Gaya Hidup

Farah Button Perluas Market Lewat Surabaya Fashion Parade 2023

Sabtu, 09 September 2023 - 08:53 | 94.57k
Koleksi Farah Button outfit ready to wear berbahan linen tampil dalam Surabaya Fashion Parade (SFP) 2023, Jumat (8/9/2023).(Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Koleksi Farah Button outfit ready to wear berbahan linen tampil dalam Surabaya Fashion Parade (SFP) 2023, Jumat (8/9/2023).(Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Merek busana lokal asal Yogyakarta, Farah Button menunjukkan eksistensinya di Surabaya. Sebanyak 10 outfit ready to wear berbahan linen ditampilkan dalam Surabaya Fashion Parade (SFP) 2023.

Sutardi selaku desainer sekaligus pemilik Farah Button masih berkutat dengan tema Futurismo dalam peragaan busana kali ini. Motif garis dan bintik menjadi ciri utama identik dengan tren fashion era 1960-an.

Kesan minimalis dan modern yang muncul kala itu berkaitan erat dengan invasi teknologi. Dalam konteks kekinian, Sutardi ingin merayakan kemajuan teknologi lewat fashion yang global dan universal.

Implementasi Futurismo juga terlihat dalam desain yang berkonsep classy easy fashion. Sutardi terinspirasi dari hiruk-pikuk orang-orang selepas pandemi Covid-19.

“Terkadang orang bingung menentukan outfit untuk kasual dan formal, lewat tema Futurismo yang bergaris tegas membuat ready to wear menjadi pakaian yang bisa membuat orang tampil kasual dan formal dengan waktu yang bersamaan,” ujar Sutardi, Jumat (8/9/2023).

Koleksi-Farah-Button-a.jpgFarah Button mengusung tema Futurismo desain berkonsep classy easy fashion dalam Surabaya Fashion Parade (SFP) 2023, Jumat (8/9/2023).(Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Menurut Sutardi, Surabaya menjadi pasar yang cocok dengan desain dan konsep yang diusung Farah Button. Alasannya, Surabaya sebagai kota besar yang berkarakter unik.

Keunikan itu terlihat dari masyarakat Surabaya yang hidup di kota besar tetapi tidak individualistis. Keakraban dan kehangatannya tetap terjaga.

“Jadi selepas kerja, orang masih punya waktu untuk sekadar hang out atau nongkrong dan koleksi-koleksi Farah Button fleksibel dikenakan di kesempatan apa pun,” ucapnya.

Potensi Surabaya yang luar biasa tersebut membuat Sutardi berencana membuka gerai Farah Button di Surabaya sehingga bisa memanjakan pelanggan di kota ini, karena sampai kini dirinya telah memiliki 10 gerai yang tersebar di Yogyakarta, Bali dan Tegal.

Konsisten mengukuhkan eksistensi Farah Button di berbagai perhelatan dalam negeri, Sutardi berkeinginan menembus kancah internasional dan menunjukkan karya bangsa. Bukan tanpa sebab, seluruh produksi Farah Button melibatkan UMKM konveksi lokal Yogyakarta yang didominasi anak muda.

“Hasilnya tidak kalah, konveksi UMKM lokal Yogyakarta bisa berproduksi dengan jahitan layak ekspor,” kata Sutardi.

Ia juga mengapresiasi perhelatan SFP 2023 yang digelar pada 7 sampai 10 September 2023 karena memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berkarya dan berkembang. Desainer-desainer muda memiliki wadah untuk menunjukkan bakat dan eksistensinya di dunia fashion.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengapresiasi SFP 2023 karena kegiatan ini dapat menjadi wadah bagi kaum muda menunjukkan eksitensinya dalam berkarya di dunia industri pakaian.

"Kalau tidak dikasih kesempatan, kreatifitas anak muda pasti terpendam," ujarnya saat menghadiri SFP 2023 di Convention Hall Tunjungan Plaza 3.

Apresiasi ini diberikan Eri ke SFP 2023 karena mampu menghadirkan desainer mancanegara dalam acara tahunan tersebut, disamping itu juga memberikan kesempatan perancang batik Surabaya memamerkan karya mereka di hadapan banyak orang.

“Ada tiga desainer asing, artinya SFP ini terus menunjukan keberhasilan. Semoga kegiatan anak muda di Surabaya terwadahi dan menjadi inspirasi bagi yang lain,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, merek busana lokal asal Yogyakarta, Farah Button menunjukkan eksistensinya di Surabaya. Sebanyak 10 outfit ready to wear berbahan linen ditampilkan dalam Surabaya Fashion Parade (SFP) 2023. Sutardi selaku desainer sekaligus pemilik Farah Button masih berkutat dengan tema Futurismo dalam peragaan busana kali ini. Motif garis dan bitnik menjadi ciri utama identik dengan tren fashion era 1960-an.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES