Kenapa Februari Cuma 28 Hari? Begini Asal-Usulnya
Kenapa Februari cuma 28 hari? Simak asal-usul sejarah dan penjelasan ilmiah di balik bulan terpendek dalam kalender modern.

JAKARTA – Kenapa Februari cuma 28 hari? Pertanyaan ini sering muncul karena sebagian besar bulan dalam kalender memiliki 30 atau 31 hari. Jawabannya ternyata berkaitan dengan sejarah kalender kuno dan perhitungan astronomi yang digunakan hingga sekarang.
Asal-Usul dari Kalender Romawi
Awalnya, kalender Romawi hanya terdiri dari 10 bulan, dimulai dari Maret hingga Desember. Sistem ini kemudian direformasi pada masa Raja Numa Pompilius sekitar 713 SM dengan menambahkan Januari dan Februari.
Februari ditempatkan sebagai bulan terakhir dalam setahun dan diberi 28 hari. Dalam tradisi Romawi, bulan ini berkaitan dengan ritual penyucian, sehingga jumlah harinya memiliki makna simbolis.
Reformasi Kalender Julian
Perubahan besar terjadi pada 45 SM ketika Julius Caesar memperkenalkan kalender Julian. Kalender ini didasarkan pada perhitungan satu tahun Matahari sekitar 365,25 hari.
Untuk menyesuaikan kelebihan seperempat hari tersebut, ditambahkan satu hari setiap empat tahun yang kini dikenal sebagai tahun kabisat. Namun, Februari tetap menjadi bulan terpendek dengan 28 hari, dan 29 hari pada tahun kabisat.
Penyempurnaan Kalender Gregorian
Pada 1582, Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender Gregorian untuk memperbaiki selisih kecil dalam kalender Julian. Perhitungan tahun Matahari disempurnakan menjadi sekitar 365,2422 hari.
Meski ada penyesuaian teknis, jumlah hari dalam setiap bulan tidak diubah. Februari tetap mempertahankan 28 hari dalam tahun biasa.
Penjelasan Ilmiah
Secara astronomi, satu tahun tidak dapat dibagi rata ke dalam 12 bulan dengan jumlah hari yang sama tanpa menghasilkan kelebihan hari. Jika semua bulan memiliki 30 atau 31 hari, totalnya akan melebihi 365 hari.
Karena itu, satu bulan dibuat lebih pendek untuk menjaga keseimbangan kalender. Warisan sejarah membuat Februari tetap menjadi bulan dengan jumlah hari paling sedikit.
Februari 2026 memiliki 28 hari karena bukan tahun kabisat. Kombinasi sejarah Romawi dan kebutuhan penyesuaian dengan siklus Matahari menjadikan Februari unik dalam kalender modern.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


