Studi Terbaru Menyebut Remaja Bisa Berlangsung Hingga Usia 24 Tahun
Studi terbaru menyebut remaja bisa berlangsung hingga usia 24 tahun. Temuan ini didukung perkembangan otak dan perubahan sosial yang memengaruhi kematangan mental.

JAKARTA – Pandangan ilmiah tentang usia remaja kembali mengalami penyesuaian. Studi terbaru menyebut remaja bisa berlangsung hingga usia 24 tahun, seiring temuan di bidang neurologi dan psikologi perkembangan yang menunjukkan bahwa kematangan mental tidak selalu sejalan dengan usia biologis.
Para ahli menilai, seseorang belum tentu sepenuhnya matang secara emosional dan kognitif pada usia 18 atau 21 tahun, sebagaimana definisi remaja yang selama ini umum digunakan.
Perkembangan Otak Belum Selesai di Usia Muda
Penelitian neurologi menunjukkan bahwa perkembangan otak manusia, khususnya prefrontal cortex—bagian yang berperan dalam pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan perencanaan—belum sepenuhnya matang pada usia awal 20-an. Proses pematangan ini bahkan dapat berlanjut hingga mendekati usia 30 tahun.
Temuan ini mendorong para peneliti untuk memandang masa remaja sebagai fase yang lebih panjang. Dalam sejumlah kajian, usia remaja diusulkan berlangsung hingga 24 tahun, sementara fase dewasa awal mencakup rentang usia 25 hingga 30 tahun atau lebih.
Faktor Sosial Ikut Memperpanjang Transisi Dewasa
Selain faktor biologis, perubahan sosial turut memengaruhi pergeseran batas usia remaja. Di banyak negara, termasuk Indonesia, pencapaian peran dewasa seperti pekerjaan tetap, pernikahan, dan kemandirian ekonomi kini terjadi lebih lambat dibanding generasi sebelumnya.
Tekanan ekonomi global, meningkatnya biaya hidup, serta tuntutan pendidikan yang semakin panjang membuat transisi menuju kedewasaan berlangsung lebih bertahap. Akibatnya, muncul jarak antara usia kronologis dan kesiapan psikologis seseorang.
Belum “Mapan” di Usia 30-an Dianggap Wajar
Para ahli menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah kegagalan individu, melainkan respons terhadap dinamika zaman. Dalam konteks ini, merasa belum sepenuhnya mapan di usia awal 30-an dipandang sebagai hal yang wajar.
Penilaian terhadap kedewasaan kini tidak lagi semata ditentukan oleh angka usia, melainkan oleh stabilitas emosional, kemampuan adaptasi, dan kesiapan mental.
Dampak pada Kebijakan dan Kesehatan Mental
Pendekatan baru ini mulai memengaruhi kebijakan publik, khususnya di bidang kesehatan mental dan ketenagakerjaan. Sejumlah institusi pendidikan dan organisasi kesehatan menyesuaikan program mereka dengan fokus pada penguatan kesiapan psikologis, bukan sekadar batas usia.
Kesimpulannya, redefinisi usia remaja mencerminkan realitas sosial modern. Ilmu pengetahuan menegaskan bahwa tumbuh dewasa adalah proses bertahap, bukan garis batas yang kaku.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


