu nama tarian khas banyuwangi yakni Tari Jaran Goyang. Kemudian, mengambil filosofi dari tarian tersebut yang mengandung makna unsur mistis aji-aji si jaran goyang.

Advertisement

Kopi-Jaran-Goyang.jpg

Diceritakan, dalam tarian tersebut berawal dari seorang dara cantik yang tidak suka dengan seorang laki-laki, namun karena Ajian Jaran Goyang yang dia gunakan, pada akhirnya dara cantik tersebut langsung jatuh cinta.

"Kami juga ingin orang yang tidak suka kopi, ketika sekali menikmati kopi ini langsung jatuh cinta selamanya," pungkas Mastuki, CEO produksi Kopi Jaran Goyang.

Bersama Paguyuban Tholik Kemiren (PATHOK), Mastuki telah memproduksi paling sedikit 200 kg setiap bulannya. Namun, apabila ada pesanan bisa lebih dari angka tersebut.

Menurutnya, potensi utama yang ada di desa Kemiren sendiri adalah kebiasaan masyarakat yang mengkonsumsi kopi tiap pagi dan malam hari, serta siang hari disela bekerja. Berangkat dari hal tersebut, saat ini Kemiren telah berevolusi menjadi produsen kopi khas Bumi Blambangan.

Advertisement

"Dulu hanya mengonsumsi, sekarang selain mengonsumsi juga memproduksi," pungkasnya.

Kopi Kemiren sendiri, lanjut Mastuki, berwarna kecokelatan tidak seperti kopi hitam pada umumnya dan rasanya di lidah antara pahit asam ini yang bikin penikmatnya kasmaran.

Kopi-Jaran-Goyang-3.jpg

Di sisi lain, menurut Moh As'adi M,SI, seorang pecinta kopi Jaran Goyang, ada resep jitu dalam menyajikan kopi. Hindari menyeduh kopi dengan menggunakan air dispenser. Tapi, gunakan air mendidih dengan suhu 100 derajat celsius. Taruh satu sendok makan bubuk kopi (6-8gr) ke dalam cangkir kosong, lalu tuangkan sedikit air mendidih sekitar 30 ml terlebih dahulu.

Ingat, kata As'adi, jangan mengaduk terlalu cepat, karena akan menurunkan ampas kopi ke bawah. Bila ampas sudah turun, maka aroma kopi tidak akan terperangkap lagi dan langsung hilang. Usahakan menggunakan alat pengaduk berbahan kayu agar citarasa kopi semakin dahsyat.

"Aduk pelan mengikuti arah jarum jam, sesudah tercampur rata tambahkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan," pungkas As'adi yang juga seorang Dekan Prodi Dakwah Universitas IAI Ibrahimy Genteng kepada TIMES Indonesia.

Proses pengolahan kopi Jaran Goyang sendiri seringkali didatangi sejumlah warga maupun wisatawan, selain melihat, mereka juga mendapatkan edukasi pengolahan kopi secara langsung. Hal tersebut agar masyarakat mempunyai wawasan yang berbeda terkait citarasa kopi, karena selama ini masyarakat cenderung beranggapan bahwa kopi itu hitam, kopi itu pahit.

Selain jenis arabica, juga tersedia jenis robusta. Selain dipasarkan di area Banyuwangi, kopi Kemiren pun juga telah merambah pasar Nasional bahkan pasar ekspor. Terbukti, seperti negara Taiwan, Malaysia, Denmark dan Jerman pun telah terkena ajian asmara dari Kopi Jaran Goyang Banyuwangi tersebut. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

A
PenulisAgung Sedana Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia