Gaya Hidup

Selain Yang Chil Seong, Ini Deretan WNA yang Bantu Kemerdekaan RI

Jumat, 01 September 2023 - 01:05 | 151.09k
Yang Chil Seong atau Komarudin, warga Korea Selatan yang berjuang di Garut.
Yang Chil Seong atau Komarudin, warga Korea Selatan yang berjuang di Garut.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Nama Yang Chil Seong menjadi pembicaraan hangat setelah rencana Pemkab Garut akan membuat film sejarah tentang dirinya. 

Yang Chil Seong atau nama Indonesianya Komarudin, merupakan warga negara Korea Selatan yang dibawa pasukan Jepang ke Indonesia sebagai Gun Sok atau tentara bantuan Jepang. 

Ia kemudian ditugaskan untuk menjaga tawanan perang Jepang di wilayah Bandung. Tahun 1945, setelah Jepang menyerah pada sekutu, Yang Chil Seong tak bisa kembali ke negara asalnya. 

Yang Chil Seong dan bebarapa Gun Sok lainnya ke Wanaraja, Garut. Di sana mereka sempat perang melawan Pasukan Pengeran Papak. Singkat cerita, Yang Chil Seok dkk kalah dalam peperangan itu dan menjadi tawanan. 

Selama menjadi tawanan, mereka selalu diperalukan baik oleh Pasukan Pangeran Papak yang dipimpin oleh Mayor SM Kosasih. Karena kelembutan hati pemimpin itu, mereka kemudian bergabung dengan Pasukan Pangeran Papak untuk membantu perang saat agresi militer Belanda. 

Tak itu saja, Gun Sok juga rela mengganti namanya dengan nama pribumi, serta memeluk agama Islam. Yang Chil Seok mengganti namanya menjadi Komarudin. 

Komarudin kemudian dipercaya memimpin Kelompok Putih. Kelompok itu berhasil menghalau pasukan Belanda dengan menghancurkan jembatan yang menghubungkan Wanaraja-Garut. 

Setelah terjadi bentrokan dengan pasukan Belanda, Kelompok Putih akhirnya tertangkap dan dieksekusi mati.

Meski sad ending, namun nama Komarudin alias Yang Chil Seong terus kenang oleh warga Garut. Bahkan jenazahnya kini bersemayam di Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Garut. 

Kini Bupati Garut, Rudi Gunawan tertarik mengenalkan pahlawan Yang Chil Seong melalui film. Kabarnya, Pemkab Garut dan Kedutaan Korea Selatan sudah sama-sama sepakat untuk menggarap film ini. 

Selain Yang Chil Seong, ternyata ada beberapa warga asing yang turut membantu kemerdekaan RI. Dirangkum dari berbagai sumber berikut WNA yang membantu Indonesia.

Laksamana Muda Tadashi Maeda

sejarah.jpgFOTO: Wikipedia

Namanya sudah sering kita dengar, sebab tertulis jelasdi buku sejarah. Laksamana Muda Tadashi Maeda merupakan perwira tinggi Angkatan laut Jepang yang turut membantu proses genting kemerdekaan Indonesia. 

Maeda salah satu orang yang membenarkan dan meyakinkan rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 16 Agustus 1945. 

Ia juga menyediakan tempat tinggalnya di Jl. Teji Meijidori No. 1 (kini Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat) menjadi tempat disusunnya naskah proklamasi.

Berkat jasanya, Laksamana Muda Tadashi maeda mendapat Bintang Jawa Nararya saat upacara kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.

Ichiki Tatsuo

sejarah-2.jpgFOTO: indonesiadefense.com

Ichiki Tatsuo merupakan tentara Jepang yang kemudian membelot dan membantu kemerdekaan Indonesia. 

Tatsuo bergabung dengan PETA dan mendapatkan nama Indonesia dari Haji Agus Salim. Nama Indonesianya Abdul Rahman. Ya, setelah mantap membantu perjuangan Indonesia, ia juga yakin masuk Islam, dengan dibimbing Haji Agus Salim. 

Abdul Rahman kemudian dipercaya menjadi Wakil Komando Pasukan Gerilya Istimewa di Semeru,  Jawa Timur. 

Tahun 1949, Abdul Rahman gugur di Dampit, Malang, Jawa Timur. Ia tertembak oleh tentara Belanda. 

Sebagai bentuk penghargaan atas jasa Ichiki Tatsuo, Presiden Sukarno memberikan teks khusus. Isinya “Kepada sdr. Ichiki Tatsuo dan sdr. Yoshizumi Tomegoro. Kemerdekaan bukanlah milik bangsa saja, tetapi milik semua manusia. Tokyo, 15 Februari 1958. Soekarno.”

Teks tersebut hingga kini masih tersimpan dengan baik di biara Buddha Shei Shoji di Mintoku, Tokyo.

Tomegoro Yoshizumi 

sejarah-3.jpgFOTO: indonesiadefense.com

Sama seperti dua pahlawan sebelumnya, Tomegoro Yoshizumi juga berasal dari Jepang. 

Yoshizumi merupakan perwira Intel Jepang. Ia terafiliasi sebagai wartawan sekaligus mata-mata Jepang. Namun di lapangan ia yang justru banyak membantu Indonesia. 

Sayang, dalam perjuangannya Yoshizumi harus gugur di medan perang pada tahun 1948. Ia pun dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Blitar, Jawa Timur. 

Bobby Earl Freeberg

sejarah-4.jpgFOTO: Wikipedia

Bobby Earl Freeberg seorang berkebangsaan Amerika yang membantu Indonesia saat masa kemerdekaan. 

Ia merupakan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II. Kemudian ia menjadi pilot Indonesia karena hubungan baiknya dengan Opsir Udara III Petit Muharto Kartodirdjo. 

Tugas pertamanya sebagai pilot Indonesia pada tahun 1947, ia terbang ke Maguwo, Yogyakarta. Bob kemudian menabung untuk membeli pesawat Dakota C-47 dan terdaftar di Republik Indonesia sebagai RI-002. 

Bob tidak mendaftarkannya sebagai RI-001 karena selayaknya nama tersebut disanding oleh pesawat pertama yang dimiliki oleh Indonesia. Saat itu Indonesia tidak punya satupun pesawat angkut.

Bob gugur pada 1 Oktober 1948, saat itu pesawatnya hilang kontak dan diketahui jatuh di sekitar Bukit Punggur, Lampung Utara. Bangkai pesawat baru ditemukan pada tahun 1978, dan jenazat Bob tak pernah ditemukan hingga kini. 

Selama di Indonesia, Bob sering berkirim kabar pada keluarganya di Amerika. Ia menceritakan ketidakadilan yang diterima Indonesia karena penjajahan Belanda. 

Di mata Presiden Sukarno, Bob merupakan kawan dari Amerika yang idealis dan ditakdirkan datang untuk membantu Indonesia. 

Muriel Stuart Walker

sejarah-5.jpgFOTO: indonesiadefense.com

Perempuan asal Skotlandia ini berimigrasi ke Amerika lalu pindah ke Bali, Indonesia. 

Saat masa perang kemerdekaan, 1945-1949 ia memutuskan ke Surabaya kemudian direkrut oleh nasional Indonesia bersama Bung Tomo. 

Muriel sadar, saat itu radio merupakan media yang paling efektif untuk menyiarkan suatu peristiwa. Ia pun menjadi penyiar radio Voice of Free Indonesia. Muriel mengabarkan kondisi terkini Suarabaya yang tengah berkecamuk. 

Sebagai jurnalis, ia juga pernah menuliskan membuat pidato bahsa Inggris untuk Presiden Sukarno. 

Wah sepertinya seru ya jika pejuang WNA itu dibuat film biografinya, nggak hanya Yang Chil Seong. Gimana, setuju nggak TIMES Lovers? (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES