Gaya Hidup

Sering Disepelekan, Ternyata Limbah Fashion Pengaruhi Krisis Iklim  

Jumat, 22 April 2022 - 11:14 | 88.60k
Limbah fashion berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan (FOTO: detik.net.id)
Limbah fashion berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan (FOTO: detik.net.id)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Mengenakan outfit yang kekinian sudah menjadi gaya hidup. Model pakaian selalu berubah menjadi tren yang sayang jika tak diikuti. Model kuno, ditinggalkan begitu saja, bahkan berakhir di tempat pembuangan dan menjadi limbah fashion

Namun pernahkah Anda memikirkan dampak limbah fashion terhadap lingkungan? 

Advertisement

Fashion adalah industri yang paling berpolusi kedua di dunia setelah industri perminyakan. Berdasarkan UN Conference of Trade and Development (UNCTD) 2019 lalu, 10 persen dari emisi karbon yang mempengaruhi krisis iklim dihasilkan dari industri fashion. 

Tak itu saja, emisi karbon fashion lebih besar daripada total emisi yang dihasilkan dari gabungan industri jasa pengiriman dan penerbangan. Artinya industri fashion punya peran besar terhadap perubahan iklim. 

Sedangkan menurut temuan Changing Markets Foundation yang dirilis pada Juni 2021 lalu bahwa industri pakaian bertanggung jawab atas lebih dari 20 persen polusi air di dunia. Bahan tekstil merupakan sumber polusi mikroplastik terbesar di dunia. 

Industri ini menghasilkan limbah cairan berbahaya. Pewarna sintetis pada pakaian menjadi polutan, sebab sisa air dari proses pewarnaan sering dibuang begitu saja ke selokan tanpa diproses pengolahan limbah. 

Tak hanya limbah cair yang merupakan polutan, namun juga serat tekstil menghasilkan mikroplastik. Nah mikroplastik ini tidak bisa terurai secara alami. 

Baju.jpg(FOTO:faktualid.com)

Selain limbah cair, limbah sisa kain maupun pakaian jadi juga momok bagi kelestarian alam. Bahan kain susah terurai. Sebut saja bahan polyster dan nylon yang membutuhkan waktu antara 20-200 tahun hingga bisa terurai. 

Meski demikian, katun dan linen merupakan bahan yang terbilang mudah terurai. Katun dapat terurai dalam hitungan bulan, sedangkan linen hanya dalam 2 pekan saja dapat terurai. 

Selain itu, industri fashion juga rakus akan air. Sebagai contoh produksi satu potong jins akan membutuhkan 7.500 liter air, wow! Sedangkan untuk satu potong kaus katun memerlukan sedikitnya 700 galon air. 

Bagaimana solusinya?
Pakaian adalah salah satu barang dasar yang harus dimiliki setiap orang. Namun terkadang kita sering lupa, membeli pakaian atas dasar ingin, bukan butuh. 

Nah untuk membantu mengurangi polusi, sebaiknya tidak membeli item fashion yang tidak dibutuhkan. 

Alih-alih membuang pakaian tak terpakai hingga menjadi limbah, Anda dapat menghibahkannya pada orang. Atau jika pakaian tersebut masih sangat bagus, Anda bisa menjual sebagai barang preloved.  

Barter item fashion juga salah satu cara untuk menyelamatkan lingkungn dari limbah fashion. Beberapa orang telah berkumpul dan membuat komunitas untuk bertukar barang fashion. Anda ingin mencobanya? (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES