Gaya Hidup

Mengungkap Tabir Dibalik Penari Gandrung Terop Banyuwangi

Sabtu, 12 November 2022 - 19:01 | 15.49k
Mengungkap Tabir Dibalik Penari Gandrung Terop Banyuwangi
Penulis buku berjudul ‘Isun Gandrung’, Eko Budi Setianto, di Aula Kantor Dispar Banyuwangi. (FOTO: Fazar Dimas/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGIGandrung Terop merupakan hiburan rakyat yang ditampilkan semalam suntuk. Biasanya, penari akan hadir ketika terdapat momen penting, seperti datangnya panen raya juga acara pernikahan maupun khitanan.

Menariknya, ketika tampil penari gandrung terop akan berlenggak lenggok selama semalam suntuk non stop dipanggung bersama warga di acara tersebut.

Stereotip minuman keras, saweran dan tarian berpasangan dengan goyang pinggul erotis, membuat masyarakat ketika mendengar istilah penari gandrung terop, otomatis terbesit stigma negatif.

Dalam buku berjudul 'Isun Gandrung', yang ditulis Eko Budi Setianto, digambarkan bahwa penari gandrung terop tidak seperti apa yang difikirkan dan anggapan masyarakat pada umumnya.

Dijelaskan Eko Budi Setianto alias Budi Osing sapaan akrabnya, yang melatar belakangi dirinya untuk tergugah menulis buku tersebut ialah karena prihatin atas penilaian masyarakat pada penari gandrung terop.

"Ada ketidakadilan masyarakat dalam menilai Gandrung. Karena itu saya menulis buku ini," kata  Budi Osing, pada saat melakukan peluncuran buku berjudul Isun Gandrung dan Buku Omprok lan Sampur di Aula Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Sabtu (12/11/2022).

Dalam acara tersebut juga dihadiri penari gandrung terop senior bernama Lilik dan Gandrung muda yaitu Lusi.

Masyarakat, lanjut Budi Osing, tidak pernah mendengarkan keluh kesah menjadi seorang penari gandrung.

"Pernah atau tidak kita mendengarkan suara hati penari gandrung," cetusnya.

Tentunya, buku ini menjadi pengetahuan baru tentang ungkapan isi hati penari gandrung.

Kepada TIMES Indonesia, Budi menjelaskan, melalui buku ini masyarakat bisa mengetahui apa yang dirasakan dan dialami penari gandrung.

"Faktanya, mereka penari gandrung memberontak. Sampai ada juga yang menangis pada saat saya datangi untuk diwawancara," ujarnya.

Sebenarnya, penari gandrung mengetahui apabila disetiap acara tarian terdapat warga yang meminum minuman keras (miras).

Dulu miras digunakan hanya untuk menghangatkan tubuh karena menonton tarian gandrung semalam suntuk. Karena itu gandrung dianggap negatif.

Diceritakan Budi, ia sempat bertanya kepada penari gandrung. "Sudah tau seperti itu kenapa masih dilakukan?" tuturnya.

Kemudian penari gandrung tersebut menjawab. "Saya hanya mencari sesuap nasi," kata penari gandrung pada Budi.

Budi berharap, melalui buku ini dapat membuka pikiran masyarakat untuk menilai gandrung dengan bijak dan tidak hanya dari katanya. Selain itu, yang dialami gandrung terkait stigma buruk juga banyak dialami oleh masyarakat lain.

"Melalui buku Isun Gandrung yang berbicara banyak hal tentang gandrung, semoga penari gandrung tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat," imbuhnya.

Sebagai informasi, untuk menjadi seorang penari gandrung terop bukanlah hal yang mudah. Terdapat beberapa syarat yang harus dilewati, diantaranya harus hafal beberapa lagu inti, penari melakukan puasa, melaksanakan meras (wisuda) gandrung, dan lain sebagainya. Dari itu, maka sebutan penari terop merupakan penari gandrung profesional yang sesungguhnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

KOPI TIMES