Advertisement
Gaya Hidup

Ini Dia Makna Kupat dan Lepet dalam Tradisi Ponorogo

Rangkaian ibadah umat Islam mulai puasa Ramadhan, Idul Fitri 1 Syawal, dilanjutkan puasa Syawal sebagai penutup kekurangan puasa Ramadhan. Dan selesainya puasa Syawal disebut Bodo Kupat atau Kupatan, di mana dalam tradisi Ponorogo dirayakan dengan membuat

TIMES Indonesia,
Ini Dia Makna Kupat dan Lepet dalam Tradisi Ponorogo
Rianasari saat membuat lepet dengan isi ketan, parutan kelapa dan garam ( foto : Evita Mukharomah / Times Indonesia )
A-AA+

PONOROGO Rangkaian ibadah umat Islam mulai puasa Ramadhan, Idul Fitri 1 Syawal, dilanjutkan puasa Syawal sebagai penutup kekurangan puasa Ramadhan. Dan selesainya puasa Syawal disebut Bodo Kupat atau Kupatan, di mana dalam tradisi Ponorogo dirayakan dengan membuat kupat atau lepet.

"Pesan filosofis kupat (ngaku lepat), lepet (lepat) mengakui kelepatan atau mengakui kesalahan," ujar Rianasari, pembuat lepet di Ponorogo, Jumat (29/5/2020).

Advertisement

Menurutnya kupat dan lepet itu sama-sama dibungkus dari janur atau daun kelapa muda. Bedanya kalau kupat, janurnya dianyam sedangkan lepet janurnya digulung dan diikat.

Rianasari-saat-membuat-lepet-dengan-isi-ketan-parutan-kelapa-dan-garam-2.jpg

Kupat terbuat dari beras, sedangkan lepet dari campuran ketan dan parutan kelapa. Memasak kupat sekitar 4-5 jam sedangkan lepet membutuhkan waktu 2 jam.

Rianasari menjelaskan filosofi janur sebagai pembungkus kupat dan lepet, adalah berasal dari kata sejating nur atau cahaya sejati, sebagai simbol harapan, "Semoga bersih bersinar seperti cahaya sejati," imbuhnya.

Kupat dan lepet mungkin hanya dianggap sebuah makanan, namun sejatinya punya makna dan pesan filosofis yang sangat mendalam. Manusia setiap berbuat kesalahan harus minta maaf, baik kepada Allah SWT maupun kepada sesama mahluk-Nya.

Advertisement

Serangkaian tradisi dan ibadah umat Islam Jawa, mulai dari Ramdhan sampai  Bodo Kupat, menunjukkan perpaduan antara ajaran Islam dan budaya Jawa, seiring sejalan untuk manembah kepada Gusti Allah dan baik antara sesama manusia serta alam seisinya.

Tradisi Ponorogo membuat kupat atau lepet, juga merupakan perpaduan antara ajaran Islam dan budaya Ponorogo, "Menuju keislaman yang mikul duwur mendem jero," tukasnya.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia