Advertisement
Gaya Hidup

Manipulasi Konten Seksual AI Makin Marak, Akademisi UGM Imbau Publik Lebih Kritis

Manipulasi foto/video seksual berbasis AI kian marak, menargetkan perempuan dan mengancam anak. Ratna Noviani (UGM) menegaskan AI tidak netral, mereproduksi male gaze dan kekerasan berbasis gender; pengguna wajib kritis atas tiap klik, dan share.

TIMES Indonesia,
Manipulasi Konten Seksual AI Makin Marak, Akademisi UGM Imbau Publik Lebih Kritis
Ilustrasi Konten Seksual AI. (FOTO: Freepik)
A-AA+

YOGYAKARTA Fenomena manipulasi foto dan video seksual berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin meresahkan masyarakat. Teknologi yang awalnya dianggap kemajuan digital ini kini disalahgunakan untuk membuat konten seksual palsu secara cepat dan masif, menempatkan perempuan sebagai korban utama, bahkan mengancam keselamatan anak di ruang digital.

Akademisi UGM, Ratna Noviani, Ph.D., menegaskan bahwa kecanggihan AI bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan alat baru yang memperkuat kekerasan berbasis gender secara sistemik. “Ruang digital yang digadang sebagai ruang kebebasan sering menjadi medan baru reproduksi kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan seksual online yang masif, anonim, dan sulit dihentikan,” katanya, Jumat (9/1/2026).

Advertisement

Ratna menyoroti kontradiksi yang dihadapi perempuan di era digital. Di satu sisi, media sosial memberi mereka kesempatan untuk tampil dan bersuara. Namun di sisi lain, eksistensi visual tersebut kerap dijadikan “bahan baku” eksploitasi seksual digital.

“Perempuan didorong untuk visible, tapi visibilitas itu justru menjadikan tubuh dan citra mereka objek yang dikontrol, dieksploitasi, dan diserang,” tegasnya.

AI dan Budaya Male Gaze

Ratna menambahkan, praktik manipulasi konten AI hanyalah evolusi dari budaya voyeurisme yang berakar pada relasi kuasa gender timpang.

“Perempuan sejak lama diposisikan sebagai objek tatapan laki-laki. Morphing AI tidak mengubah logika male gaze, tetapi memperhalus dan melanggengkannya dalam bentuk visual digital yang lebih realistis dan invasif.”

Lebih jauh, Ketua Program Magister Kajian Budaya dan Media UGM ini menekankan bahwa teknologi digital dan AI tidak netral.

Advertisement

“AI dibangun dari data, desain, dan imajinasi sosial yang bias maskulin. Bahkan AI assistant sering digenderisasi feminin, mewakili kepatuhan dan pelayanan, yang menegaskan posisi perempuan sebagai objek,” jelasnya.

Untuk memutus rantai kekerasan ini, Ratna mengimbau masyarakat membangun kesadaran kolektif. Setiap tindakan menyukai, mengomentari, atau membagikan konten manipulasi AI bisa menjadikan seseorang pelaku sekunder.

“Kita harus menjadi pengguna AI yang kritis, sadar bahwa setiap klik, like, dan share punya konsekuensi etis dan politis,” paparnya. (*).

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

A. Tulung
PenulisA. TulungSarjana Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Tahun 2006 dan Magister Manajemen Universitas Teknologi Yogyakarta (2017). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia