Begini Soal Plus Minus Gaya Hidup Fangirling
Semua orang pasti memiliki idola. Siapapun itu, pastilah seseorang mengidolakan sesosok yang mampu membuat hidupnya lebih baik. Demikianlah yang diungkapkan oleh seseorang yang akrab dipanggil Yoshino, seorang pelaku fangirling.

MALANG – Semua orang pasti memiliki idola. Siapapun itu, pastilah seseorang mengidolakan sesosok yang mampu membuat hidupnya lebih baik. Demikianlah yang diungkapkan oleh seseorang yang akrab dipanggil Yoshino, seorang pelaku fangirling.
Menurutnya, fangirling adalah suatu kegiatan untuk mengekspresikan rasa cinta dan simpati kepada idola.
Namun, fangirling telah menjadi gaya hidup yang hangat diperbincangkan, ketika ditempelkan dengan stigma “anti sosial”. “Sebenarnya fangirling itu sudah masuk gaya hidup sih kalau sekarang, soalnya banyak orang yang memasukkan kehidupan idolanya ke dalam hidupnya,” papar Yoshi.
Dirinya menjelaskan, gaya hidup fangirling punya beberapa efek sosial. Kebanyakan seseorang yang terlalu berlebihan melakukan fangirling mampu berakibat cukup buruk. Contohnya adalah dari sisi finansial.
“Kalau yang udah fanatik dan berlebihan banget ya bakal ngehabisin banyak uang. Contohnya sih beli merch ori, poster, dakimakura (bantal bergambar karakter idola), sampai dinner juga. Dinner idola fans itu bisa sampai jutaan,” jelas Yoshi, ketika ditemui di Saboten Shokudo, Rabu (7/1/2020).

Sebagai pelaku fangirling di dalam fandom Yoshino Nanjolno yang telah ditekuninya tahunan, Yoshi cukup mengerti akibat berlebihan fangirling.
“Kalau berlebihan bisa juga jadi no life, ga ada kehidupan atau interaksi sosial gitu. Di jaman sekarang sih udah banyak yang gitu,” ujarnya. Dirinya juga mengungkapkan fangirling seringkali dijadikan media pengalihan atau peralihan dari masalah di dunia nyata.
“Misalnya nih ada masalah di luar, jadi dia langsung lari ke kegiatan fangirling buat pengalihan aja. Akutnya sih sampai nggak mau bersosialisasi sama orang yang nggak ada hubungannya dengan kehidupan fangirlingnya,” papar Yoshi.
Yoshi sendiri telah aktif dalam kegiatan fangirling di bawah fandom Nanjoo cukup lama. Nanjoo adalah seorang seiyuu dan youtuber yang cukup terkenal di Jepang.
Namun, Yoshi menegaskan bahwa kegiatan fangirling tidak hanya identik dengan idola asal Jepang dan Korea. Di lain sisi, seseorang yang memuja idolanya dan mengekspresikannya ke dalam suatu kegiatan adalah kegiatan fangirling.
“Jadi tidak mesti harus idola Korea dan Jepang. Bahkan idola dari Barat pun juga bisa. Jadi fangirling bukan soal siapa yang diidolakan, namun soal gaya hidupnya,” tutup Yoshi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

