Gaya Hidup

Darmasiswa dan Perjalanan Diplomasi Budaya Indonesia di Mancanegara

Minggu, 24 September 2023 - 22:16 | 90.54k
Webinar Perjalanan Diplomasi Budaya Indonesia melalui Darmasiswa, Minggu (24/9/2023) (FOTO: Dok.Kemendikbudristek RI)
Webinar Perjalanan Diplomasi Budaya Indonesia melalui Darmasiswa, Minggu (24/9/2023) (FOTO: Dok.Kemendikbudristek RI)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek RI) kembali membuka peluang bagi mahasiswa internasional untuk belajar seni, budaya, dan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi mitra Darmasiswa

Masa pertukaran mahasiswa melalui beasiswa ini akan berlangsung selama 10-12 bulan. Mahasiswa asing berkesempatan belajar seni, budaya, dan Bahasa Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbudristek, Anang Ristanto berharap para peserta Darmasiswa nantinya akan dapat menjadi Duta Budaya Indonesia di negara mereka masing-masing.

“Kami berharap program ini dapat terus membangun duta budaya Indonesia di seluruh dunia dan menjaga eksistensi budaya Indonesia di mata dunia,” ujar Anang, Minggu (24/9/2023).

Program Darmasiswa sendiri dimulai sejak tahun 1974 dalam mendukung pertukaran budaya serta pendidikan antar bangsa. 

Semangat gotong royong menjadi dasar penyelenggaraan program Darmasiswa. Anang Ristanto menjelaskan, selain Kemendikbudristek, berbagai pihak turut mendukung program Darmasiswa.

Mulai dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Keuangan, hingga berbagai perguruan tinggi. 

“Semua pihak bekerja sama untuk memberikan pengalaman terbaik kepada mahasiswa internasional yang berpartisipasi dalam program ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata Anang, program Darmasiswa bukan hanya sebuah beasiswa, tetapi juga sebuah perjalanan diplomasi budaya Indonesia yang terus berlanjut, menghadirkan keindahan dan keragaman budaya Indonesia kepada dunia, dan membantu menjembatani perbedaan budaya dalam era globalisasi yang semakin kompleks.

Kemendikbudristek terus mendorong agar program Darmasiswa menjadi alat promosi bahasa, seni, dan budaya Indonesia yang efektif. 

"Di era globalisasi, penting untuk memajukan persahabatan, persamaan, dan nilai-nilai kemanusiaan melalui pertukaran budaya," imbuhnya. 

Pengelola Program Darmasiswa di Universitas Indonesia, Erni C. Westi memaparkan bahwa minat kaum muda internasional terhadap program Darmasiswa tidak pernah padam. 

“Kemurahan hati serta konsep saling menghargai yang kita terapkan membuat mereka merasa diterima dan mendapat pengalaman yang baik, sehingga mereka dengan antusias menceritakan pengalaman mereka kepada teman-teman sesama negara dan rekan Internasional mereka,” ucapnya.

Guna mencapai tujuan Darmasiswa, program ini menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran bahasa, seni, dan budaya selama 10 hingga 12 bulan tersebut.

Erni menjelaskan bahwa mereka juga menawarkan ekstrakurikuler seperti membatik, menari, bermain musik, dan program NgoPI (Ngobrol Bareng BIPA UI) untuk mendukung kemahiran berbicara peserta. 

Selain itu, program ini membekali peserta dengan kemampuan membaca, menyimak, berbicara, dan menulis dalam bahasa Indonesia.

Hal tersebut selaras dengan pernyataan dari dua peserta Darmasiswa, Alisia dan Nathan. Mereka merasa tertarik oleh kekayaan budaya Indonesia dan ingin mempelajarinya lebih dalam. 

“Saya ingin menggali lebih dalam kebudayaan Sumatera Barat, terutama budaya Minangkabau, kuliner khasnya, dan bahasa Minang yang unik,” ujar Alisia.

Sementara itu, Nathan mengungkapkan motivasinya belajar Bahasa Indonesia karena jatuh cinta dengan budaya Indonesia. 

“Saya jatuh cinta pada Indonesia karena orang-orang di sini sangat ramah. Selain itu, saya juga menemukan banyak hal menarik di sini, sehingga saya memutuskan untuk belajar bahasa Indonesia, hingga akhirnya, saya bergabung dengan program Darmasiswa,” tutur Nathan.

Setelah menyelesaikan program Darmasiswa, Alisia ingin kembali ke Jerman dan mengajarkan budaya Indonesia, khususnya tari-tarian nusantara. Sementara itu, Nathan bercita-cita untuk dapat tinggal dan bekerja di Indonesia, kemudian memperkuat koneksi bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Koordinator Kerja Sama Luar Negeri Kemendikbudristek, Yunitasari mengatakan bahwa minat yang tinggi terhadap program Darmasiswa dibuktikan dengan jumlah alumni yang kini telah lebih dari 9.000 orang dari 126 negara yang berbeda.  Menurutnya, hal tersebut ditunjang oleh prinsip yang diterapkan oleh program ini. 

“Program Darmasiswa didukung oleh Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 10 tahun 1961, serta menerapkan prinsip resiprokal dalam hubungan internasional dan memainkan peran penting dalam diplomasi pendidikan dan kebudayaan, termasuk mempromosikan bahasa, seni, dan budaya Indonesia di panggung internasional,” katanya.

Program Darmasiswa, kata Yunitasari, diharapkan dapat menciptakan duta-duta budaya Indonesia yang akan tersebar di seluruh dunia yang dapat memperkuat hubungan bilateral, mempromosikan budaya Indonesia, dan menjaga eksistensi budaya Indonesia di dunia.

Dengan membuat mereka merasakan langsung keragaman budaya dan keramah-tamahan masyarakat Indonesia, diharapkan citra positif Indonesia sebagai negara yang toleran, demokratis, dan moderat akan terus meningkat.

"Selain itu para duta Indonesia pun diharapkan dapat mempromosikan dan melestarikan budaya Indonesia di negaranya masing-masing, sehingga hubungan bilateral Indonesia dengan negara lain akan meningkat,” tutur Yunitasari. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES