Profil Mardigu Wowiek, Si Bossman yang dari Kecil Sudah Sontoloyo

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Setiap ucapan Mardigu Wowiek Prasantyo (Mardigu WP) seolah memiliki arti dan mampu menghipnotis jutaan pengikutnya, baik di Instagram maupun channel youtubenya. Si Bossman Sontoloyo ini seolah memprovokasi siapapun untuk segera bertindak. Siapa sebenarnya dia? Bagaimana profil dia?
Kata-katanya yang mantap dan meyakinkan semua yang mendengar bukan tanpa alasan. Analisanya menunjukkan kalau Mardigu WP adalah orang yang berpengalaman.
Advertisement
Hal itu memang terbukti, Mardigu WP adalah seorang pengusaha 32 perusahaan baik skala nasional dan regional. Usahanya bukan main-main, dia bergerak di bidang oil dan gas.
Wajar saja jika pendapatannya ditaksir sampai triliyunan. Beberapa perusahaan yang merupakan miliki Mardigu antara lain PT Titis Sampurna, PT Empora Gaharu, Narapatih Mind & Mental Clinic.
Mardigu kerap menyisipkan pesan-pesan spiritual dalam videonya. Hal tersebut memang mencerminkan kepribadiannya, dia adalah sosok dibalik berdirinya Rumah Yatim Indonesia yang saat ini menaungi kurang lebih 10.000 santri di seluruh Indonesia.
Mardigu yang sekarang berbeda dengan Mardigu pada 10 tahun silam. Dulu kita banyak mengenal Mardigu ketika ada peristiwa yang berkaitan dengan terorisme. Memang, Mardigu dulunya adalah seorang pakar Micro Expressions.
Bagaimana Mardigu bisa disebut sebagai seorang Sontoloyo? Kepada Helmy Yahya dalam channel Youtubenya, Mardigu mengaku bahwa Sontoloyo melekat pada dirinya saat masih kecil. Saat itu pemikiran-pemikirannya sudah berbeda dan berani bertanya tentang hal-hal yang mendasar tapi sangat jenaka.
“Itu (julukan Sontoloyo) lebih lama lagi, saya di keluarga saya, Mbah, Pak De, Kakek nyantri di Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pada 10 usia 10 tahun, mbah saya ceramah tentang pentingnya berislam kafah atau total. Saya yang masih 10 tahun berdiri, saat itu orang-orang duduk. Kalau yang lain duduk saya berdiri, pasti langsung dibilang opo koe?, saya tanya, kalau kita ini Islam Kafah tapi bacaan kita saja berbeda, itu di tahiyat akhir beda dengan Nabi Muhammad. Langsung saya dimarahi, ngawur koe. Sontoloyo!” cerita Mardiguw sambil tertawa.
Untuk panggilan Bossman, Mardigu mengaku hal tersebut merupakan panggilan dari anak buahnya. Sebagai seorang pimpinan, jiwa boss, Mardigu memang melekat.
“Anak buah saya sejak 20 tahun lalu manggil Bossman. Saya menekan banget kalau di kantor, kalau di luar kelihatannya humble, kalau anak buah sendiri kalau pecat ya pecat saja” ujarnya.
Di instagram, akun Mardigu Wowiek Bossman Sontoloyo sudah diikuti 1,2 Juta pengikut. Jumlah tersebut cukup besar, belum lagi di channel youtubenya yang selalu ditonton oleh banyak orang. Di sosial media lainnya, facebook, Mardigu juga aktif membangun profil danmembangun diskusi di grup facebook. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Irfan Anshori |
Publisher | : Sofyan Saqi Futaki |
Sumber | : TIMES Jakarta |