Gaya Hidup

Supermarket: Dulu Jadi Raja, Kini Perlahan Mulai Jatuh

Rabu, 01 November 2023 - 03:22 | 53.48k
The original Piggly Wiggly Store, Memphis, Tennessee, 1918 (FOTO: Clarence Saunders yang dimuat di Wikipedia)
The original Piggly Wiggly Store, Memphis, Tennessee, 1918 (FOTO: Clarence Saunders yang dimuat di Wikipedia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Sebelum supermarket ada, toko kelontong adalah tempat utama untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Toko kelontong adalah toko kecil yang biasanya dijalankan oleh pemiliknya sendiri. Mereka menawarkan berbagai barang, mulai dari makanan hingga perlengkapan rumah tangga. Namun, pembeli harus berbelanja di berbagai toko untuk memenuhi semua kebutuhan mereka.

Piggly Wiggly, Awal Supermarket Muncul

Konsep supermarket pertama kali muncul di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Pada tahun 1916, Piggly Wiggly, dikenal sebagai supermarket pertama, didirikan oleh Clarence Saunders di Memphis, Tennessee. Konsep ini mengubah cara orang berbelanja dengan menghadirkan inovasi-inovasi yang revolusioner.

Salah satu inovasi utamanya adalah penggunaan keranjang belanja. Sebelum supermarket, pembeli biasanya memberikan pesanan mereka kepada karyawan toko, dan barang-barang akan diambilkan untuk mereka. Dengan hadirnya keranjang belanja, konsumen dapat berkeliling toko dan memilih sendiri barang-barang yang mereka inginkan. Ini memberikan kebebasan dan kenyamanan yang besar kepada pembeli.

Selain itu, supermarket Piggly Wiggly juga menggunakan harga tetap pada semua produk mereka. Ini merupakan ide baru dan brilian pada saat itu. Piggly Wiggly memungkinkan pembeli untuk dengan mudah membandingkan harga dan membuat keputusan berdasarkan kebutuhan dan anggaran mereka.

Perkembangan Supermarket

Dari konsep awal Piggly Wiggly, supermarket menyebar dengan cepat ke seluruh Amerika Serikat dan kemudian ke seluruh dunia. Supermarket memberikan keuntungan besar dalam efisiensi dan kenyamanan berbelanja. Mereka juga memungkinkan produsen untuk mencapai pasar yang lebih luas.

Selama tahun 1930-an dan 1940-an, supermarket mulai menawarkan produk segar seperti buah, sayuran, dan daging. Ini menggabungkan konsep toko kelontong dengan pasar tradisional, menciptakan tempat yang lengkap untuk berbelanja.

Transformasi Supermarket

Seiring berjalannya waktu, supermarket terus mengalami transformasi. Mereka menjadi lebih besar dan lebih modern, menawarkan berbagai pilihan produk dari seluruh dunia. Supermarket juga mulai menggunakan teknologi, seperti sistem kasir otomatis dan program loyalitas pelanggan, untuk meningkatkan pengalaman belanja.

Selain itu, beberapa supermarket juga mulai menekankan produk-produk organik, makanan sehat, dan keberlanjutan. Ini mencerminkan perubahan dalam preferensi konsumen yang semakin peduli akan makanan yang mereka konsumsi dan dampaknya pada lingkungan.

Pada saru titik, supermarket berubah menjadi bagian integral dalam masyarakat modern. Mereka menyediakan akses yang mudah ke berbagai produk dan memudahkan orang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, supermarket juga berperan sebagai pendorong ekonomi dengan menciptakan lapangan pekerjaan dan mendukung produsen lokal.

Titik Balik Dominasi Supermarket

Supermarket sekarang mulai menghadapi berbagai tantangan yang mengancam eksistensinya. Beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa supermarket mulai perlahan hilang.

1. Maraknya Belanja Online. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi penurunan popularitas supermarket adalah munculnya belanja online. Dengan kemajuan teknologi dan akses mudah ke internet, konsumen sekarang dapat dengan mudah memesan berbagai produk dari kenyamanan rumah mereka. Situs e-commerce besar dan aplikasi pengiriman makanan telah mengubah cara orang berbelanja, terutama ketika datang ke barang-barang sehari-hari seperti makanan, barang kebersihan, dan produk rumah tangga.

2. Toko Minimarket dan Warung Tradisional. Toko minimarket dan warung tradisional memiliki peran yang semakin signifikan dalam berbelanja harian. Minimarket menawarkan kenyamanan yang lebih besar dengan jarak yang lebih dekat ke tempat tinggal konsumen, sementara warung tradisional sering kali mempertahankan hubungan yang kuat dengan pelanggan dan menyediakan barang-barang dalam jumlah kecil. Ini bisa menjadi alternatif yang lebih praktis dibandingkan dengan pergi ke supermarket yang lebih besar.

3. Peningkatan Kesadaran Soal Keberlanjutan. Konsumen semakin peduli akan keberlanjutan dan sumber daya alam. Hal ini telah memengaruhi preferensi belanja mereka, dengan lebih banyak orang mencari produk organik, lokal, dan ramah lingkungan. Toko-toko yang berfokus pada produk-produk ini atau yang lebih kecil dan berorientasi pada produk lokal mungkin lebih diminati daripada supermarket besar yang menawarkan berbagai produk konvensional.

4. Beban Pemeliharaan dan Biaya Operasional. Operasional supermarket yang besar memerlukan biaya yang signifikan untuk pemeliharaan, pengelolaan stok, dan gaji karyawan. Dalam persaingan dengan bisnis belanja online dan toko kecil, biaya-biaya ini dapat membuat supermarket menghadapi tekanan finansial yang signifikan.

5. Pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 memengaruhi cara orang berbelanja secara signifikan. Banyak konsumen beralih ke pembelian online dan berusaha menghindari kerumunan di tempat-tempat umum, termasuk supermarket. Meskipun beberapa supermarket mengadaptasi model bisnis mereka dengan menawarkan layanan pengiriman dan pesanan online, mereka tetap menghadapi ketidakpastian dalam hal pandemi dan perubahan perilaku belanja.

6. Perkembangan Format Belanja Lainnya. Format belanja lainnya seperti toko khusus (misalnya, toko makanan organik atau toko kesehatan), pusat perbelanjaan dengan berbagai toko dan restoran, serta penawaran layanan pengiriman makanan siap saji semakin populer. Hal ini menghadirkan alternatif yang lebih menarik bagi konsumen dan dapat mengurangi daya tarik supermarket.

7. Perubahan Gaya Hidup dan Preferensi Konsumen. Perubahan dalam gaya hidup dan preferensi konsumen juga berperan dalam penurunan popularitas supermarket. Konsumen mungkin lebih memilih makan di luar atau memesan makanan siap saji daripada memasak di rumah, yang mengurangi kebutuhan akan perbelanjaan besar-besaran di supermarket.

Akibat berbagai faktor tersebut, banyak supermarket menghadapi tekanan untuk berinovasi dan menyesuaikan model bisnis mereka agar tetap relevan. Beberapa supermarket menghadapi tantangan ini dengan menawarkan pengalaman berbelanja yang lebih unik, mengintegrasikan teknologi, atau menekankan keberlanjutan dan produk lokal dalam upaya untuk mempertahankan pangsa pasar mereka.

Akan kah supermarket hilang? Supermarket tidak akan hilang asal bisa beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan teknologi yang sangat dinamis saat ini. Menggabungkan inovasi dan teknologi adalah kuncinya.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES