Advertisement
Gaya Hidup

Kafe di Bondowoso Ini Gunakan Sistem Bayar Seikhlasnya

Ngopi menjadi trend tersendiri di kalangan masyarakat. Baik remaja, anak muda dan semua usia. Maka tak heran, jika kafe terus tumbuh subur. Bahkan warga berani merogoh kocek mahal demi bisa menikmati kopi yang enak.

TIMES Indonesia,
Kafe di Bondowoso Ini Gunakan Sistem Bayar Seikhlasnya
Sigit Irawan pemilik Kedai dan Cafe Tukang Goreng Kopi saat membuatkan kopi untuk pelanggan. Dalam proses itu ia juga bisa diajak ngobrol tentang kopi (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia).
A-AA+

BONDOWOSO Ngopi menjadi trend tersendiri di kalangan masyarakat. Baik remaja, anak muda dan semua usia. Maka tak heran, jika kafe terus tumbuh subur. Bahkan warga berani merogoh kocek mahal demi bisa menikmati kopi yang enak.

Tapi pernah anda membayangkan, minum kopi di kafe tapi bayar seikhlasnya? Di Bondowoso, Jawa Timur ada tempat ngopi yang menerapkan sistem tersebut. 

Advertisement

Terletak di Jalan Panjaitan, tepatnya di simpang tiga SMA 2 Bondowoso. Tempat yang lebih dominan ke kedai itu, menyediakan kopi rakyat dari lereng Ijen-Raung.

Namanya juga cukup unik. 'Tukang Goreng Kopi'. Adalah kafe sekaligus kedai milik pria bernama Sigit Irawan. Pria ini akan melayani langsung prlanggan yang datang. Bahkan ia terlihat sangat ramah saat menyajikan kopi, dan tak pelit memberikan pengetahuan seputar kopi.

Kedai dan Cafe

"Sebenarnya tempat ini kurang pas kalau dikatakan kafe, karena tempat duduknya sangat terbatas. Ini tepatnya bisa dikatakan tempat edukasi soal kopi," kata Sigit, Sabtu (3/9/2020).

Menurutnya, siapapun yang ngopi di kafe miliknya, hanya bayar seikhlasnya. Baik pesan Arabika atau Robusta tetap bayar seiklasnya. Kopi yang disajikan adalah produk kopi rakyat dari lereng pegunungan Ijen-Raung.

Advertisement

"Kalau motivasinya sih, saya dari awal lebih mau mengenalkan kopi asli, terutama Bondowoso. Ini loh kopi Bondowoso, jangan sampai kalah dengan kopi daerah lain," jelasnya.

Pria yang gemar berbincang tentang kopi dengan setiap pelanggannya itu, mengatakan, bahwa pelaku usaha kopi tidak melulu harus mengejar uang. Tapi bagaimana caranya menjaga kualitas. "Saya ingin mengenalkan bahwa kopi itu tidak sama. Saya sakit hati kalau semua kopi dianggap sama," imbuhnya.

Menurutnya, kopi Robusta Bondowoso tidak boleh dianggap remeh. Apalagi arabikanya. Makanya, ia juga menyediakan kopi mentah, mesin roasting kopi, yang nanti untuk edukasi kepada siapa pun.

"Jadi misalnya, ada pengunjung mau beli kopi dalam bentuk biji. Kemudian mau diroasting di sini. Silahkan. Saya suruh roasting sendiri tapi tetap saya dampingi. Sambil saya jelaskan proses yang benar," jelasnya.

ngopi

Siapapun boleh datang ke kedai miliknya. Namun untuk kopi mentah tetap dijual dengan harga yang layak karena ia bermitra dengan petani. Misalnya Rp 70 ribu per kilogramnya. 

"Silahkan kalau mau belajar barista, roasting sering aja ke sini. Gak ada biaya. Kecuali roasting, kita ambil Rp 30 per kilogram, untuk ganti listrik," imbuhnya.

Ia membuka usahanya ini pada Sabtu kemarin. Namun untuk bayar seiklasnya ini dipastikan bukan karena baru buka. "Bayar seikhlasnya ini seterusnya, sampai kafe ini tutup," tegasnya.

Pria yang mulai mencintai kopi sejak 2017 itu juga menceritakan, bahwa beberapa hari lalu, ada pelanggan yang bertanya harga saat hendak membayar.

"Saya bilang seiklasnya, eh dia gak percaya. Ayo lah jangan bercanda mas, kata pelanggan. Tapi saya yakinkan kalau ini beneran," jelasnya.

Menurutnya, di kopi bukan hanya soal untung. Memang ia tak memungkiri kalau pengusaha pasti butuh untung. Makanya ia juga jualan kopi dalam bentuk bubuk, green bean, dan minuman selain kopi.

"Saya senang kopi adalah seni, seni memainkan rasa, itu yang membuat saya cinta kopi," jelas pria kelahiran Banyuwangi ini.

Ia pun berencana akan mendatangkan kopi dari luar daerah, seperti Toraja, Gayo dan sebagainya sebagai pembanding dengan kopi Bondowoso. "Tetap akan dihargai seiklasnya. Mau bayar Rp 500 silahkan tidak masalah," imbuhnya.

Tak hanya itu, karena kafe yang dirintisnya masih sedang dibenahi. Ia berencana akan menyediakan kotak. "Nanti pengunjung bayar di sana. Takutnya kalau mau bayar ke saya atau ke yang jaga malu," jelasnya.

Dalam mengelola Tukang Goreng Kopi, ia berdua dengan saudranya. Kopinya ia beli ke petani langsung. "Cuma berdua saja. Alhamdulillah sudah banyak yang datang belajar," akunya.

Selain menyediakan kopi Bondowoso dengan bayar seiklasnya. Setiap Hari Jumat, ngopi di kafe Tukang Goreng Kopi, digratiskan. "Kalau Jumat memang dari dulu, meski bukan kopi," imbuhnya.

Salah seorang pengunjung, Sanjoyo, mengaku kaget ketika hendak membayar saat ngopi di Tukang Goreng Kopi. "Saya kan berempat, pesan Arabika. Terus saya mau bayar. Tapi pemiliknya bilang seiklasnya. Padahal biasanya, Arabika kalau di kafe Rp 20 ribu - Rp 25 ribu. Ini sangat membantu untuk ekonomi yang pas pasan seperti saya. Luar biasa," jelas warga Pujer Bondowoso tersebut. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Bahri
PenulisMoh BahriSarjana Sosial (S.Sos) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember (2018). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018 (Tugas di Kabupaten Bondowoso). Meliput berbagai topik: Politik, peristiwa, hukum, ekonomi, budaya, kuliner dan isu-isu lainnya di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia