Gaya Hidup

Menyelami Lebih Dalam Makna Ruwatan Wayang Beber di Desa Gedompol Pacitan

Minggu, 03 September 2023 - 11:35 | 181.86k
Upacara Adat Ruwatan Wayang Beber dimulai, Kades Gedompol, Susanto memecahkan kendi air suci. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Upacara Adat Ruwatan Wayang Beber dimulai, Kades Gedompol, Susanto memecahkan kendi air suci. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PACITAN – Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, terus memelihara dan melestarikan Wayang Beber, salah satu warisan budaya Pacitan yang memiliki nilai sejarah berharga. 

Upacara adat Ruwatan Wayang Beber, yang digelar setiap tahun ini tidak hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat setempat untuk merayakan budaya mereka yang kaya.

Kepala Desa Gedompol, Susanto, menjelaskan bahwa Wayang Beber adalah bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.

"Upacara Kirab Wayang Beber dan adat bersih desa ini merupakan cara kami untuk mengenang leluhur kami, sekaligus memohon keselamatan dengan cara yang telah diwariskan secara turun temurun," ujarnya, Sabtu (2/9/2023) malam. 

Tahun ini, Ruwatan Wayang Beber di Desa Gedompol menjadi lebih meriah dibandingkan sebelumnya. Seluruh elemen masyarakat terlibat, tidak hanya dalam upacara adat, tetapi juga dalam mendukung ekonomi lokal. Selama satu minggu penuh, rangkaian acara terus bergulir hingga puncak perayaannya di lapangan Ki Nolodremo.

Upacara-Adat-Ruwatan-Wayang-Beber-a.jpgSuasana kirab Wayang Beber di lapangan Nolodremo Desa Gedompol. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia) 

Lapangan Nolodremo Desa Gedompol kini berubah menjadi pasar dadakan, sehingga diklaim mampu mengangkat perekonomian masyarakat.

Ruwatan Wayang Beber ini menjadi puncak dari serangkaian festival budaya Gedompol. Sebelum ruwatan, ada delapan tarian dari empat sanggar dan presentasi menarik lainnya, semua disaksikan oleh masyarakat lokal dan tamu dari daerah lain.

"Sejak siang tadi, warga lokal menjual beragam kuliner dan produk UMKM mereka. Pagelaran budaya ini juga menjadi peluang bagi ekonomi masyarakat," tambah Susanto.

Ada beberapa tujuan digelarnya Ruwatan Wayang Beber. Sebagaimana yang berlaku, sebentar lagi masyarakar Desa Gedompol akan menghadapi musim bercocok tanam. Mereka berharap diberi panen melimpah dan keselamatan. Paling utama melestarikan budaya dan sejarah secara berkelanjutan yang konon sudah ada sejak abad 13 silam.

"Biasanya dalam beberapa minggu ke depan memasuki musim tanam padi, acara ini adalah bentuk syukur kepada Allah SWT atas keselamatan yang diberikan sekaligus tolak bala sehingga kita semua dijauhkan dari mara bahaya maupun pagebluk," ungkap Susanto.

Selain usaha untuk menjaga nenek moyang ini, Pemdes Gedompol juga berkomitmen untuk memperkenalkan Wayang Beber kepada generasi muda dan dunia. Salah satunya dengan mengadakan workshop menggambar dan produk kreatif di hari sebelumnya.

"Budaya kirab dan ruwatan ini harus terus berkembang seiring berjalannya waktu," jelas Susanto.

Dalam kesempatan itu, dalang muda yang juga trah keturunan ke-13 dari Raden Joko Kembang Kuning, menekankan nilai sejarah dari Wayang Beber ini. Menurutnya, Wayang Beber merupakan satu diantara pusaka dari era Kerajaan Majapahit yang telah diselamatkan oleh leluhur mereka dan kini menjadi bagian penting dari kehidupan.

"Wayang Beber ini menceritakan kisah cinta antara Raden Panji Joko Kembang Kuning dengan Dewi Sekar Taji, dan kami sangat bangga akan warisan ini," katanya.

Keunikan Wayang Beber

Keunikan Wayang Beber terletak pada fakta bahwa terdapat 24 gulungan, dan satu gulungan terakhir dijaga dengan ketat dan tidak boleh dibuka.

"Ada 24 gulungan berisi cerita, dan hingga saat ini, gulungan terakhir tetap tersegel. Proses upacara melibatkan kirab, cucuk lampah tari, pagelaran Wayang Beber, dan berlanjut dengan pertunjukan Wayang Kulit yang berlangsung sepanjang malam," ungkap Hartanto.

Dilihat dari perspektif sejarah, Wayang Beber Joko Kembang Kuning yang diwariskan kepada Tri Hartanto lebih tua daripada Wayang Beber Reno Mangun Joyo dari era Kartasura.

Upacara-Adat-Ruwatan-Wayang-Beber-b.jpgRuwatan Wayang Beber bercerita tentang leluhur Desa Gedompol masa silam. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

"Wayang Beber ini terbuat dari Kayu Daluang yang ada di Dusun Karang Talun. Usianya kurang lebih 350 tahun lebih tua dari Wayang Beber Reno Mangun Joyo era Kartasura," jelasnya.

Pelestarian Wayang Beber di Desa Gedompol juga memiliki aspek spiritual yang unik. Perempuan hamil tidak diperkenankan mendekati area pagelaran ruwatan karena diyakini dapat membawa konsekuensi yang serius hingga keguguran. Hal ini telah menjadi bagian dari tradisi dan kesakralan upacara adat ini.

Upacara adat Desa Gedompol tidak hanya menciptakan nostalgia bagi warga setempat, tetapi juga memukau para pengunjung yang datang untuk menyaksikan keindahan dan kekayaan budaya ini. Peserta kirab nampak mengenakan pakaian adat khas Jawa kuno dengan aksesoris yang indah. Sedangkan sang dalang muda dengan gagah membawakan gulungan pusaka, menciptakan suasana magis yang mengingatkan kita pada zaman para leluhur.

Tak hanya itu, Ruwatan Wayang Beber kali ini dikemas lebih bernuansa religius. Salah satu ritual yang tak bisa dipisahkan di mana air suci dari 13 dusun dijadikan satu untuk dijadikan wasilah berdoa.

Air suci yang terkumpul dalam enam kendi tersebut kemudian disiramkan di atas bibit pohon Daluang cikal bakal gulungan Wayang Beber. Ini juga berarti sebagai lambang kesuburan tanah serta mewariskan keberkahan bagi seluruh masyarakat setempat.

Inilah upacara Kirab Pusaka dan Adat Wayang Beber Raden Joko Kembang Kuning khas masyarakat Desa Gedompol yang terus mempertahankan nilai-nilai dan kekayaan budaya leluhur mereka. Hal tersebut membuktikan bahwa warisan budaya dapat hidup selamanya jika dijaga dengan penuh kasih sayang dan komitmen.

Upacara Adat Ruwat Wayang Beber ini kali keempatnya digelar Pemdes Gedompol bersama tokoh dan masyarakat. Setelah itu, acara ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. (*) 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES