Gaya Hidup

Kami Rita Sherpa Pecahkan Rekor Dunia Mendaki Gunung Everest

Senin, 09 Mei 2022 - 02:32 | 65.38k
Kami Rita Sherpa dari Nepal di base camp Gunung Everest di distrik Solukhumbu pada hari Sabtu selama pendakiannya yang memecahkan rekor. (FOTO: The Guardian/AFP/Getty Images)
Kami Rita Sherpa dari Nepal di base camp Gunung Everest di distrik Solukhumbu pada hari Sabtu selama pendakiannya yang memecahkan rekor. (FOTO: The Guardian/AFP/Getty Images)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pendaki gunung Kami Rita Sherpa, 52 asal Nepal berhasil memecahkan rekor dunia atas namanya sendiri setelah mendaki gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest untuk ke 26 kalinya.

Kami Rita Sherpa berada diantara 11 pendaki Nepal yang telah mencapai puncak Gunung Everest pada Sabtu sementara ratusan pendaki lainnya juga sedang berusaha mencapai puncak Everest yang setinggi 8.849 meter itu.

Advertisement

Gunung Everest juga disebut gunung yang paling dekat dengan langit. Suhu ekstremnya bisa mencapai minus 28 derajat Celcius.

"Kami Rita telah memecahkan rekornya sendiri dan membuat rekor dunia baru dalam pendakian," kata Direktur Jenderal Departemen Pariwisata di ibukota Kathmandu, Taranath Adhikari, pada hari Minggu (8/5/2022).

Istri Kami Rita yang menyebut namanya sebagai Jangmu ini mengaku senang dengan pencapaian suaminya.

Rute pendakian yang digunakan oleh Kami Rita dipelopori oleh warga Selandia Baru, Sir Edmund Hillary dan sherpa Nepal Tenzing Norgay pada tahun 1953 dan tetap menjadi yang paling populer.

Pada hari Minggu pejabat Nepal juga mengatakan, pendaki Rusia, Pavel Kostrikin meninggal di Camp I Gunung Everest, kematian orang asing pertama dilaporkan pada musim pendakian tahun ini.

Gunung-Everest.jpg

"Pendaki Rusia itu jatuh sakit di Camp II dan meninggal setelah dibawa ke Camp I," kata pejabat Departemen Pariwisata Nepal, Bhishma Kumar Bhattarai.

Kamp II di rute punggungan tenggara normal di Everest terletak di ketinggian sekitar 6.400 meter (20.997 kaki).

Pejabat pendakian itu menambahkan, jenazah Kostrikin akan dibawa ke Kathmandu bila kondisi cuaca mendung saat ini membaik.

Negara Himalaya, yang sangat bergantung pada pendaki untuk mendapatkan devisa, menghadapi kritik karena mengizinkan kepadatan dan beberapa kematian pendaki di pegunungan pada 2019.

Everest telah didaki 10.657 kali sejak pertama kali didaki pada tahun 1953 dari sisi Nepal dan Tibet. Banyak yang telah mendaki beberapa kali. Menurut database Himalaya, sejauh ini sudah 311 orang telah meninggal.

Nepal telah mengeluarkan 316 izin kepada pendaki gunung untuk musim pendakian musim semi tahun ini, yang berlangsung dari pertengahan April hingga akhir Mei.

Kebanyakan calon pendaki Everest masing-masing dikawal oleh pemandu Nepal, yang berarti lebih dari 600 pendaki akan menapaki jalur yang sama ke puncak puncak 8.849 meter (29.032 kaki) dalam beberapa minggu mendatang.

"Sekarang jalan telah dibuka untuk pendaki lain ke puncak Everest, kami akan melihat tim bergerak dalam beberapa hari mendatang," kata Mingma Sherpa dari Seven Summit Treks, yang memimpin tim pemasangan tali.

Mingma Sherpa menambahkan bahwa Kami Rita Sherpa "telah mencapai puncak untuk ke-26 kalinya, membuat rekor baru".

Pendakian ke-25 yang memecahkan rekor juga dilakukan saat ia memimpin pemecah tali ke Everest tahun lalu.

"Beberapa orang mengejar rekor, tapi saya tidak melakukan ini untuk rekor," ujar Kami Rita Sherpa dalam wawancara dengan AFP pada Maret, sebelum berangkat ke Everest.

"Saya berpikir tentang bagaimana kita bisa meningkatkan pariwisata di Nepal, apa yang bisa kita lakukan agar lebih banyak pendaki gunung datang ke sini dan bagaimana kita bisa memuaskan mereka dan membuat mereka bahagia," tambahnya

 Rita Sherpa mengikuti jejak ayahnya dan menjadi pemandu gunung, pertama kali mencapai puncaknya pada tahun 1994. Sejak itu dia telah mendaki Gunung Everest hampir setiap tahun. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES