Eksistensi Sanggar Asmorobangun, Pusat Pelestarian Tari dan Ukir Topeng Khas Malang
Sanggar Seni Asmorobangun di Pakisaji, Malang, terus melestarikan Wayang Topeng Malangan melalui pendidikan tari dan pembuatan topeng kayu lintas generasi.

MALANG – Di tengah arus modernisasi, Sanggar Seni Asmorobangun tetap teguh mempertahankan Wayang Topeng Malangan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Terletak di Jalan Prajurit Slamet, Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, sanggar ini tidak hanya menjadi pusat pembelajaran tari, tetapi juga episentrum pembuatan topeng kayu tradisional.
Di sebuah ruangan di halaman sanggar, deretan topeng kayu dengan berbagai karakter dan ekspresi tersusun rapi dalam etalase. Suara ketukan alat pahat yang beradu dengan kayu menjadi melodi harian bagi para pengrajin di sana.
Saat ini, Sanggar Seni Asmorobangun dikelola oleh Handoyo, pemegang tonggak estafet generasi kelima. Handoyo menceritakan bahwa sanggar ini dirintis oleh leluhurnya, Mbah Serun, pada tahun 1900.

Proses pengukiran topeng (FOTO: Dina Ayu Wahidiyanti/TIMES Indonesia).
Awalnya, sanggar ini bernama "Pendowo Limo" karena fokus mementaskan lakon Mahabharata. Namun, pada masa generasi ketiga di bawah kepemimpinan mendiang maestro Mbah Karimun, nama sanggar diubah menjadi Asmorobangun seiring dengan perubahan fokus tarian ke lakon Panji.
Dalam tradisi Wayang Topeng Malangan, tokoh Panji Asmorobangun menjadi sentral yang mengisahkan perjalanan cinta Raden Panji Inu Kertapati dengan Dewi Sekartaji. Gerakan tari yang halus namun bertenaga, dipadukan dengan topeng berwarna cerah, menjadi ciri khas yang tetap dijaga keasliannya.
“Tari Panji ini mengangkat kisah asmara antara Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji yang memang sudah dijodohkan sejak kecil,” tutur Handoyo, Selasa (24/2/2026).
Sejarah Lahirnya Kerajinan Topeng
Menariknya, Sanggar Asmorobangun pada mulanya tidak memproduksi topeng sendiri. Kemampuan mengukir ini lahir dari situasi darurat di masa penjajahan. Saat itu, pengurus sanggar harus mengungsi dan meninggalkan seluruh perlengkapan tari.

Topeng-topeng yang masih dalam proses pembuatan (FOTO: Dina Ayu Wahidiyanti/TIMES Indonesia).
Akibat tidak terurus, kostum dan topeng rusak dimakan rayap. Kondisi ini memaksa Mbah Karimun untuk belajar memahat topeng secara mandiri agar aktivitas kesenian sanggar bisa kembali berjalan.
“Dulu waktu penjajahan, semua mengungsi ke tempat aman. Perlengkapan ditinggal hingga rusak dimakan rayap. Untuk merintis kembali, Mbah Karimun akhirnya belajar membuat topeng sendiri,” ujar pria berusia 48 tahun tersebut.
Terbuka untuk Lintas Generasi
Hingga kini, denyut aktivitas di Kedungmonggo tidak pernah padam. Setiap hari Minggu, sanggar ini rutin menggelar latihan tari yang terbuka bagi siapa saja.
Bayu, salah satu pengukir topeng di sanggar tersebut, menjelaskan bahwa peserta latihan berasal dari berbagai latar belakang usia, mulai dari anak usia PAUD (4 tahun) hingga masyarakat umum. Namun, khusus selama bulan suci Ramadan, kegiatan latihan rutin ini diliburkan sementara.
“Latihan rutin setiap hari Minggu, semua boleh ikut. Mulai dari anak kecil sampai dewasa,” kata Bayu.
Menjaga seni tradisi di era gempuran budaya populer diakui Handoyo sebagai tantangan berat. Namun, Sanggar Seni Asmorobangun berkomitmen terus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal akar budayanya.
Ia berharap sanggar ini tetap menjadi ruang belajar yang inklusif sekaligus benteng pertahanan bagi warisan budaya Malang agar tidak lekang oleh waktu. (*)
pewarta: Dina Ayu Wahidiyanti
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

