Penanggulangan Bunuh Diri Pasien Covid-19 (1), Psikolog UC: Perlu Pendampingan Psikoedukasi
Berita kasus bunuh diri pasien Covid-19 di Indonesia bertambah. Rata-rata mereka menjatuhkan diri dari lantai atas rumah sakit saat menjalani perawatan atau isolasi.

SURABAYA – Berita kasus bunuh diri pasien Covid-19 di Indonesia bertambah. Rata-rata mereka menjatuhkan diri dari lantai atas rumah sakit saat menjalani perawatan atau isolasi. Belum diketahui secara jelas, alasan pasien melakukan hal tersebut ketika menghabiskan masa karantina.
Menelusuri kasus ini, psikolog dari Universitas Ciputra (UC) Surabaya Dr. Jimmy Ellya Kurniawan, M.Si., mengungkapkan pentingnya mengetahui latar belakang psikologis para pasien.
"Apakah memang sudah ada kecenderungan bunuh diri sebelum terkena Covid-19 atau tidak," ungkapnya, Kamis (10/9/2020).
Namun, lanjutnya, ada kemungkinan tekanan-tekanan psikologis pada pasien Covid-19. Antara lain yang disebabkan karena rasa kesepian, terisolasi dari lingkungan sosial sehingga membuat depresi sebab merasa tidak memiliki harapan untuk sembuh.
"Karena dalam salah satu kasus yang saya baca ada yg sudah berkali-kali swab namun hasilnya belum kunjung negatif, hingga akhirnya bunuh diri," imbuhnya.
Selain itu, pengaruh media turut menambah kecemasan. Demikian jelas Jimmy. Misal, berita tentang banyak pasien Covid-19 yang meninggal atau setelah sembuh pun, ada beberapa yang terkena virus lagi.
Di samping itu, faktor-faktor lain seperti masalah ekonomi, keluarga, atau rasa sakit fisik, dan sebagainya turut mempengaruhi. Sehingga membuat permasalahan semakin kompleks dan menekan.
Dr Jimmy memberi saran agar pasien perlu mendapatkan psikoedukasi dan pendampingan rutin baik secara offline atau online supaya tidak merasa diasingkan.
Seperti memberi akses online yang cukup untuk mendapat support dari keluarga dan atau relawan-relawan sosial.
"Berikan testimoni dari pasien-pasien yang sudah berhasil sembuh, diceritakan proses perjuangannya dan hal-hal apa yang menguatkan mereka sehingga berhasil melalui masa-masa sulit tersebut hingga sembuh," imbaunya.
Selama dalam perawatan di wisma atau rumah sakit, ia juga menyarankan agar sebaiknya akses media dibatasi untuk hal-hal yang positif saja.
"Misalnya untuk akses dukungan dari keluarga dan akses ke media-media resmi yang positif (bukan hoaks)," tandasnya.
Mendapat layanan konseling (online) dengan relawan psikolog dan atau rohaniawan merupakan salah satu dari sekian upaya yang sangat penting dilakukan.
Sharing kelompok antar pasien Covid-19 via media online zoom, google-meet dan sebagainya dengan difasilitasi oleh psikolog, sehingga mereka dapat saling empati dan menguatkan sesama pasien Covid-19. Serta, perhatian khusus bagi pasien-pasien yang punya catatan pernah melakukan percobaan atau ancaman bunuh diri. (*)
Catatan Redaksi : Masalah bunuh diri bukanlah masalah enteng. Jika Anda memiliki perasaan atau tendensi kepada tindakan tersebut, segera hubungi pihak yang bisa membantu.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

