Ngobrol Sama Anabul Ternyata Bisa Jadi Tanda Otak Jenius
Riset membuktikan ngobrol dengan anabul bukan hal aneh, melainkan tanda kecerdasan sosial, empati, dan kreativitas otak manusia.

JAKARTA – Pernah ketahuan ngobrol sendiri dengan kucing atau anjing peliharaan? Bagi sebagian orang, kebiasaan ini kerap dianggap aneh, kekanak-kanakan, bahkan dicap “halu”. Namun, sains modern justru memandangnya dari sudut yang berbeda.
Berbicara dengan hewan peliharaan ternyata berkaitan dengan kecerdasan sosial dan kemampuan kognitif yang tinggi. Fenomena ini dikenal sebagai anthropomorphism, yakni kecenderungan manusia memberi sifat, emosi, atau niat layaknya manusia kepada makhluk non-manusia, termasuk hewan.
Bukan Sekadar Imut, tapi Proses Otak Kompleks
Dulu, anthropomorphism sering dianggap sebagai bentuk imajinasi berlebihan. Namun, riset terbaru menunjukkan sebaliknya. Nicholas Epley, Profesor Ilmu Perilaku dari University of Chicago, menyebut bahwa proses memahami pikiran manusia dan hewan melibatkan mekanisme psikologis yang sama.
“Proses psikologis untuk memahami pikiran manusia itu sama persis dengan saat kita mencoba memahami pikiran hewan,” ujar Epley.
Menurut penelitiannya, memanusiakan hewan peliharaan justru menandakan kapasitas otak yang kompleks dan kreatif. Otak perlu bekerja ekstra untuk membayangkan sudut pandang makhluk yang tidak bisa berbicara, membaca bahasa tubuhnya, serta menyesuaikan respons emosional.
Nada Manja Bukan Tanpa Alasan
Saat berbicara dengan anabul, banyak orang secara refleks menggunakan nada suara lebih tinggi dan lembut. Ini bukan sekadar gaya lucu. Studi psikologi menunjukkan bahwa nada tersebut merupakan strategi komunikasi adaptif untuk membangun ikatan emosional dan menarik perhatian hewan.
Tanpa disadari, manusia menyesuaikan cara berkomunikasi agar lebih efektif, sebuah kemampuan yang erat kaitannya dengan empati dan kecerdasan sosial.
Hewan Peliharaan Kini Jadi Keluarga
Perubahan relasi manusia dan hewan juga terlihat jelas secara sosial. Jika dulu hewan dipelihara berdasarkan fungsi—anjing untuk menjaga rumah, kucing untuk mengusir tikus—kini perannya bergeser.
Istilah “anabul” (anak bulu), “mommy/daddy”, hingga candaan manusia sebagai “babu” dan kucing sebagai “majikan” mencerminkan perubahan status hewan peliharaan menjadi anggota keluarga inti. Mereka mendapat perhatian medis, makanan khusus, hingga perlakuan emosional yang setara.
Jadi, Masih Malu Ngobrol Sama Anabul?
Berbicara dengan hewan peliharaan bukan tanda keanehan. Justru, kebiasaan ini sering dikaitkan dengan:
-
Imajinasi yang aktif dan kreatif
-
Empati serta kecerdasan sosial tinggi
-
Kemampuan membangun koneksi emosional lintas spesies
Mereka mungkin tak bisa membalas dengan kata-kata. Namun, tatapan mata, dengkuran, atau kibasan ekor sering kali menjadi bahasa paling jujur yang bisa dipahami manusia.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

