Gaya Hidup

Mengenal Tradisi Sumpah Banyu Taman di Kabupaten Pemalang

Sabtu, 29 Juni 2024 - 12:32 | 21.17k
Blumbang atau kolam air yang berada di Desa Taman, kecamatan Taman Pemalang (Foto: mediakita)
Blumbang atau kolam air yang berada di Desa Taman, kecamatan Taman Pemalang (Foto: mediakita)

TIMESINDONESIA, PEMALANGKabupaten Pemalang pada hakikatnya menurut beberapa pemerhati sejarah adalah daerah yang memiliki usia sangat tua. Beberapa tradisi budaya daerah berjulukan Pusere Jawa ini masih melekat erat di sebagian warga. Salah satunya adalah tradisi sumpah Banyu Taman, yaitu cara menyelesaikan sengketa hukum yang masih dipakai sebagian warga.

Sumpah dengan cara meminum Air Taman ini tidak dengan menggunakan sembarang air. Namun dijadikan media buat penyelesaian suatu perkara ini adalah air yang diambil dari sebuah blumbang atau kolam tua yang terletak di Desa Taman, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Blumbang tersebut diyakini memiliki kekuatan magis. Sebagian warga menyakini air blumbang ini memiliki efek langsung jika diminum bagi orang yang bersalah. Sejauh ini mereka meyakini kekuatan untuk penyelesaian sebuah perselisihan atau sangkaan saat seseorang diduga bersalah.

Warga sekitar menyebut kolam ini dengan nama Blumbang Beji. Padahal Beji sendiri adalah nama sebuah desa yang berdampingan persis dengan Desa Taman. Namun justru di sinilah jejak cerita Banyu Taman terjadi.

Menurut Aisyah (69), juru kunci Blumbang Beji, dahulu Blumbang Taman ini terletak di Desa Beji. Penyebab bisa berpindah ke Desa Taman karena adanya kisah adu kemampuan ilmu kesaktian, antara Mbah Alif dan Mbah Menu.

Mbah Alif sendiri, masih menurut Aisyah, dikenal sebagai salah satu tokoh  berpengaruh di Desa Taman. 

Sebaliknya, Mbah Menu pun merupakan tokoh yang disegani di Desa Beji. Kedua tokoh ini memiliki hubungan baik, walau secara keilmuan keduanya sepertinya saling bersaing.

Lebih lanjut, juru kunci Blumbang Beji menuturkan, Mbah Alif pernah berkunjung ke rumah Mbah Menu. Sesampai di depan pintu, tiba-tiba membuka dengan sendirinya  dan engsel pintu mengeluarkan suara seperti rintihan orang menangis.

Mbah Alif pun merasa tersinggung. Sementara tuan rumah dengan santai tengah duduk di kursi ruang tamu rumahnya yang letaknya jauh dari pintu itu.

Tak ada orang di dekat pintu yang telah terbuka, Mbah Alif membaca hal itu sebagai pamer ilmu.

Dengan wajah tenang, Mbah Alif pun masuk tanpa menunjukan perasaannya yang memanas karena dapat suguhan tak enak dari tuan rumah untuk beradu ilmu. 

Mbah Alif sadar bahwa terbukanya pintu dengan sendirinya tadi adalah sebuah pertanda tantangan untuk salin adu kesaktian.

Setelah lama bercengkerama, tibalah saat makan siang.Mbah Menu mempersiapkan untuk makan  siang bersama.

Saat itulah, Mbah Alif merasa saatnya untuk berbalas unjuk kekuatan. Setelah ikan bakar habis dimakan, ia menaruh tulang-belulang ikan ke dalam kobokan, tempat ia cuci tangan. Yang terjadi selanjutnya, tulang belulang ikan itu menyatu dan dapat bergerak layaknya kerangka ikan yang hidup di dalam air.

Tak berhenti di situ, melihat kesaktian Mbah Alif, Mbah Menu kembali memberi tantangan. Kali ini ia menantang Mbah Alif untuk membawa pulang Blumbang yang ada dibelakang rumahnya. Di luar dugaan, ternyata Mbah Alif dapat membawa pulang Blumbang itu hanya dengan sekejap mata.

Sejak saat itu, Blumbang tersebut berpindah tempat ke dekat rumah Mbah Alip di Desa Taman. Dan entah siapa yang memulai, yang jelas orang- orang tetap menyebutnya dengan Blumbang Beji, meskipun letaknya di Desa Taman.

Sri Pamuji (67), warga Desa Kedung Banjar, Kecamatan Taman mengatakan, jika Banyu Taman itu dulu saat ditakuti masyarakat Kabuoaten Pemalang.

"Terlepas kebenaran keampuhanya yang jelas Banyu Taman ini ada sisi positif yang dipesankan lewat cerita keampuhannya agar setiap orang dituntut untuk jujur dan jangan gampang menuduh orang bersalah" tuturnya saat ditemui di rumahnya, Sabtu (29/6/2024). (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES