Gaya Hidup

Tumpeng Sewu, Ritual Sakral Turun Temurun Masyarakat Osing

Senin, 10 Juni 2024 - 14:11 | 19.21k
Para warga dan wisatawan sedang menikmati santapan tumpeng yang dilengkapi dengan pecel pithik dan sayur lalapan, lauk khas warga Kemiren pada ritual adat Tumpeng Sewu (FOTO: Humas Pemkab for TIMES Indonesia).
Para warga dan wisatawan sedang menikmati santapan tumpeng yang dilengkapi dengan pecel pithik dan sayur lalapan, lauk khas warga Kemiren pada ritual adat Tumpeng Sewu (FOTO: Humas Pemkab for TIMES Indonesia).

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Pada Minggu (9/6/2024) malam, Suku Osing di Desa Kemiren menggelar ritual adat yang dikenal sebagai Tumpeng Sewu. Ritual ini bukan sekadar acara, melainkan warisan adat leluhur yang telah dijaga dan dilestarikan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Sebagai salah satu warisan berharga dari suku asli Banyuwangi, Tumpeng Sewu diadakan secara khusyuk setiap tahunnya menjelang datangnya Idul Adha. Lebih tepatnya seminggu sebelum hari raya kurban.

Sejak pukul 18.00 jalan menuju Desa Adat Kemiren telah ditutup. Semua warga yang ingin menuju desa ini harus berjalan kaki demi menghormati ritual adat ini.

Sementara warga telah menyuguhkan ribuan tumpeng ditutup daun pisang di sepanjang jalan. Dilengkapi lauk khas warga Kemiren, pecel pithik dan sayur lalapan sebagai pelengkapnya.

Pecel pitik merupakan hidangan ayam kampung panggang dan parutan kelapa dengan bumbu khas Osing. Menu ini wajib ada dalam setiap tumpeng.

Usai salat Magrib, ritual ini mulai dilangsungkan. Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar mau pun karpet yang tergelar di depan rumah.

Ricky Levaue, wisatawan asal Perancis mengaku sangat terkesan melihat semangat warga gotong royong menyiapkan selamatan tersebut.

"I'm amazed. Saya tidak pernah menemukan kebersamaan seperti ini di negara-negara lain yang pernah saya kunjungi. Ini sungguh menyenangkan," kata Ricky.

Suasana guyub dan kebersamaan terasa meskipun saat banyak di antara mereka yang baru pertama kali bertemu. Mereka hanyut dengan suasana yang penuh kebersamaan dan kesenangan.

"Aroma lezatnya menggugah selera. Lebih nikmat karena menyantap bersama warga di samping temaram cahaya obor," kata Muntaha, wisatawan asal Solo.

Sebelum tradisi menyantap tumpeng, iring-iringan barong cilik dan barong lancing melintasi jalan desa dan melakukan Ider Bumi. Barong diarak dari dua sisi timur dan barat, lalu bertemu di titik utama di depan Balai Desa Kemiren.

Setelah itu, warga diajak berdoa bersama agar desanya dijauhkan dari segala bencana dan sumber penyakit.

Pagi harinya sebelum dimulai selamatan masal, warga telah melakoni ritual mepe kasur. Dalam tradisi  juga digelar Mocoan Lontar Yusup semalam suntuk. Rangkaian ritual ini diyakini merupakan selamatan tolak bala.

"Ini merupakan wujud syukur kami kepada Tuhan, dan doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindari dari bala," tutur Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin.

Secara terpisah, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan tradisi dan budaya turun-temurun di Banyuwangi terus tumbuh dan berkembang, hingga menjadi atraksi wisata yang diminati wisatawan.

Saat ini banyak travel agent yang membuat paket-paket wisata yang memasukkan atraksi budaya sebagai salah satu destinasinya, salah satunya Tumpeng Sewu.

“Kekhasan semacam ini banyak diminati wisatawan. Wisata tradisi ini juga bisa memperpanjang lama tinggal wisatawan di Banyuwangi,” ujarnya.

Desa Kemiren tahun ini masuk 50 besar dalam ajang Anugrah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Nilai luhur tradisi dan budaya tersebut menjadi salah satu penilaian penting dalam kontestasi ADWI 2024. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES