Advertisement
Gaya Hidup

Srikandi Damkar Pemalang: Kisah Jenni, dari Matematika ke Penjinak Api

enni Liliana (19), salah satu srikandi damkar Pemalang, tinggalkan kuliah matematika untuk jadi CPNS pemadam kebakaran. Kisah menjinakan api dan upaya membantu masyarakat sangat inspiratif .

TIMES Indonesia,
Srikandi Damkar Pemalang: Kisah Jenni, dari Matematika ke Penjinak Api
Jenni Liliana saat pemadaman kebakaran rumah di Desa/kecamatan Belik Pemalang (Foto: Ragil)
A-AA+

PEMALANG Di dunia profesi pemadam kebakaran yang kerap didominasi laki-laki, Kota Pemalang di Jawa Tengah memiliki tiga srikandi tangguh. Salah satunya adalah Jenni Liliana (19), yang bersama Triana Sari (22) dan Arita Andamari (20), membentuk trio petugas damkar perempuan di Pos Kecamatan Belik, wilayah selatan kota tersebut.

Penampilan Jenni di rumahnya tak berbeda dengan gadis seusianya: sibuk membantu orang tua memasak dan membersihkan rumah. Namun, transformasinya terlihat saat ia mengenakan seragam lapangan berwarna biru, siap menjalankan moto kerja: pantang pulang sebelum api padam.

Advertisement

“Saya bergabung di Damkar Kota Pemalang belum ada satu tahun, lewat Jalur CPNS,” cerita Jenni pada Selasa (21/10/2025), mengawali perjalanannya sebagai bagian dari pasukan penunduk api.

Jenni-Liliana-ds.jpg
Perjalanan kariernya terbilang unik. Perempuan berparas cantik yang sempat menempuh pendidikan tinggi ini memilih mengabdi sebagai pemadam kebakaran. “Sempat kuliah di Pendidikan Matematika UM Purwokerto, tapi keluar ketika semester 4, karena diterima damkar melalui CPNS formasi tahun 2024 lalu,” ujarnya.

 

Berbagai tantangan sempat menghadang di awal kariernya, namun bimbingan atasan dan senior membuatnya kini mampu berdiri di garda terdepan saat menghadapi kobaran api.

“Bangga menjadi bagian dari pelayan masyarakat, yang berinteraksi langsung dalam membantu dan menyelamatkan nyawa,” tutur Jenni. Ia mengutip sebuah pepatah, “Khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”

Advertisement

Di balik kebanggaan, ada juga duka yang ia rasakan. “Dukanya saya kemas dalam tantangan kerja, yaitu bekerja dengan risiko tinggi, bahaya selalu mengintai saat penanganan. Tapi, semua itu terbayar ketika penanganan berjalan lancar dan berhasil,” tambahnya.

Setahun menjalani profesi ini, perempuan asal Kemangkon, Purbalingga ini mengaku sangat mencintai pekerjaannya. Ia pun tidak menyesal memilih jalan hidup sebagai penjinak api.

Jenni-Liliana-b.jpg

“Pilih damkar, soalnya kita selalu ketemu orang yang berbeda. Ada rasa tersendiri kalau bisa bantu orang,” tutupnya dengan senyum. (*)

 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ragil Surono
PenulisRagil SuronoBergabung dengan TIMES INDONESIA dari bulan Mei 2024 , meliput berbagai topik, hukum,sejarah, kuliner, Sosial Masyarakat dan adat budaya
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia