Gaya Hidup

Batu Akik Pacitan, Kepercayaan dan Kesenian yang Tak Lekang oleh Waktu

Rabu, 31 Januari 2024 - 01:32 | 51.92k
Yongki menunjukkan koleksi baru akik Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Yongki menunjukkan koleksi baru akik Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PACITAN – Batu Akik Pacitan ternyata menyimpan kepercayaan dan kesenian yang seolah tidak akan pernah lekang oleh waktu. 

Seperti cerita Yongki (52), pria asal Kediri yang lama menetap di Pacitan ini sudah menggeluti batu akik sejak awal 2000an.

Bapak 6 anak ini selalu memenuhi jari-jarinya dengan berbagai jenis batu akik. Ia bahkan memasang pernak-pernik batu akik pada rompi gelap lusuh yang ia kenakan setiap hari.

Menurut Yongki, kegemarannya terhadap batu akik karena merupakan tradisi dan budaya Pacitan. Bahkan, ia pernah meraih juara dalam lomba batu akik yang diselenggarakan oleh PLUT Pacitan pada tahun 2014.

"Saya suka batu akik karena ini merupakan tradisi dan budaya Pacitan. Saya ingin ikut melestarikannya," katanya, saat ditemui di rumahnya Desa Bangunsari, Selasa (30/1/2024).

Yongki memiliki berbagai jenis batu akik, di antaranya badar lumut, bacan, black fosil, opsidian, badar besi, borneo, dan kantong mas. Ia percaya bahwa batu akik kantong mas dapat mendatangkan rezeki.

"Batu akik kantong emas ini banyak mendatangkan rezeki. Ini isinya serbuk emas," ujarnya.

Lebih lanjut, Yongki mengungkapkan pernah ditawar mahal oleh seseorang untuk batu akik tersebut, namun ia menolak karena ingin menyimpannya sendiri.

"Ini dulu pernah ditawar mahal orang, tapi saya menolak, mau saya pakai sendiri. Masalahnya membawa berkah," tambahnya.

Selain itu, Yongki menilai bahwa peminat batu akik saat ini sudah surut. Dahulu, ia bisa mendapatkan Rp15 juta per jam dari penjualan batu akik. "Sekarang peminatnya sudah surut. Belum ada peminat lagi," terangnya.

Meskipun peminatnya sudah surut, Yongki tetap menyimpan koleksi batu akiknya. Ia berharap masih ada orang yang tertarik untuk membeli koleksinya.

"Koleksi masih ada. Kalau ada yang minat, ya dijual. Karena dulu saya pernah punya nama, pernah menjuarai kelas batu akik di Kabupaten Pacitan," jelasnya.

Akik Pacitan begitu dikenal lantaran memiliki ciri khas berbeda dari batu mulia daerah lain. Selain karena keindahan warnanya, akik Pacitan juga memiliki sejarah panjang seiring usianya yang diperkirakan sudah eksis sejak ribuan tahun silam.

Akik Pacitan juga memiliki berbagai varian jenis dan nama. Ada Bacan, Kalimaya, Kecubung, Giok, Fosil dan Jesper. Satu lagi paling populer, yakni batu akik yang berasal dari Kali Sendang Donorojo atau familiar disebut Kalsedon.

Beberapa masyarakat mempercayai Akik Pacitan tak hanya menjadi perhiasan saja melainkan bisa mendatangkan kepercayaan dan kewibawaan bagi pemiliknya. Akik Pacitan merupakan warisan kesenian sekaligus tradisi leluhur yang tetap akan lestari tak pernah lekang oleh waktu. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES