Advertisement
Gaya Hidup

Mengenal Ritual Kuno Ruwatan Murwakala di Banyuwangi

Di Pulau Jawa, ada banyak jenis upacara ritual yang sedikit banyak berhubungan dengan sebuah kepercayaan dan kebudayaan. Salah satunya ialah ritual ruwatan kuno murwakala yang sering dilakukan di Banyuwangi. Pada umumnya, dilakukan dengan pagelaran pewaya

TIMES Indonesia,
Mengenal Ritual Kuno Ruwatan Murwakala di Banyuwangi
Ki Dalang Asmoro Sampir sedang melakukan ruwatan murwakala di Banyuwangi. (FOTO: Agung Sedana/ TIMES Indonesia)
A-AA+

BANYUWANGI Di Pulau Jawa, ada banyak jenis upacara ritual yang sedikit banyak berhubungan dengan sebuah kepercayaan dan kebudayaan. Salah satunya ialah ritual ruwatan kuno murwakala yang sering dilakukan di Banyuwangi. Pada umumnya, dilakukan dengan pagelaran pewayangan yang membawa cerita Murwakala dan dilakukan oleh dalang khusus yang memiliki kemampuan dalam bidang ruwatan.

Menurut keyakinan kuno, banyak sekali hal atau peristiwa yang dapat mendatangkan malapetaka apabila tidak menghiraukan dan berikhtiar secara khusus. Maka, agar dapat terhindar dari bencana yang setiap saat bisa terjadi, diharuskan melakukan ruwatan tersebut.

Advertisement

Adapun beberapa kategori orang yang harus diruwat menurut salah satu dalang veteran Banyuwangi, Ki Asmoro Sampir, sebagai berikut. Pertama, anak yang dianggap mempunyai nasib buruk disebabkan faktor kelahirannya, salah satunya yakni ketika seorang anak saat lahir ing tengah wayah bedug (tepat jam 12 siang).

Kedua, anak yang membawa tubuh cacat sejak lahir atau sering sakit-sakitan. Ketiga, orang yang dianggap bersalah karena telah melanggar pantangan adat atau secara disengaja atau tidak sengaja merusak benda yang memiliki unsur kepercayaan kuno. Tak hanya itu, bayi lahir kembar pun termasuk kedalam kategori anak sukerta (harus ruwat).

ruwatan-murwakala-2.jpg

"Banyak kriterianya, salah satunya bocah uger-uger lawang atau kembar sepasang, yakni dua bersaudara laki-laki atau perempuan," kata dalang ruwatan yang akrab disapa Ki Guno itu, Jumat (30/8/2019).

Dalam prosesi ruwatan tersebut diceritakan, ada sosok buto gedhe Bhatara Kala (raksasa besar) yang selalu mengincar si sukerta. Menurutnya, anak yang menyandang sukerta ini, diyakini akan menjadi mangsa si Batara Kala.

Advertisement

Bhatara Kala sendiri, dalam kisah pewayangan merupakan anak Batara Guru yang lahir karena nafsu atas Dewi Uma. Yang kemudian, benih olo (niat jelek) jatuh ke tengah laut dan menjelma menjadi seorang anak raksasa yang memiliki wajah buruk rupa. Dimana anak itu memiliki gigi dan taring tajam layaknya monster.

Kemudian, anak raksasa tersebut di bawa ke khayangan oleh Bhatara Narada untuk menghadap ayahnya (Bhatara Guru). Karena dianggap tidak memilik tata krama, yakni si anak raksasa selalu memakan anak manusia yang ditemuinya.

Ketika raksasa ini menghadap ayahnya untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan hanya boleh memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi, yakni dengan melakukan ritual ruwatan murwakala tersebut. Agar terhindar dari bakal calon mangsa Bhatara Kala.

Menurut Ki Guno, kata murwakala berasal dari kata purwa (asal muasal manusia). Pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran atas ketidak sempurnanya diri manusia. Dimana setiap langkahnya selalu terlibat atau rentan dengan kesalahan yang bisa mengakibatkan timbulnya bencana atau kliru lelakon ing urip.

"Agar terhindar dari malapetaka itu, maka dilakukanlah ruwatan. Yakni, untuk membatalkan  status sukerta. Intinya, berdoa kepada Allah agar dihindarkan dan dijauhkan dari barang dan lelakon kan olo (perilaku tercela)," kata dalang ruwatan itu kepada TIMES Indonesia.

Diceritakan pula olehnya, suatu ketika ada seorang anak sukerta kembar sepasang (kembar perempuan) bernama Andini dan Anindita, putri seorang janda desa Walang Kawitan. Menjelang remaja, si ibu menyuruh keduanya untuk mencari air sumber pitu (air tujuh warna), dimana akan digunakan untuk mandi keduanya agar terhindar dari kesialan.

Di tengah perjalanan pulang, bertemulah Andini dan Anindita dengan Bhatara Kala. Kemudian si raksasa bertanya tentang asal-usul keduanya, disitulah remaja kembar tersebut diminta untuk sedia menjadi makanan Bhatara Kala karena keduanya menyandang sukerta.

Tak ingin dimakan, mereka kemudian melarikan diri dengan membawa air sumber pitu. Dikejarlah sukerta tersebut hingga tiba disebuah rumah yang tengah dibangun. Aksi kejar-kejaran pun terjadi, hingga Bhatara Kala tersungkur jatuh terjerat welat bambu. Sukerta itu lalu bersembunyi di tempat orang yang sedang membuat obat yang menggunakan pipisan.

Dalam usaha Bhatara Kala untuk mengejar, kakinya terantuk pipihan batu yang tergeletak ditengah jalan. Sehingga benda itu patah, dan jatuhlah tubuh besar itu ketanah. Dadanya menghantam bongkahan batu tajam hingga mengeluarkan darah. Pengejaran tetap berlanjut hingga di dapur yang kebetulan sedang dipakai memasak nasi. Di sini pun terjadi kejar-kejaran pula, sehingga menyebabkan dandang (panci) roboh.

Disitu Bhatara Kala geram dan mengumpatkan makian yang menjurus pada sebuah kutukan terhadap orang yang tidak pernah membersihkan sisa-sisa pekerjaan. Sehingga mengakibatkan orang lain celaka. Dari cerita itulah, umpatan raksasa tersebut dijadikan sebagai salah satu wejangan (nasehat) kepada anak kecil untuk tidak memberikan imbas buruk atas pekerjaan yang kita lalui.

"Selain sebagai upacara ritual, lakon murwakala ini juga sebagai dongeng kepada generasi muda agar berhati-hati dalam melakukan pekerjaan. Agar tidak melakukan suatu hal yang nantinya berdampak negatif kepada manusia lainnya," katanya.

ruwatan-murwakala-3.jpg

Setelah terjatuh, lanjut Ki dalang, raksasa kehilangan arah ke mana mangsanya melarikan diri. Bersamaan dengan itu, ia melihat seorang anak tunggal yang baru menikah sedang bertengkar dengan pasangannya. Sang istri memaki suami dan menghantamkan wadah nasi kemukanya. Melihat itu, si Bhatara Kala murka dan hendak memakannya.

Namun, ada seorang manusia yang kemudian menghentikannya. "Bhatara Kala, hentikan niatmu memakan anak itu. Keduanya adalah anak yang akan saya sucikan dengan ruwatan. Dimana akan menghapusnya dari daftar mangsamu," kata Ki Guno memperagakan perkataan seseorang yang hendak melakukan ruwatan, yang kemudian saat ini disebut sebagai dalang.

Kemudian Bethara Kala pun meminta sesajian dalam setiap upacara ritual murwakala. Dimana banyaknya sesaji itu memiliki makna dan pesan tersendiri. Dengan demikian, maka sebagai unsur pokok di dalam upacara ruwatan selanjutnya, di samping orang menyediakan berbagai macam sesaji dan syarat lainnya harus dipenuhi. Yakni, orang tersebut harus mengadakan pergelaran wayang purwa dengan cerita khusus Murwakala, cerita riwayat kehidupan Bhatara Kala.

Pada ritual ruwatan itu, bocah sukerta dipotong rambutnya. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kesialan dan kemalangan sudah menjadi tanggungan dari dalang karena anak sukerta sudah menjadi anak dalang. Setelah itu, sukerta harus meminum atau mandi dengan air tujuh warna dengan bunga-bunga dan syarat lainnya sebagai simbol penyucian.

Selain berhubungan dengan kebudayaan dan adat, rupanya ruwatan ini mengandung beberapa unsur magis. Di mana saat dalang membacakan kitab 'nyonteng' maka, bagi perempuan yang tengah hamil dilarang untuk mengikuti atau mendengarkannya.

"Aum yoganiro bopo akoso ibu bumi, dupi mijil tibo ing samudro. Agilang-gilang kumambang alembak-lembak. Rupo daging dudu daging, rupo getih dudu getih. Aranmu sang komo salah, agisiro nilomoyo kadyo manik mustiko. Murub mangarab-arab andatangaken prabowo. Guntur ketuk lindu gonjing prahoro gung lesus tatit aliweran. Geter pater mubal panas anyalat tri bawono manining hyang kolo rudro," ucap dalang saat membacakan sedikit bait dari mantra nyonteng.

Menurut Ki Guno Asmoro, tidak semua dalang dapat melangsungkan ritual ruwatan tersebut. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum pelaksanaannya. Salah satunya, melakukan puasa 3 hari sebelumnya. Dimana puasa tersebut berbeda dengan puasa pada umumnya, yang hanya menahan lapar dari sebelum terbit fajar hingga waktu terbenam.

Tidak hanya ditujukan untuk individu tertentu, ruwatan murwakala ini juga bisa digunakan untuk skala luas. Seperti perkampungan, desa, kecamatan bahkan kabupaten. Seperti halnya dilakukan oleh Kraton Jogja dan Solo, begitu pula beberapa daerah setingkat Kelurahan hingga Provinsi acapkali mempunyai jadwal rutin untuk melakukan ruwatan bumi.

Ruwat bumi sendiri bertujuan memperoleh keselamatan dengan cakupan yang sangat luas. Ruwat bumi adalah ruwatan paling besar dan berat. Ragam sesaji dan uborampe sangat beragam dan tidak boleh ada yang terlewatkan satu pun.

Walaupun sesaji lengkap, dalangnya pun harus benar-benar dalang terpilih. Yakni dalang yang kuat secara batin, dan ilmu spiritualnya mencapai kesadaran kosmologis. Sebab jika tidak kuat, kemungkinan beresiko muntah darah atau bakal sakit-sakitan setelahnya atau bahkan bisa mengakibatkan kemamatian. Dikarena tidak kuat menahan diri saat bisikan Bhatara Kala merasuk ke dalam diri pengeruwat.

Sepadan dengan banyaknya biaya serta beratnya resiko, hasil dari ruwatan kuno murwakala dipercaya akan sangat menakjubkan, khususnya bagi beberapa masyarakat Banyuwangi yang percaya akan hal tersebut. Yakni, berdampak baik secara psikologis maupun magis bagi kehidupan si sukerta atau lingkungan yang dikhususkan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

A
PenulisAgung Sedana Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia