Gaya Hidup

Usung Konsep Kontemporer, Pemuda Ini Ingin Lekatkan Batik pada Generasi Muda

Jumat, 23 Februari 2024 - 20:31 | 32.25k
Pemilik Toko Batik, Daery Farras, menunjukkan kegiatannya membatik yang dilakukan karyawannya. (Foto: Edis/TIMES Indonesia)
Pemilik Toko Batik, Daery Farras, menunjukkan kegiatannya membatik yang dilakukan karyawannya. (Foto: Edis/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Seorang pengusaha muda batik, Daery Farras (23), ingin membuat cara bagaimana agar warisan budaya dunia asli Indonesia, batik Indonesia disukai para kaum muda. 

Pria 23 tahun warga Sembungan, Bulurejo, Lendah, Kulonprogo, ini kemudian berinisiatif mengembangkan motif batik yang mengusung konsep kontemporer atau modern. Yaitu konsep  yang menyelaraskan selera yang disukai oleh kaum muda. 

"Minat kaum muda belum kuat (kecintaan terhadap batik) makanya kita mencoba konsep batik kontemporer. Kita mengambil konsep untuk anak muda. Kita coba dengarkan motif motif tertentu sesuai dengan pasar kontemporer," ungkap Daery Farras kepada awak media, di Toko Batik Farras, miliknya, yang terletak di Jalan Kolonel Sugiono, Deresan, Ringinharjo, Bantul, Jumat (23/2/2024).

Toko-Batik-2.jpg

Farras yang merupakan lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta jurusan manajemen ini mengungkapkan bahwa motif batik abstrak cenderung diminati oleh generasi muda.

"Motifnya macam-macam, tapi khas nya sendiri ke kontemporer lebih ke abstrak, kalau anak muda," sambung Farras, yang memiliki empat showroom 'Batik Farras' yang tersebar di DIY ini.

Cara ini, dinilainya cukup efektif, karena mereka dapat memilih motif batik yang sesuai dengan keinginannya. Disisi lain, harga yang ditawarkan relatif murah yaitu mulai dari Rp100 -250 ribu. 

Diungkapkan, meskipun menyasar segmen kawula muda, namun ia tetap menyesuaikan permintaan konsumen. Baik jenis kontemporer maupun klasik. 

Lebih lanjut bisnis yang digeluti sejak 2016, meneruskan usaha sang ayah yang dirintis sejak 2006 ini pun makin berkembang bahkan pangsa pasar Batik Farras kini telah merambah berbagai segmen. Bahkan pangsa pasar tak hanya individu, tapi komunitas, organisasi bahkan instansi maupun lembaga pemerintahan.

"Yang kuat selain segmen anak muda, juga instansi kebanyakan pengadaan seragam," tandasnya.

Toko-Batik-3.jpg

Farras menyampaikan bahwa omzet per bulan dari usahanya ini mencapai Rp40-50 juta. Ia yang kini memiliki 25 karyawan, menyebutkan  strategi pemasaran tidak hanya melalui offline namun juga memanfaatkan media online, terutama media sosial seperti Instagram dan TikTok.

Sementara itu, ia berharap para generasi muda, tidak malu menggunakan pakaian yang merupakan ciri khas warisan budaya adiluhung ini. Bahkan, ia menyebut asal muasal batik salah satunya terlahir dari Ngayogyakarta Hadiningrat ini. Sehingga sebagai generasi penerus, sudah sepantasnya melestarikan warisan budaya yang sudah diakui Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui  UNESCO sejak 2009 silam ini. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES